Bagas mengangkat wajahnya perlahan, tatapannya campuran antara rasa bersalah dan sesuatu yang sulit diuraikan dengan kata-kata. Dia tampak seperti seseorang yang berusaha keras untuk menyembunyikan perasaannya, tetapi tidak cukup kuat untuk melakukannya. “Aku ingin bicara denganmu, empat mata,” ujar Sean, suaranya berubah lebih lembut, tetapi tetap ada ketegasan di sana. “Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan ke kamu, Bagas. Semoga kamu bisa menerimanya dengan lapang dada.” Bagas menelan ludah, lalu mengangguk pelan. “Iya, Kak.” Sean berdiri, tubuhnya yang tinggi dan tegap membuatnya tampak seperti seseorang yang tidak hanya memimpin tetapi juga melindungi. “Ikut aku, Bagas,” katanya singkat, lalu berjalan menuju ruang kerjanya. Bagas mengikuti di belakang, langkahnya lebih lamb

