Jazlyn mengerjapkan matanya, menahan diri untuk tidak berkomentar. Istana Alastair pastilah luar biasa. Seharusnya Jazlyn bisa menebak hal ini dengan mudah. Dengan ego Alastair yang besar dan jiwanta yang angkuh, dia pasti tak suka jika istana yang menjadi simbol kekuasaan dan kemenangannya hanya berupa bangunan sederhana. "Terkejut?" tanya Alastair. "Tidak terlalu!" Jazlyn mengedikkan bahu ringan. Alastair dan segala sesuatu yang melatarbelakanginya tak pernah sederhana. Tak akan pernah. "Baguslah! Tidakkah kau mulai menyesal meninggalkanku dulu, Sia? Aku adalah calon pengantin yang ideal. Calon pengantin yang memiliki segalanya!" "Tidak selama tidak ada cinta. Yang kaumiliki hanya kesombonganmu belaka!" Untuk sejenaj, jiwa pemberontak Jazlyn terpancing dan mulai melawan kata-ka

