Setahun yang lalu, ia nekad menikahi wanita yang baru dikenalnya selama 2 minggu.
Dan kali ini pertama kalinya Erick mencicipi masakan dari restoran Alaia, yang dimasak langsung oleh Alaia sendiri.
"Enak?" tanya Alaia.
Erick mengacungkan jempol tangannya.
"Kamu kenapa tertarik jadi dokter?" tanya Alaia tiba-tiba.
Erick menoleh kearah istrinya sambil menenggak minumannya.
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu?" tanya Erick dengan ekspresi datar.
"Aku melulu yang cerita, sekali-seklai kamu dong" jawab Alaia dengan nada manja.
Gemes banget, pengen gue cium rasanya!
"Dulu waktu aku kecil, aku di titipin sama suster, soalnya Papa sama Mama nganterin Nenek aku yang sakit. Karena masih kecil, jadikan gak bisa asal ikut ke rumah sakit. Satu kali, aku ngerengek minta ikut Nenek berobat, pengen liat Nenek aku berobatnya gimana. Akhirnya di ajak sama Mama ke rumah sakit, di sana pas ngeliat dokter meriksa Nenek aku terkesima sendiri. Nagih pengen ke rumah sakti melulu jadinya, asik gitu ngeliat cara dokter kerja. Dari situ aku pengen jadi dokter" jawab Erick.
"Terus kenapa pengen ambil spesialis ortopedi?" tanya Alaia lagi.
"Seru. Pas aku masih jadi dokter umum, sering dapet pasien di UGD yang patah tulang. Dari situ tertarik, dan akhirnya ambil spesialis itu" ujar Erick.
"Bukan karena gajinya gede?" tanya Alaia.
"It was one from many reasons why I took it" jawab Erick sambil mengedipkan sebelah matanya.
Alaia hanya tertawa mendengar jawaban Erick.
"Terus, how was your days as a med student?" tanya Alaia sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya.
Erick pun menceritakan kehidupannya sebagai mahasiswa kedokteran.
Dari kisah bahagia, kocak, menegangkan, horror, hingga kisah mengharukan, semua diceritakan olehnya.
Alaia larut dalam cerita Erick.
"Ya gitu deh kira-kira" ujar Erick.
Sejujurnya, Alaia tidak hanya terhipnotis oleh cerita Erick, namun juga Ericknya sendiri.
Erick benar-benar lepas.
Ia begitu rileks pada momen ini.
Tertawa lepas seakan tidak ada beban dalam hidupnya.
Kenapa begini malah bikin makin jatuh hati?
Di sela-sela cerita Erick, sempat terlintas dibenak Alaia tentang patah hati Erick dengan Laras.
Tentu saja suaminya itu tidak menceritakan apa yang terjadi dengan mantan kekasihnya di masa lalu itu.
Bisa-bisa dia ketawa lepas pas nyeritain semuanya. Gak kebayang sakitnya dia waktu di gituin sama mak lampir batin Alaia.
Tingkah Erick malah membuatnya semakin jatuh hati.
Sedangkan pernikahan mereka akan berakhir satu lagi, dan Alaia tiba-tiba jadi takut sendiri jika perasaanya pada Erick malah semakin dalam.
"Rick" panggil Alaia di sela tawa Erick.
Erick hanya menatap Alaia sambil mencoba menahan tawanya.
"Kamu udah gak kontak-kontakan lagi sama temen-temenmu di Belanda?" tanya Alaia dngan nad apelan.
Tawa Erick seketika surut.
Ia menatap istrinya sebentar lalu menghela napas.
"Masih kok. Cuman sebagian aja yang enggak" jawab Erick.
Alaia tahu maksud Erick ketika suaminya itu mengatakan "sebagian aja yang enggak" sudah pasti mereka adalah gerombolan wanita yang seenaknya mencaci maki dirinya.
Alaia hanya mengangguk.
"You know what, sekarang kena karmanya sendiri" ujar Erick.
Kedua bola mata Alaia seketika membulat.
"Malah mereka berempat yang MBA" ujar Erick dengan nada sengau.
Alaia terkejut ketika mengetahui hal tersebut.
"Makanya ya, pelajaran buat kita. Jangan suka ngomongin yang belum tentu pasti, apalagi sampe napsu banget hakimin orang lain. Kena batunya sekarang" ujar Erick menasehati istrinya itu.
