Kenalan Yuk (2)

1500 Kata
"Heh, beneran rumah orang tua kamu?" tanya Erick yang tidak percaya melihat penampakan luar rumah calon mertuanya. "Iya" jawab Alaia datar. Nekad juga gue ngajakin nikah anak orang kaya  batin Erick sambil melirik Alaia sekilas. "Kamu gak perlu ngerasa sungkan atau merasa rendah gitu. Orang tuaku gak mandang harta kok urusan calon mantu" ujar Alaia sambil keluar dari mobil Erick.  Ketika keduanya keluar dari dalam mobil, seorang pembantu rumah tangga menghampiri Alaia.  "Mbak, ini bawa ke dapur" Alaia menyerahkan dua kantong plastik besar pada pembantu rumah tangga tersebut. "Ayo masuk" dengan luwes Alaia menggandeng tangan Erick untuk masuk ke dalam kediaman orang tuanya. Begitu menginjakkan kaki ke ruang keluarga, Erick begitu takjub melihat interior rumah berkonsep minimalis, namun mewah ini.  "Kamu duduk aja. Biar aku panggilin orang tua aku" ujar Alaia yang melenggang masuk ke dalam rumahnya. Sama seperti yang di lakukan Alaia ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumahnya, Erick melihat-lihat foto keluarga yang terpampang di ruang keluarga. Banyak sekali foto-foto keluarga dengan latar belakang landmark  suatu negara. "Emang bener-bener anak orang kaya nih anak" ujar Erick. Suara langkah kaki membuat Erick segera menghentikan aktivitasnya. "Pa, kenalin ini Erick" ujar Alaia memperkenalkan Erick pada Yudha, ayahnya. "Pagi Om" Erick menjabat tangan Yudha.  Pria paruh baya yang usianya kurang lebih seumuran dengan ayahnya ini memperhatikannya. "Silahkan duduk dulu ya, Papa mau panggil Mama" Yudha berbalik badan untuk memanggil istrinya. Erick pun kembali duduk di temani Alaia. Beberapa saat kemudian, Yudha datang bersama istrinya, Gina. Wanita itu langsung berjabat tangan dengan Erick. Yudha dan Gina duduk bersebrangan dengan Erick dan Alaia. Suasana canggung memenuhi atmosfer ruang tamu, sampai akhirnya seorang pembantu rumah tangga datang membawa minuman dan makanan kecil untuk Erick. "Silahkan di minum Nak Erick" Yudha mempersilahkan Erick untuk terlebih dulu mengambil minumannya. Cangkir bergaya Eropa kuno yang ada di hadapannya semakin membuat Erick menyadari dirinya ini sudah benar-benar gila mengajak Alaia menikah. Seharusnya gue cari tua dulu ya Aya latar belakang keluarganya gimana, ini malah langsung gue tembak aja batin Erick.  "Om dengar dari Aya, sekarang Nak Erick masih kuliah spesialis di Belanda?" tanya Yudha dengan bahasa yang sangat sopan. "Iya Om, saya ambil spesialis bedah ortopedi. Kurang satu setengah sampai dua tahun lagi lulus" ujar Erick. Sejujurnya ia tidak dapat menahan rasa grogi yang menyelimuti dirinya.  Di lihat dari penampilan kedua orang tua Alaia, dapat di pastikan bukan sembarang orang. Yudha dan Gina mengangguk-angguk mendengar jawaban dari Erick. "Di Jakarta tinggal dimana Erick?" tanya Gina dengan lembut. "Di Lebak Bulus, masih sama orang tua kok Tante" jawab Erick. Lagi-lagi, Yudha dan Gina hanya merespon jawaban Erick dengan anggukan saja. "Kita ke taman belakang aja yuk. Biar enak" ujar Gina yang merasa suasana begitu canggung.    Lagi-lagi Erick di buat takjub dengan taman belakang di kediaman orang tua Alaia ini.  Berbagai tanaman hias dan bunga-bunga menghiasa taman belakang. Mama kalo di ajak ke sini pasti seneng bukan main nih batin Erick. "Kita duduk-duduk di gazebo aja ya, agak mendung ini takutnya gerimis" ujar Yudha sambil berjalan menuju sebuah gazebo dengan suasana rindang yang berada tepat di dekat kolam renang. Asli kalo gue ceritain ke Marcel, pasti dia bakalan bilang gue nekad abis batin Erick. "Ayo Erick silahkan duduk" Gina mempersilakan kekasih bohongan Alaia untuk lebih dulu memasuki gazebo. "Nah kalo di sini lebih enak. Biasa Om sama Tante, kadang sama Alaia juga kalo lagi ke sini sukanya ngumpul di sini biar lebih relaks. Kalo di ruang tamu tadi kayaknya formal banget" ujar Yudha dengan gaya bicara yang lebih lunak.  Keempatnya bertukar cerita dengan sangat santai di gazebo tersebut. Erick yang tadinya merasa canggung jadi lebih santai terbawa suasana. Orang tua Alaia tidak semenakutkan yang ia bayangkan.                                                                                                ****   "Jadi gimana?" tanya Erick pada kedua orang tuanya. "Kamu bisa-bisanya dapet pacar posisinya gak main-main gitu?" tanya Desy tidak percaya. Belom aja Mama Papa liat orang tuanya Alaia batin Erick. "Haduh Ma, emang itu penting banget?" tanya Erick dengan nada malas. "Ya penting dong. Bukan masalah kamu harus selalu lebih dari dia, tapi kok ya bisa gitu. Marcel gaulnya boleh juga sampe bisa kenal perempuan macam Alaia gitu" ujar Desy lagi. "Halah, udah deh intinya sekarang Papa sama Mama gimana?" tanay Erick sambil menatap bergantian kedua orang tuanya. "Setuju" ujar Hadi dengan tegas dan lugas pada putranya itu. "Papa dan Mama setuju kamu sama Alaia. Lanjutin aja. Papa dan Mama nungguin kabar dari pihak sana juga. Kalo oke, ya udah kmau lanjut aja sampe nikah" ujar Hadi. Erick tidak menyangka orang tuanya menerima Alaia begitu cepat dari yang ia perhitungkan. Awalnya, Erick berpikir bahwa orang tuanya mungkin butuh beberapa kali pertemuan dengan Alaia sebelum akhirnya memberikan lampu hijau padanya.  Namun ternyata dengan sekali bertemu saja, kedua orang tuanya ini langsung setuju.  "Apa yang bikin setuju?" tanya Erick. "Bukan karena siapa Alaia. Tapi karena ramahnya, baiknya, dan santunnya yang bikin setuju"                                                                                         **** "Jadi menurut Mama sama Papa gimana?" tanya Alaia. "Maksudnya?" tanya Gina dengan kening berkerut sambil asyik menyulam.  "Ya maksudnya, Erick gimana?" tanya  Alai pada kedua orang tuanya. "Ohh itu" Gina mengangguk mengerti tanpa memalingkan wajahnya dari sulamannya. "Papa sih oke" sahut Yudha tanpa di minta. Alaia menoleh ke arah ayahnya. "Anaknya baik, sopan, dan santun juga" ujar Yudha. "Sama. Mama juga setuju. Mungkin, Erick latar belakang keluarganya gak seperti kita. Tapi dia well mannered kok" ujar Gina. "Kamu kenal dia darimana?" tanya Gina lagi. "Di kenalin temen Ma" jawab Alaia. Ohh gue gak tentunya gak baklan bilang ke nyokap gue kenal Erick gara-gara gue asik minum di bar waktu itu batin Alaia. "Kamu udah ketemu orang tuanya?" tanya Yudha sambil menoleh pada putrinya itu. Alaia mengangguk mantap.                                                                                         **** "Bagus, orang tua kita udah setuju" ujar Erick yang benar-benar puas dengan first trial yang ia dan Alaia lakukan. "Abis ini kita ngapain lagi?" tanya Alaia sambil memotong siomay buatannya. "Abis ini aku kan balik lagi ke Belanda, jadi aku mikirnya lebih baik aku lebih sering ketemu sama orang tua kamu. Nanti setelah aku pergi, kamu pdkt aja sendiri sama orang tua aku. Kalo bisa rajin-rajin kirimin makanan, kalo perlu masak bareng ama mamaku" ujar Erick. Alaia mencerna tiap arahan yang di berikan oleh Erick padanya. "Oh ya, kamu belu baca isi perjanjian yang udah di revisi kan?" tanya Alaia yang beralih mengambil iPad yang tergeletak tidak jauh darinya itu, lalu memberinya pada Erick. "Aku udah hubungin dan konsultasi sama pengacaraku. dia bilang setuju karena menguntungkan aku sam akamu. Apa ada lagi yang mau kamu tambahin?" tanya Alaia pada Erick yang tengah membaca isi perjanjian itu. Erick membaca isi perjanjian itu dengan seksama. Kalo lagi serius begini ganteng juga Apa dia juga begini di rumah sakit? Waktu lagi dengerin penjelasan pasien? Pas lagi belajar? Pas lagi fokus operasi? Alaia membatin sendiri melihat Erick yang serius mambaca.  "Okay, aku setuju. Tolong kirim ke email aku terus cc ke pengacarku ya? Kamu masih simpen email pengacara aku kan?" tanya Erick. Alaia mengangguk. Jika Erick masih tertidur pulas di sofa apartemennya, Alaia sedang berjibaku di dapur untuk membuat camilan sore hari. Dengan resep masakan yang sudah di luar kepala, Alaia membuat roti croissant untuknya dan Erick. "Wangi banget nih" suara bariton Erick membuat Alaia sedikit kaget. "Mau mandi atau mau cuci muka aja?" tanya Alaia sambil sibuk mengoleskan mentega di permukaan adonan croissant yang akan di masukkan ke dalam oven. "Cuci muka aja eh mandi deh" ujar Erick.  "Abis aku masukin ini ke oven, nanti aku siapin alat mandinya. Kamu mandi di kamar tamu aja ya" ujar Alaia. Setelah memasukkan adonan ke dalam oven, Alaia bergegas menuju kamar tamu untuk menyiapkan peralatan mandi untuk Erick. Setelah selesai, Alaia keluar dari kamar tersebut dan bergegas untuk mandi agar setelah selesai mandi, ia dan Erick bisa langsung menyantap roti buatannya. "Jaid kamu anak tunggal?" tanya Erick setelah menyesap teh bunga melati yang id buatkan oleh Alaia. "Iya. Sebenrnya waktu aku umur lima tahun Mama sempet hamil lagi. Tapi keguguran karena kandungannya lemah banget" ujar Alaia. "Sejak saat itu Mama udah gamau nambah anak lagi. Jadi ya aku jadi anak tunggal begini" tambahnya lagi. "Enak dong kamu punya adek" Alaia beralih menatap Erick. "Iya kalo adeknya bukan kayak Cantika mah enak" ujar Erick sedikti sewot. Alaia tidak bisa menahan tawanya. "Kerjaannya belanja mulu. Heran, bukannya nabung" ujar Erick. "Ya makanya dia bisa belanja karena dia nabung" sahut Alaia yang masih tergelak. "Kalian bedanya jauh juga, sepuluh tahun gitu" ujar Alaia. "Padahal udah enak loh aku selama sepuluh tahun jadi anak tunggal" ujar Erick lagi. "But yeah, no matter how many times we fight, she'll always got my back and if anyone tries to break her heart, I'm going to break their bones" uajr Erick sambil menerawang pada langit senja yang indah cerah. "Nih kalo minum kopi uda cocok banget jadi anak senja" ujar Erick sambil meletakkan cangkir tehnya di atas piring penadahnya. "Enak jadi anak tunggal?" tanya Erick. "Ada enak dan gak enaknya. Tapi kalo menurutku, lebih banyak gak enaknya" ujar Alaia kemudian menyeruput teh hangat miliknya. Erick nampak sangat menikmati roti buatan Alaia. "Karena aku anak tunggal begini makanya ...." "Apa?" "Aku mau punya anak lebih dari dua"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN