“Aku bukan takut soal hamilnya—mengingat dulu pas si kembar masih dikandung, aku juga baik-baik aja walau Mas masih pro Sierra. Bukan takut Mas bakal nggak ada lagi buatku kayak waktu itu, tapi ini salah satu, sih.” Sedang coba Seruni jelaskan walau agak belibet tentang perasaannya. Di mana Seruni rebah berbantalkan lengan Jagat, tubuh ditutup selimut sampai batas dadaa. Di dalam sana tentu tanpa sehelai benang. "Aku takut sama rasanya," imbuh Seruni. "Rasa sakitnya." Di hati. Jagat menatap Seruni. Sesekali mengusap helai rambut yang diselipkan ke belakang telinga wanita itu. Menyimak khidmat. Benar rupanya. Soal rasa sakit. "Dan rasa sakit itu akan terasa lebih sakit lagi, berkali-kali lipat, bahkan mungkin lebih dari yang sebelumnya kalau Mas gimana-gimana saat aku hamil. Aku nggak

