Diana mengedip-ngedipkan matanya, sedikit terkejut tapi juga terbuai dengan kalimat serius yang baru saja meluncur dari bibir Sean. "Secinta itu, Uncle padaku?" tanyanya dengan suara setengah tak percaya, berusaha mencari kepastian di balik kata-kata yang terasa seperti mimpi.
Sean tersenyum lembut, lalu mengecup pipi kanan Diana, membuat hatinya berdebar kencang. "Ya, secinta itu... dan akan selalu secinta itu," jawab Sean, suaranya penuh keyakinan.
Senyum itu kembali terbit di bibirnya, senyum manis yang seolah dapat membuat Diana terserang diabetes akut jika setiap hari harus dihadapkan pada pemandangan semanis itu.
Mereka kemudian melangkah masuk ke dalam restoran, beriringan dengan langkah yang begitu kompak, seakan kaki mereka tahu bagaimana bergerak seiring tanpa perlu disuruh.
Setelah melewati lorong-lorong mewah, mereka akhirnya tiba di ruang VIP yang sudah dipesan khusus oleh Sean.
“Selamat malam dan selamat datang di Golden Resto. Silakan menunggu sebentar, lima menit lagi hidangan yang sudah dipesan akan segera kami sajikan,” sambut seorang pelayan dengan senyum ramah.
Diana dan Sean hanya mengangguk sambil duduk di kursi empuk yang telah disiapkan. Diana menarik napas panjang, kemudian matanya melirik layar televisi di sudut ruangan yang disediakan untuk karaoke. Tatapannya penuh arti, lalu ia menoleh ke arah Sean dengan senyum menggoda.
"Uncle suaranya jelek. Jangan coba-coba untuk karaokean kalau nggak mau aku pergi dari sini!" ancamnya setengah bercanda, namun cukup serius untuk membuat Sean tertawa kecil.
Sean tahu betul betapa Diana selalu mengejek suaranya yang tak bisa dikategorikan merdu. Meski memiliki paras tampan yang hampir sempurna, dia tidak diberkahi suara emas, dan Diana memastikan untuk mengingatkannya akan fakta itu—bukan opini semata.
"Iya, Sayang," jawab Sean sambil tersenyum sabar. "Kamu aja yang nyanyi, kalau mau."
Diana langsung menggeleng. "Nggak mau. Aku lapar. Mau makan aja, perutnya udah keroncongan," ucapnya sambil mengusap perut rata yang sempat dia pamerkan dengan bangga.
Sean terkekeh, menatap Diana yang begitu menggemaskan di depannya. "Terserah kamu aja, kalau begitu. Aku cuma menawarkan," ucapnya lembut.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang VIP terbuka, dan para pelayan membawa hidangan yang sudah dipesan oleh Sean. Aroma makanan menguar, menyentuh hidung mereka dan segera membangkitkan selera.
Mata Diana berbinar penuh kegembiraan saat melihat deretan makanan favoritnya yang berjajar rapi di meja.
"You are so perfect, Uncle. Tanpa perlu aku bilang, kamu udah tahu semua makanan yang aku pengen," kata Diana, suaranya penuh kekaguman. Sorot matanya menunjukkan betapa dia merasa dimanjakan oleh perhatian Sean yang selalu tahu apa yang dia suka.
Setelah para pelayan pergi, Diana, tak mampu menahan perasaannya lagi, langsung memeluk Sean erat-erat. Kebahagiaan begitu meluap di hatinya.
"Thanks, Uncle, untuk dinner malam ini. Ini sangat indah. Aku nggak akan pernah lupa momen ini... sampai kapan pun," ucapnya dengan tulus, seakan berjanji kepada dirinya sendiri bahwa kenangan ini akan terpatri selamanya.
Sean balas tersenyum, hatinya menghangat melihat betapa bahagianya Diana. "Selamat makan, Diana," ucapnya lembut. "Isi perutmu yang katanya sudah kosong dan teriak-teriak minta diisi," lanjutnya, menggoda dengan nada penuh kasih.
Diana terkekeh, kemudian mengangguk antusias. Ia langsung melahap beberapa makanan yang sudah terhidang di hadapannya. Aroma yang menggoda membuat perutnya semakin tak sabar. Daging lobster yang ia potong dengan susah payah langsung dilahap dengan penuh semangat.
Di tengah-tengah momen makan itu, Sean tiba-tiba mengubah nada bicaranya menjadi lebih serius. Matanya menatap Diana dengan tajam, namun masih penuh kasih sayang. "Jangan dekat-dekat sama Bagas lagi, ya. Kamu sudah jadi milikku sekarang," ucapnya dengan nada posesif yang sangat kentara.
Diana hanya mengangguk sambil tetap fokus membelah tulang lobster di tangannya. Dia tahu betul bagaimana sifat posesif Sean yang kadang membuatnya merasa terjaga, namun di sisi lain juga menghadirkan gelombang ketegangan.
Sean melanjutkan dengan lebih lembut, "Walaupun Bagas menawarkan untuk mengantar kamu pulang lagi, jangan mau. Pakai taksi saja kalau aku nggak bisa jemput."
Diana hanya tersenyum kecil, tidak menanggapi lebih lanjut. Fokusnya kembali pada lobster yang telah berhasil ia belah, dan dengan cepat, ia melahap daging yang menggoda di hadapannya. Perut yang sejak tadi berteriak kelaparan kini akhirnya terpuaskan.
Diana menghela napas dengan lembut, mencoba menahan gelombang emosi yang membanjiri dirinya setelah mendengar ucapan Sean. Matanya yang berbinar menatap lekat wajah tampan di hadapannya, tak mampu menyembunyikan rasa lega yang menyelimuti hatinya.
"Aku sama dia hanya teman, Uncle. Sudah lama sejak masih SMA. Dan harus Uncle tahu, aku ini cuma milik Uncle, dan Uncle adalah milik aku. Jadi, jangan coba-coba macam-macam, apalagi ngadi-ngadi. Aku bakal marah-marah di mana pun Uncle berulah," ujar Diana, setengah bercanda namun sarat makna.
Sean yang mendengarnya hanya bisa terkekeh. Ucapan kekasihnya itu begitu lucu, hingga tak bisa menahan tawa yang keluar begitu saja dari bibirnya. "Kamu ini, selalu saja bisa bikin aku tertawa," kata Sean sambil mengusap lembut punggung tangan Diana. Namun, tawanya perlahan mereda, digantikan dengan helaan napas panjang. Ia memandang Diana dengan sorot mata penuh keseriusan.
"Aku tidak pernah berulah kalau tidak ada yang memulainya. Jaga selalu hatimu kalau memang benar-benar mencintaiku. Karena tanpa kamu suruh pun, aku akan selalu mencintaimu. Only you."
Kata-kata Sean meresap dalam-dalam ke hati Diana, menenangkan gejolak cemas yang sempat melanda dirinya.
Keyakinan itu, janji tulus dari Sean, membuat Diana merasa seolah beban berat di pundaknya terangkat. Ia tidak perlu khawatir dengan Sean. Lelaki itu akan menjaga hatinya, sepenuh cinta yang telah mereka bangun bersama.
Suasana di ruangan VIP itu mendadak berubah, atmosfer romantis merambat di antara mereka. Udara seolah dipenuhi oleh getaran kasih yang tak terucapkan.
Mata Diana mengikuti setiap gerakan Sean, yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda kecil berkilauan dari saku celananya.
Cincin itu, berlapis berlian yang berkilau di bawah cahaya redup ruangan, membuat Diana terperangah, seolah waktu terhenti hanya untuk mereka berdua.
"Uncle?" panggil Diana dengan suara nyaris berbisik, matanya masih terpaku pada kilauan cincin itu.
Sean menatap dalam-dalam wajah perempuan yang telah mengisi hatinya selama ini. "Diana," ucapnya dengan lembut, suaranya penuh kasih.
"Kamu tahu, aku sudah mencintaimu sejak lama. Bahkan, cincin ini... sudah aku siapkan dua tahun lalu. Aku menunggu saat yang tepat, saat di mana perasaan ini akhirnya bisa diterima dengan baik oleh sang pemilik hati."