Alaia hanya mengangguk-angguk ketika Erick memberinya wejangan.
"Udah ah, ganti topik" ujar Erick sambil megibaskan tangannya ke udara.
Alaia berpikir keras topik apa yang akan ia bicarakan dengan Erick.
Tapi nyatanya ia benar-benar kehabisan akal mencari bahan obrol dengan Erick.
"Ya, kita pulang yuk"
****
Tidak pernah disangka, berkendara malam-malam bersama Alaia bisa semenyenangkan ini.
"Enak juga ya semacem night ride begini" ujar Alaia sambil menikmati angin malam yang masuk lewat sun roof mobil Erick.
Erick hanya tersenyum sambil menyetir.
"Rick, jajan yuk" ujar Alaia sambil menepuk lengan Erick.
"Jajan?" tanya Erick dengan nada terlonjak.
Jajan? Gila juga dia ngajakin 'jajan' batin Erick.
"Yuk! Sate taichan enak nih" ujar Alaia.
Erick melongos begitu mengetahui jajan yang di maksud Alaia adalah membeli makanan.
Emang dasar otak m***m! Erick mengutuk dirinya sendiri.
"Ayok-ayok kita cari. Kalo gak ada mau makan apa?" tanya Erick.
"Sate ayam, sate kambing atau makanan kaki lima juga boleh" ujar Alaia dengan nada riang.
"Hah? Sate kambing? Abis makan steak terus jajannya sate kambing? Gila!" ujar Erick.
"Dimana-mana kalo jajan itu ya makanan ringan, batagor kek, siomay kek, kalo gak ya chiki-chiki gitu. Malah sate kambing, jangan bikin kolestrol naik deh" ujar Erick.
Alaia hanya tertawa mendengar jawban Erick.
Meski berada di dalam mobil dan gelap, namun Erick masih bisa melihat senyuman manis Alaia yang lepas dan begitu tulus.
"Pak sate ayamnya dua porsi ya, jadiin satu piring aja" ujar Erick setelah duduk di warung kaki lima.
Keduanya setuju untuk 'jajan' sate ayam di pinggir jalan.
"Gak usah pake lontong Pak" teriak Alaia lagi.
"Minumnya ini aja" Alaia menaruh botol minumnya yang selalu ia bawa kemana pun, dimana pun dan kapan pun.
Erick hanya mengangguk ketika melihat botol minum berwarna jingga milik istrinya itu.
"Jarang-jarangkan kita bisa jajan bedua begini" ujar Alaia.
"Iya. Aku kalopun bisa, ya paling sama dokter lain yang ada operasi malam aja" uajr Erick sambil mengusapkan tangannya dengan hand sanitizer.
"Silahkan Pak, Bu" ujar seorang wnait ayang membantu suaminya berjualan sate menaruh piring pesanan Alaia dan Erick.
Keduanya asyik menikmati jajanan mereka diselingi dengan gelak tawa keduanya.
Tanpa terasa sate yang mereka pesan itu hampir habis.
"Asli, kenyang banget" ujar Alaia sambil mengelus-elus perutnya.
"Aku bayar aja ya sekarang" Erick mengangkat tangannya, mengisyaratkan memanggil penjual sate untuk membayar pesanannya.
Setelah membayar pesanannya, keduanya langsung masuk ke dalam mobil.
"Kamu udah ngantuk?" tanya Alaia tiba-tiba.
"Belom, kenapa emangnya?" tanya Erick sambil menutup pintu mobil.
"Kalo ngantuk ya kita nginep aja di hotel dulu" ujar Alaia.
Erick terkejut dengan usulan Alaia.
"Ya, kalo kita ke hotel sekarang aku gak bawa kondom" ujar Erick.
Alaia langsung menoleh ke arah suaminya dengan mata melotot.
"Yee!! Siapa juga mau ngajakin kamu begituan! Maksud aku ya kalo kamu udah ngantuk, mendingan kita nginep aja di hotel terdekat! Biar aman! Bukannya mau ngajakin kamu begituan!" omel Alaia.
Erick tertawa lepas mendengar omelan Alaia.
Meski terdengar berisik, namun inilah yang membuat Erick rindu dengan Alaia jika ia harus berjauhan dengan istrinya ini.
