Malam yang kian larut itu tak terasa saking larutnya dalam cerita Leana. Ketika Leana menguap lebar, saat itulah mereka pun menyadari tubuh lelah. “Astaga. Sudah hampir tengah malam,” seru Lili melirik jam dinding besar yang menempel di atas televisi. “Kau harus tidur, Na,” lanjutnya. Kedua mata Leana memang sudah berat dan dia ingin tidur tapi dia melirik Alvaro yang sejak tadi lelap dengan nyaman di kamarnya. Leana menetap pintu itu. Seakan tahu apa yang dikhawatirkan putrinya. Lili berkata, “Kamu naiklah dulu, Na. Kamu butuh istirahat. Biar Alvaro kami atau para bibi yang mengantarkan jika Alvaro menangis nanti.” Leana sontak menoleh ke belakang, dan baru menyadari para ART menunggu di sana, mendengarkannya bercerita. “Iya, Nona. Nggak perlu cemas, kami akan menjaganya,” ujar

