Bab 24

1912 Kata

Aku mondar-mandir sambil menggigit kuku tak jauh dari kamar Pak Leo. Di dalam sana Pak Leo sedang mendapat tindakan dari dokter kulit pribadinya. Berapa ratus kali pun aku menyalahkan diri tampaknya itu tak akan mengembalikan keadaan. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Entah berapa kali aku merutuki diriku yang ceroboh. "Kenapa aku bisa jatuh? Kenapa?" Kuhempaskan bokongku di kursi yang ada di sana dengan frustasi. Ingin rasanya menangis karena kecemasan yang membuatku tak bisa menahan diri. "Maaf, apakah kamu yang bernama Tari?" tanya dokter yang baru saja keluar kamar Pak Leo. "Iya Dok, saya. Gimana kabar Pak Leo? Apa mukanya Pak Leo gak kenapa-napa?" berondongku tak sabar. Aku sontak berdiri, menatap cemas ke arah pintu kamar yang tertutup. Dokter yang kutanya tersenyum ramah. "Tenang Tar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN