Tangan Diana melingkar erat di leher Sean, seolah keduanya telah terpisah selama bertahun-tahun, meskipun kenyataannya hanya beberapa hari berlalu. Ada sesuatu yang berbeda ketika mereka bersama—kerinduan yang intens, perasaan yang membara, dan cinta yang tumbuh semakin kuat dengan setiap detik yang berlalu. Sean menatap mata Diana, bibirnya membentuk senyum lembut yang penuh kasih, lalu ia berbisik dengan suara serak yang dipenuhi rasa cinta. “I love you,” bisiknya lembut, sambil menyentuhkan keningnya pada kening Diana. Mata mereka bertemu, saling menelusuri, dan senyum tipis yang mengembang di wajah Diana membuat Sean merasakan debaran hangat di dadanya. “Aku juga, Uncle,” jawab Diana, matanya tak lepas dari tatapan Sean. Kemudian dengan nada sedikit jahil, ia bertanya, “Mau ajak