"Kamu sendiri udah ngantuk belom?" tanya Erick.
"Belom, tapi kalo abis makan banyak begini, aku kurang lebih bakalan ngantuk di jalan sampe rumah" ujar Alaia.
"Setel lagu dong" ujar Erick.
Alaia pun mengeluarkan ponselnya dan mmeutar lagu dari aplikasi Spotify miliknya.
"Kamu suka lagu apa?" tanya Alaia sambil mencari-cari lagu.
"Apa aja, asal jangan bikin ngantuk ya. Biar semangat nyetir sampe rumahnya" ujar Erick.
Alaia hanya mengangguk-angguk sambil mencari lagu di ponselnya itu.
"Lagu Korea ya!" ujar Alaia riang.
nareul barabol ttaen saljjak unneun
Senyuman sekilasmu saat kau tengah menatapku
iksukae jil su eomneun geureon seollem
getaran seperti itu, aku sungguh tak biasa karnanya
amureochido aneun nae ilsang soge
Dalam keseharianku yang tak ada apa-apa di dalamnya
seumyeodeureo nal saragage han saram
Kau adalah orang yang meresapiku dan membuatku hidup
gachi geonneun geollodo
Meski sekedar berjalan bersama
gachi inneun geollodo
Meski sekedar bersama-sama
mae sungani neomu beokchaolla
Setiap saat terasa begitu menyesakkan adanya
gachi soneul japgoseon
Saat kita saling bergendengan tangan
gachi nuneul matchul ttaen
Saat kita saling beradu pandang
neoreul saranghandan mal bakken
Aku hanya bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu
nan sasil saranghandan mallon bujokae
Sebenarnya aku begitu payah dalam mengatakan kata cinta
ireon mareun neomu dadeul hajana
Kata seperti ini, semua orangpun pernah mengatakannya
neoege saranghandan mareul hajiman
Aku mengatakan kata cinta itu kepadamu, namun
nae maeumeul da damjin mothandago
Aku tak bisa menaruh segenap hatiku di dalamnya
Alaia tersenyum sendiri ketika lagu itu berdendang dimobil.
neoreul mannan hubuteon
Setelah aku berjumpa dirimu
jakku useumi mana
Aku begitu sering tersenyum
jubyeon saramdeureun byeonhaetda hae
Orang-orang di sekitarku bilang bahwa aku sudah berubah
akka heeojyeonneunde
Kita berpisah baru sesaat saja
beolsseo bogo sipjana
Namun aku sudah merindukanmu
uri sarangeun jom teukbyeolhae
Cinta kita, itu sedikit istimewa adanya
"Judul lagunya apa Ya? Enak nih lagunya" tanya Erick.
"More than words" jawab Alaia.
Tiba-tiba suasana mobil menjadi begitu hening.
Peka dikit kenapa sih kalo di kodein batin Alaia sambil melirik Erick yang fokus menyetir.
Maksudnya apa coba nyetel lagi itu? No words could describe hoe how much she loved me? batin Erick.
Suasan hening itu akhirnya buyar ketika keduanya sampai di rumah.
Alaia langsung turun dari mobil dan segera menuju kamarnya untuk mmebersihkan diri sedangkan Erick sibuk mengunci pagar rumah dan pintu garasi.
Sampai di kamar, Alaia segera membersihkan sisa riasannya dan bersiap untuk mandi.
Tidak lupa ia menyiapkan pakiaan tidur Erick, baru kemudian ia bergegas mandi.
Selesai mandi rupanya Erick sudah menunggu gilirannya untuk mandi.
Alaia yang sebenarnya sudah mengantuk ini tidak mau melewatkan ritual malamnya menggunakan skincare.
Ritual rutinnya ini terbukti membuat kulit wajah dan tubuhnya jauh lebih baik.
Alaia sudah bersiap tidur ketika Erick baru keluar kamar mandi sambil menguap.
Erick menaruh handuk basahnya di rak handuk di balkon kamar mereka, dan kemduian berjalan menuju tempat tidurnya.
"Rick, aku gak lupa kok" ujar Alaia.
"Lupa? Lupa apaan?" tanya Erick sambil menoleh dengan ekspresi tidak mengerti
"Today, our first anniversary" jawab Alaia.
"Thanks for the past one year"