Siapa tuh?

1500 Kata
Ngapain gue overthinking begini sih?  Alaia benar-benar tidak menyangka pertanyaan teman suaminya kemarin berhasil membuatnya overthinking selama tiga hari tiga malam. "Baru gue mau nanya mantannya, eh malah 'dijawab' duluan" ujar Alaia sambil memotong ikan salmon yang ada di depannya.  Fokus Alaia! Fokus!!!  Alaia kembali memfokuskan diri pada pekerjaanya.  Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan olehnya. Bisa bekerja dengan chef-chef profesional. Ketika sedang sibuk memasak, terlintas dibenak Alaia untuk meminta bantuan. Ia pun dengan segera menyelesaikan pekerjaannya ini. "Tumben banget lu nelfon gue" ujar Marcel dengan gaya bicara selengan khas dirinya. "Iya gue pas butuh doang mau nelfon lu" ujar Alaia sambil melepas appron yang dikenakannya. "Butuh apaan lu?" tanya Marcel. "Butuh bantuan. Lu ada waktu kosong gak? Gue yang nyamperin lu ke rumah sakit gapap deh" ujar Alaia dengan tidak sabaran. "Dari suara lu kayaknya gak sabar banget nih. Butuh bantuan apaan sih?" tanya Marcel agak kepo. "Udah deh, gausah banyak nanya! Kapan lu punya waktu luang?" tanya Alaia. "Besok aja, gue agak longgar. Gue besok gaada operasi soalnya" ujar Marcel. "Emang mau nanya apaan sih?" tanya Marcel gemas pada Alaia yang nampak sangat ingin tahu. "Udah besok aja gue kasih tau"  "Biar si Marcel mau cerita, harus gue kasih sesajen biar mau buka mulut nih" ujar Alaia sambil berpikir keras makanan apa yang dapat membuat Marcel terlena dan mau membuka mulutnya. Begitu terlintas makanan yang dapat membuat Marcel, Alaia langsung bergegas menuju dapurnya dan segera membuatnya. "Nih" ujar Alaia sambil memberikan Marcel sebuah kantong plastik berukuran. "Hayuk sini, kita cari tempat" ujar Marcel sambil menerima kantong plastik tersebut dan mencari kursi kosong di taman rumah sakit. Ketika menemukan tempat duduk koson, Marcel buru-buru menduduki kursi tersebut dan mengajak Alaia untuk duduk di sebelah. Tanpa di beri aba-aba, Marcel membuka kantong plastik tersebut.  Raut bahagia terpancar dari wajahnya ketika melihat makanan kesukaannya terpampang dihadapannya. "Kapan lagi coba gue bisa makan pastel, risol, dan yang lainnya sebanyak ini dan gratis" ujar Marcel yang terharu melihat isi kantong plastik itu. Siapa yang bilang gratis hah? batin Alaia ketika melihat ekspresi Marcel. "Lu mau nanya apaan sih?" tanya Marcel. "Mantannya Erick" jawaban Alaia sukses membuat Marcel tersedak risoles isi daging asap yang baru saja digigitnya.  "Mantannya yang mana?" tanya Marcel. "Hmmm yang lagi di Belanda" ujar Alaia. "Mantannya .... yang lagi di Belanda....?" Marcel melihat ke kearah langkit biru sambil mengunyah risoles buata Alaia. "Ohhh!" pekik Marcel. "Laras" jawab pria itu cuek. "Dia bukan lagi kuliah di Belanda tapi, lagi jalan-jalan doang" ujar Marcel lagi. "Mau tau ceritanya gimana?" tawar Marcel. Alaia mengangguk antusias. "Mereka dulu pas masih kuliah pacaran. Beda jurusan ya. Tapi Laras dulu ya termasuk cewek hits gitu, jadi banyak yang suka sama dia. Mereka putus soalnya si Laras lebih milih cowok lain yg lebih okay dan tentunya dompetnya lebih tebel" jawab Marcel singkat, padat dan jelas. "Gitu doang?" tanya Alaia. "Iya, mau apaan lagi emangnya?" Marcel menikmati makanna yang dibawa oleh Alaia. "Emangnya Erick dulu kayak gimana?" tanya Alaia. "Ya dia gak culun-culun amat, dan dandanan dia juga gak norak kok. Cuman yang gitu, emang dasarnya Larasnya yang gatel aja" ujar Marcel. "Terus abis mereka putus udah gitu? Gak ada kontak" lagi?" tanya Alaia. Marcel menggeleng. "Erick udah gamau peduli lagi sama dia. Sama beberapa mantan iya, karena mereka putusnya baik-baik gituloh, gapake drama kayak pas sama laras" ujar Marcel. "Udah sih gausah cemburu gitu, lu juga ama Erick nikah dua tahun doang" ujar Marcel. Eh iya yah  Alaia baru saja menyadari hal tersebut. Gue gak cemburu cuman pengen tau aja mantannya siapa, kebetulan juga kemaren temennya nyeletuk soal mantannya Alaia mencari pembelaan pada dirinya sendiri. "Udah ah gue simpen, buat gue belajar nanti" ujar Marcel menutup plastik tersebut. "Mau nanya apaan lagi? "tanya Marcel semeblum dirinya meninggalkan Alaia. "Terus si Laras itu udah nikah?" tanya Alaia. Marcel menggeleng. "Gak jaminan cakep lakunya cepet" timpal Marcel. "Ya Erick waktu itu sempet sakit hati banget sih. Gimana gak? Direndahin abis-abisan begitu" ujar Marcel ang teringat oleh masa lalunya. "Dulu gue ngekos tuh soalnya jarak dari kampus ke rumah kan lumayan jauh. Erick pas baru-baru putus sering nginep di rumah gw. Alesan ke bokap-nyokapnya sibuk nugas padahal mah dianya galau abis" ujar Marcel. "Erick itu sekalinya cinta, you don't have to doubt him" ujar Marcel. Alaia terpaku dengan ucapan Marcel. "Sukurnya, biarpun patah hati abis, kuliahnya Erick gak sampe keganggu. Bayangin aja kalo sampe keganggu gitu, bakalan makin stress tuh anak" ujar Marcel. Ia tidak pernah menyangka jika Erick pernah punya cerita menyakitkan di masa lalu. Gue bilang juga apa! Untung gue gak nanya. Kalo ternyata Erick punya luka lama, yang ada pertanyaan gue seputar mantan malah bikin dia sedih Keputusan Alaia untuk tidak menanyakan Erick ternyata memang tepat. "Hoy!" Marcel menyenggol pundak Alaia dengan sikutnya. "Gue mau balik ya. Thanks!" ujar Marcel tersenyum jahil padanya. **** "Bu, ini laporan bulan ini" ujar sekretarisnya memberikan map yang berisi laporan bulanan restorannya. Alaia yang masih terdiam mematung di kursi kerjanya itu tersentak dengan tepukan di pundaknya. "Maaf bu saya tepuk. Ibuunya diem aja" ujar sekretarisnya. "Eh iya gapapa kok" ujar Alaia yang sudah kembali sadar dari lamunannya. Cerita masa lalu Erick oleh Marcel kemarin masih terngiang-ngiang di benaknya.  Sedih juga masa lalunya Tidak di sangka Erick senasib dengan dirinya. Ia tidak mau membandingkan mana yang lebih tragis. Sama-sama ditinggalkan begitu saja oleh orang yang dicintai bukan perkara mudah. Apalagi baik Alaia dan Erick sudah menaruh kepercayaan pada pasangan mereka masing-masing. Ia melirik ponselnya yang tergeletak begitu saja di meja kerjanya.  Gue telfon Erick apa gak ya?  Belum sempat memutuskan, ponselnya berdering. Alaia langsung mengambil ponselnya. Erick calling .... "Tumben banget belom di telfon udah nelfon duluan" ujar Alaia lalu segera mengangkat telfonnya.  "Halo" sapa Alaia. "Halo Ya. Bisa tolong kirimin sepatu aku gak?" tanya Erick langsung ada intinya. "Sepatu kamu yang mana? Aku lagi gak dirumah soalnya" ujar Alaia. "Sepatu pantofelku, kemaren gak aku bawa, kelupaan. Nanti aku fotoin ke kamu deh" jawba Erick. Mendengar suara Erick, Alaia jadi teringat dengan apa yang Marcel ceritakan tadi. Kok bisa ya di sakitin begitu?  "Okay okay. Emangnya buat apa?" tanya Alaia. "Aku kan nanti mau ujian akhir, daripada nanti kelupaan lagi, mendingan aku minta kamu kirimin dari sekarang aja. Takut-takut nanti kamu sibuk gak bisa ngirimin aku" ujar Erick. "Hmm okay-okay. Mau dikirimin apa lagi?" jawab Alaia. "Gak ada. Itu aja kok" jawab Erick. Keduanya terdiam untuk beberapa sata. "Yaudah, aku mau belajar lagi ya. Take care" pamit Erick. "Iya. Kamu juga ya" Alaia pun langsung memutuskan sambungan teleponnya. Meskipun sepakat menikah tanpa cinta, tapi Alaia dapat merasakan ketulusan Erick. Erick masih bisa menghargainya, apapun keputusan yang Alaia buat. **** Tentunya saja Erick tidak akan melewatkan sedikitpun untuk belajar. Berjuang mati-matian agar bisa luus dna mewujudkan impiannya menjadi seorang dokter bedah ortopedi. "Serius banget nih" ujar temannya yang tiba-tiba datang menghampirinya. "Wey! Ke sini juga lu?" tanya Erick sambil mempesilahkan temannya untuk duduk. "Eh gue ikutan ya" ujar Laras yang tiba-tiba ikut menimbrung. Erick kaget dengan kehadirna Alaia yang tiba-tiba menarik kursi disampingnya. "Menjauh dari gue sebelum gue lempar pake nih buku" ujar Erick dengan nada dingin pada mantan kekasihnya itu. Laras pun mendorong kembali kursinya dan menarik kursi lain, mengambil jarak tiga kursi dari Erick. Temannya benar-benar tidak habis pikir Erick bisa-bisanya menjadi begitu dingin dengan mantna kekasihnya. Udah tau gue udah punya bini, masih aja usaha batin Erick yang kembali foksu belajar. Laras hanya duduk sambil melihat-lihat perpustakaan.  Tentu saja ia tidak tertarik untuk membaca buku-buku tebal yang ada di sana. Sungguh bukan seorang Larasati. Begitu melihat Laras pergi sebentar untuk ke kamar kecil, Erick langssung mencecar temannya itu. "Lu ngapain ngajakin dia kemari sih?" bisik Erick agar suaranya tidak mengganggu ketenangan di dalam perpustakaan. "Gue gak ngajakin! Gue aja gak tau lu dimari! Udah gitu, dianya aja ngikutingue sendiri, udah gue bilangin gue mau belajar" ujar temannya.  "Udah tau juga gue udha nikah, masih aja" ujar Erick kesal. "Emang dia coba deketin lu?" tanya temannya. "Iya! Kemaren pertama kali gak sengaja aketemu di cafe, terus kedua kali pas gue lagi belanja. Demi apapun jangan coba-coba jadi pelakor deh ya" ujar Erick. "Dia mah emang mentalnya pelakor Rick" ujar temannya. Erick langsung menoleh dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu. "Dia udah dua kali jadi pelakor. Dan herannya, dia masih bisa gitu masang muak tebel" ujar temannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika melihat Laras kembali, keduanya langsung berhenti dan kembali belajar. Erick sengaja menyisakan beberapa latihan soalnya untuk ia kerjakan dirumah agar ia bisa lebih dulu pulang. "Eh bro, gue balik duluan ya. Gue harus ke rumah sakit nih" ujar Erick sambil memasukkan buku dan laptop miliknya kedalam tasnya. Erick pamit pada temannya dan langsung pergi meninggalkan perpustakaan tanpa mau melihat lagi ke arah Larasati. "Dia kenapa sih kok galak, kasar dingin banget sama gue" ujar Laras kesal dengan sikap Erick padanya.. "Ya mikir dong pake otak dulu lu apain dia? Emang dia gak kesel? Dia juga udah nikah lagi. Lu kegatelan banget" sahut emannya. "Emangnya istrinya siapa sih?" tanya Laras kesal. "Alaia Taraya" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN