16. Pesta Kecil dan Bahasan Serius

1167 Kata
Suara MC kembali terdengar, kali ini lebih khidmat. “Kini kita akan mendengarkan janji suci dari kedua mempelai, sebagai tanda ikatan mereka dalam pernikahan yang sakral.” Leana menelan ludah perlahan. Tangannya masih digenggam erat oleh Melvin, dan saat dia menatap mata pria itu, waktu seperti berhenti sebentar. Pastor yang memimpin upacara tersenyum hangat. “Leana Violette, apakah engkau bersedia menerima Melvin Rayder sebagai suami yang sah, hidup bersamanya dalam suka dan duka, dalam sehat maupun sakit, serta mencintainya seumur hidupmu?” Leana menarik napas panjang. Suaranya lirih, tapi jelas. “Saya bersedia.” Tatapan mereka bertaut, dan dalam senyum kecil yang tumbuh di bibir Melvin, Leana merasa tenang seolah segala luka dan kebimbangan di masa lalu menjadi lebih ringan untuk ditanggung. Pastor lalu menoleh ke Melvin. “Melvin Rayder, apakah engkau bersedia menerima Leana Violette sebagai istrimu yang sah, menjaganya, menghormatinya, dan mencintainya sepanjang hidupmu?” Melvin tak langsung menjawab. Dia menatap Leana sejenak, lalu jemarinya mengecup tangan gadis itu sebelum berkata, pelan tapi mantap, “Saya bersedia.” Mata Leana memanas. Bukan karena janji itu begitu sempurna, tapi karena dia tahu, di balik suara Melvin yang tenang, ada kegugupan dan rasa tanggung jawab yang dalam. Dia tidak sedang berdiri di hadapan sahabat lama, tetapi di hadapan seorang pria yang perlahan mulai mengisi hatinya dengan cara baru. “Dengan ini,” ujar pastor sambil mengambil dua cincin dari nampan kecil, “kalian akan saling mengenakan lambang cinta dan janji.” Melvin mengambil cincin mungil itu dengan tangan sedikit gemetar, lalu menyelipkannya di jari manis Leana. Tangannya hangat, dan saat dia melakukannya, Leana merasakan sebuah getaran halus menjalari kulitnya. Kini gilirannya. Leana mengambil cincin untuk Melvin, dan menyematkannya pelan di jarinya. “Aku tidak pernah membayangkan bisa menikah denganmu … seperti ini,” bisiknya hampir tak terdengar. Melvin membalasnya dengan lirih, “Mungkin memang kita tidak merencanakan ini, Leana. Tapi aku tidak menyesal.” Pastor tersenyum. “Dengan restu Tuhan dan disaksikan keluarga serta para sahabat, saya nyatakan kalian sebagai suami dan istri. Silakan mencium pengantin wanita.” Aula pun bergemuruh oleh tepuk tangan. Leana menahan napas ketika Melvin perlahan mengangkat wajahnya, menatapnya dengan penuh rasa. Lalu dia mengecup dahi Leana, bukan ciuman penuh gairah, tapi ciuman penuh hormat dan pengakuan. Leana menutup mata sesaat, membiarkan rasa itu meresap ke dalam dirinya. Mungkin ini bukan awal dari kisah cinta yang klasik, tapi dia tahu, hatinya sedang mulai berubah arah. Resepsi kecil digelar tak jauh dari aula pemberkatan. Sebuah taman mungil dengan meja bulat dan bunga-bunga liar yang disusun sederhana tapi menawan. Leana berganti gaun putih yang lebih ringan, dengan rambut digelung separuh dan sisa riasan natural yang membuatnya tampak seperti seorang pengantin dari negeri dongeng. Di pangkuannya, Alvaro tertidur lelap, seperti tahu hari ini adalah hari yang penuh keajaiban. Melvin berdiri di dekatnya, tak menjauh satu langkah pun sejak mereka keluar dari altar. “Mau bicara dengan para tamu?” tanya Leana, mengamati wajah Melvin dari samping. Melvin meliriknya dan tersenyum. “Kau pikir aku tahu harus bilang apa? Biasanya kau yang pandai bicara.” Leana tertawa kecil. “Kita bisa mulai dengan ucapan terima kasih.” Melvin mengangguk, lalu menarik tangan Leana perlahan ke tengah taman. Mereka berdiri bersama di bawah lampu gantung kecil yang bergoyang lembut ditiup angin senja. “Terima kasih,” ucap Melvin dengan suara mantap, “karena sudah datang, dan memberi restu pada pernikahan kami. Ini mungkin bukan pernikahan yang biasa. Tapi bagi kami, ini adalah awal dari keberanian. Keberanian untuk menerima, dan memberi kesempatan pada cinta.” Leana menambahkan, suaranya gemetar tapi tulus, “Kami tidak tahu seperti apa masa depan, tapi kami akan menjalani hari demi hari, sebagai dua orang yang berusaha saling memahami, saling belajar, dan mungkin, saling mencinta.” Tepuk tangan kembali bergemuruh, kali ini lebih hangat, lebih tulus. Dan di antara semua itu, Melvin dan Leana saling menatap kembali. Tak ada janji mewah, tak ada mimpi-mimpi besar. Hanya dua orang yang berdiri berdampingan, perlahan membuka hati, untuk kemungkinan yang tak pernah mereka sangka, bahwa cinta, bisa saja tumbuh dari persahabatan, dan dari keberanian untuk memberi kesempatan kedua. Tamu yang hadir itu tidak banyak selain keluarga dan sahabat yang diundang Melvin, hanya 2 sahabat terbaik Leana yang selalu ada di saat masa terberatnya dulu, Nala dan Avena. Keduanya menghampiri Leana untuk mengucapkan selamat. Melvin melipir, bergabung dengan sahabatnya yang juga diundang beberapa olehnya. “Aku sungguh tak menyangka kau akan menikahi wali pasien aku, Na,” canda Avena. Leana tertawa. “Tapi syukurlah. Bayi ini adalah punya orang tua yang lengkap,” lanjutnya sembari membelai lembut kepala Alvaro di gendongan Leana. “Aku sempat khawatir bayi ini tidak mau menyusu pada siapapun, pada apapun, tapi sekarang aku tahu bahwa bayi ini adalah penghubung.” Avena datang sedikit terlambat jadi tidak sempat mengobrol dengan Leana saat dia tengah dirias. Tapi sekarang ketiganya saling berkumpul. “Aku sempat sakit hati, tapi melihat bagaimana Melvin begitu mendamba dengan tulus, aku yakin dia akan menjagamu dengan baik, Na,” giliran Nala yang bicara, berkomentar untuk hari indah itu. Leana tertawa kecil. “Terima kasih kalian sudah datang di acara sederhana aku ini,” katanya. “Apaan, Na? Ini luar biasa. Hanya beberapa hari setelah kau kembali, akhirnya jadi istri orang. Ah, aku sedikit … iri?” timpal Avena yang membuat Leana terkekeh lagi. “Ya, cari saja calonmu. Disini pun ada banyak sekali pria tampan, Ave, lagi pula, kau tak sendiri, ada aku,” balas Nala sedikit lirih, nelangsa yang ditanggapi tawa oleh Leana. “Tawamu mengejek,” komentar Nala, mencebik. “Ya, maaf. Pokoknya terima kasih udah datang. Kalian berseri untukku.” Kedua sahabatnya itu mengangguk. Mereka sempat berfoto bertiga, berempat dengan Alvaro. Kenangan itu harus diabadikan ketika Leana mengenakan gaun pengantin yang indah. “Oh, hei. Aku mau tanya sesuatu,” kata Leana pada Avena. “Soal apa?” tanya Avena. “Yang membantu persalinan ibunya Alvaro, siapa?” tanyanya hati-hati. Tapi pertanyaannya itu mengundang tatapan aneh dari kedua sahabatnya. “Kenapa?” Nala lah yang bertanya balik. Leana tak langsung menjawab, dia menatap Melvin di kejauhan yang tampak berbincang dengan tiga orang pria yang Leana pikir adalah temannya, rekan bisnis mungkin. “Aku ingin tahu bagaimana ibunya meninggal. Sebenarnya, ibunya adalah sahabatku dan Melvin. Kami bertiga bersahabat sejak lama,” aku Leana membuat Nala dan Avena saling pandang. “Apa maksudmu?” Nala tampak menuntut kali ini. “Aku akan mencari tahu rahasia yang dibawa bayi ini. Karena gen yang dibawa, bukanlah milik Melvin.” Itu kejutan yang dibagi oleh Leana pada dua sahabatnya itu. “Jadi, jika kau tahu sesuatu, tolong kabari aku, Ave,” katanya menatap Avane. Mereka diam untuk beberapa saat. “Kau, yakin, Na?” Nala kembali bertanya, memastikan. “Ya, aku yakin.” “Bagaimana jika kau terluka?” Avena yang bicara kali ini. Leana diam, tak segera menyahut. Perhatiannya tertuju pada Alvaro. “Ada Melvin, dan … ada kalian. Anak ini, harus bahagia dengan latar yang jelas,” katanya penuh tekad yang membungkam kedua sahabatnya. Bisakah Leana mengungkapkan misteri yang dibawa bayinya itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN