Menenangkan diri sekali lagi dari hal-hal yang membuatnya tak bisa berhenti menangis. Ah, Leana yakin, matanya pasti sudah bengkak sekarang. Entah berapa lama pula dirinya membaca buku itu, tunggal di dalam kamarnya sendiri dan menghabiskan waktu. Leana mengusap sudut matanya yang masih basah. Setelah menarik napas panjang dan menghela perlahan, dia kembali membuka halaman berikutnya. Tangannya gemetar. Entah karena takut atau tak sabar akan apa yang akan dia baca selanjutnya. Halaman itu diawali dengan tulisan tangan Freya yang sedikit miring, seolah ditulis dalam tergesa atau dengan perasaan yang begitu mendesak. Ada sedikit noda tinta yang tampak tergores tak beraturan, seperti terkena tetesan air mata yang belum sempat mengering. My Dear Leana, Kali ini, aku benar-benar tak bisa di

