POKOKNYA BEGINI!

1500 Kata
Karena pernikahannya yang super dadakan, seluruh pembantu yang bekerja di rumah orang tua Alaia harus bekerja extra ketika mendekati hari pernikahan Alaia. H-3 pernikahan Alaia, vendor yang di sewa Alaia untuk mendekor akhirnya datang untuk mempersiapkan beberapa keperluan. Gina jadi lebih sibuk dari biasanya. "Aya, itu tukang jahitnya udah di telfon belom? Coba tanyain baju buat Mama Papa udah jadi belom" tanya Gina sambil memasukkan beberapa kue kering ke dalam toples. "Udah Ma. Besok aku tinggal ambil trus drop bajunya ke rumah keluarga Erick" ujar Alaia. "Seserahan? Souvenir?" tanya Gina smbil tetap sibuk dengan toples-toplesnya.  "Seserahan udah kelar. Souvenir mah pake photobooth aja" ujar Alaiadengan tenang. "Kamu kok tenang banget sih?!" Gina gemas sendiri dengan tingkah putrinya yang nampak tenng-tenang saja padahal seisi rumah geger sendiri. "Ya kalo di bawa panik malah jadi gak beres Ma. Makanya di bawa tenang aja! Semua yang ada di list uda ada semua kok" ujar Alaia. "Kamar kamu kapan mau di rapihinnya?" tanya Gina. "Kamarku? Ya besok aja. Pas aku lagi di rias, kamarnya di rapihin" ujar Alaia. "Bener-bener nih anak. Santainya gak kelewatan"  Alaia masuk ke dalam kamarnya. Ia merapihkan beberapa bagian kamarnya agar ketika di rapihkan sebagai kamar pengantin, kamarnya ini tidak terlalu berantakan dan barang-barang pribadinya juga bisa di susun dengan aman. "Pake spreinya gak usah di ganti. Baru juga di ganti juga kemaren" ujar Alaia sambil memperhatikan tempat tidurnya. Ia duduk di kuris kamarnya yang menghadap ke balkon kamarnya ini. Pernikahan impiannya ini, justru hanya akan terjadi selama dua tahun. Padahal inilah pernikahan yang ia ingingkan. Menikah di rumah orang tuanya secara sederhana. Kehadiran Erick di hidupnya justru mewujudkan pernikahan impiannya yang tidak bisa dilaksanakan ketika ia menikah untuk yang pertama kalinya. "Kenapa malah pas impian gue tercapai, umurnya cuman dua tahun begini" Alaia meratapi keputusannya sendiri. Ponselnya yang berdering membuat lamunan ratapannya pecah seketika. Erick calling . . .  "Halo?" sapa Alaia. "Ya, ini baju buat keluarga udah selesai belom?" tanya Erick. "Beosk jadinya. Masih sempet kok kalu mau di cuci dulu" jawab Alaia. "Eh iya, kamu udah bilangin belom ke Mama sama adek kamu? Buat MUA mereka? Barengan sama aku dan Mama?" tanya Alaia. "Udah kok" jawab Erick. "Seserahan udah?" tanya Erick. "Udah tadi ornangya udah kirim fotonya di WA" jawab Alaia. "Terus nanti abis nikah kita pulang ke apartemen kamu apa nginep sehari di rumah orang tua kamu?" tanya Erick. "Nginep aja dulu. Emangnya kamu gak capek kudu balik ke apartemen aku dulu?" tanya Alaia. "Ya capeklah" jawab Erick. "Berarti malem pertamanya di rumah orang tua kamu ya?" tanya Erick lagi. "Iya" ujar ALaia agak sedikit malas. Awas aja nih ngomongin jatah malam pertama  "Kamu mending sekalian bawa kopermu aja deh. Besoknya kita langsung ke apartemen aku soalnya" ujar Alaia. "Iyakah?" tanya Erick. "Iya! Biar gak kerja dua kali!" ujar Alaia dengan nada sedikit tinggi. "Iya-iya, sekalian minggat dari rumah deh kalo gitu" jawab Erick. "Eh Ya, hampir lupa mau nanya kamu" tanya Erick. "Apaan?" tanya Alaia dengan nada sedikit sewot. "Aku perlu bawa kondom gak?" **** Hari pernikahan pun tiba. Alaia harus sudah stand by sejak pagi karena ia harus segera di rias. Pernikahan di jadwalkan pukul sembilan pagi. "Baru kali ini ngeliat penganten seger bener. Bisa tidur semalem Ya?" tanya periasnya hari ini yang juga temannya. "Bisa dong" ujar Alaia dengan percaya diri. "Gaada deg-degannya?" tanya temannya sambil fokus merias wajahnya. "Ya ada sih tapi masih bisa teratasi" jawabnya. Meskipun ini merupakan pernikahan kedua, dan hanyalah pernikahan sementara, namun sejujurnya Alaia cukup gugup. Setelah di rias dengan sempurna, Alaia kemudian mengenakan gaun pernikahannya. Ia terpaku dengan gaun pernikahannya yang sederhana ini. Ia benar-benar berterima kasih pada Erick yang memberinya kebebasan luar biasa untuk pernikahan mereka. Alaia terpukau sendiri dengan pantulan dirinya di cermin. Benar-benar memukau. "Yaudah tunggu aja di sini sampe sah jadi bini orang" ujar temannya itu. Lewat monitor yang disediakan pihak vendor, Alaia bisa melihat langsung akad nikahnya yang berlangsung di lantai satu. Beneran ganteng ternyata batin Alaia melihat Erick yang nampak berbeda dengan beskapnya. "Saya terima nikah dan kawinnya Alaia Taraya binti Prayudha dengan emas kawin tersebut di bayar tunai!" jawab Erick dengan nada penuh keyakinan. Deg! Sah gue jadi Nyonya Hardianto untuk dua tahun kedepan batin Alaia. Bukannya berdoa mengucap syukur, Alaia malah terdiam melamun menatap layar monitor. "Mbak ... Mbak Aya" seorang crew WO menepuk pelan pundaknya. Alaia pun tersentak dan kemudian tersadar. Ia mengikuti arahan WO untuk turun ke lantai satu dan untuk dipertmeukan dengan suaminya, setelah 3 hari di pingit sendiri oleh kedua orang tua mereka. Begitu sampai di meja pernikahan, Alaia langsung duduk di kursi di sebelah Erick tanpa berani menatap wajah suaminya itu. Penghulu yang bertugas memberikan keduanya buku nikah dan dokumen lain untuk kemudian di tanda tangani oleh mereka beserta wali dan kedua saksi nikah. Selesai dengan urusan administrasi, Alaia dan Erick bertukar cinin. Tidak pernah terbayang di benak keduanya, mereka akan melangkah sejauh ini. Namun satu hal yang pasti, Alaia bahagia karena pernikahan impiannya tercapai. **** Alaia dan Erick sejujurnya canggung dengan situasi ini. Seharusnya gue tulis di perjanjian urusan bobo begini batin Alaia yang menyesal. "Aku tidur di sebelah kiri, kamu sebelah kanan" Alaia memecah keheningan di antara keduanya. "Nanti di apartemenku juga begini. Posisi tempat tidurnya begini juga soalnya" tambah Alaia. "Okay" ujar Erick. "Jadi kita gaada acara tidur terpisah dong ya? Mau pisah ranjang kek pisah kamar kek" ujar Erick. "Iya" jawab Alaia. "Oh iya, aku bawa ini. Buat jaga-jaga" Erick mnegeluarkan sesuatu dari saku celananya dan melemparnya sembarang ke tempat tidur. "Heh! Ngapain beli beginian segala?!" pekik Alaia ketika melihat yang dilempar Erick adalah sekotak kondom. "Ya buat jaga-jaga dong Aya" ujar Erick. "Ya mau malem ini, mau kapan udah itu buat jaga-jaga aja" ujar Erick agar Alaia mengerti. "Kita udah sepakat urusan ini kan? Kita sepakat buat pake 'pelindung' yang ini kan?" Erick mencoba membuat Alaia teringat dengan obrolan mereka tentang ini. "Iya-iya aku inget" ujar Alaia. "Kamu kenapa gugup gitu sih? Kamu jangan-jangan belom pernah di apa-apain ya?" tebak Erick dengan ekspresi isengnya. "Hih! Kenapa jadi ngomongin itu?" Alaia tidak bisa menyembunyikan ekspresi gugupnya. "Okay okay. Aku gak bakalan maksa kalo emang kamu gamau atau mungkin belom siap. Gapapa kok" Erick dengan santai merebahkan diri di tempat tidur empuk Alaia. "Heh ntar dulu! Siapa suruh tidur!" Alaia langsung menarik tangan Erick untuk bangun. "Mau ngapain lagi?" tanya Erick dengan ekspresi mengantuk yang dibuat-buat. "Gak usah belagak ngantuk begitu deh. Ketauan banget kamu belom ngantuknya" ujar Alaia. "Ya terus mau ngapain?" tanya Erick. "Jadi rencana kita selanjutnya apa?" tanya Alaia. "Gaada" jawab Erick. "Pokoknya jalanin aja selayaknya suami istri depan orang tua kita, sampai dua tahun lagi" **** Alaia membantu Erick menggerek masuk koper miliknya. "Udah nih segini doang barang-barang kamu?" tanya Alaia sambil menarik koper Erick masuk ke dalam kamarnya. "Iya, udah segini aja" ujar Erick. "Buat yang ke Belanda mana?" tanya Alaia. "Ada di mobil. Aku kalo balik ke Jakarta bawa koper kecil aja. Gak semua baju aku bawa soalnya. Jaket juga bawa paling satu dua aja. Satu yang rada tipis satu yang tebel buat balik ke Belanda" jawab Erick. Keduanya pun langsung membuka koper-koper tersebut dan langsung menaruhnya di lemari pakaian. Setelah selesai, Alaia menerangkan pada Erick tentang semua bagian di rumahnya. "Semua kamar di sini pake PIN" ujar Alaia. "Tiap kamar beda-beda, tapi biar gampang khusus kamu sama aku pake finger print aja. Besok aku minta orang maintenance buat nambahin finger print kamu" ujar Alaia. Erick hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban istrinya itu. "Terus sekarang kamu mau nanya apa?" tanya Alaia setelah selesai menerangkan semuanya. "Aku mau packing. Lusa aku balik lagi" ujar Erick yag berjalan berbalik arah menuju kamar mereka. "Yaudah aku mau masak dulu ya" Baru dua hari menikah, Erick harus kembali lagi ke Belanda. "Jangan kangen ya" ujar Erick saat Alaia menyetir mobil untuk mengantarnya ke bandara. "Idih. Siapa yang bakalan kangen" sahut Alaia tidak terima. Sesampainya di bandara, sudah ada kedua orang tua Erick dan Alaia. "Psst! Jangan lupa mesra-mesraan" bisik Erick saat membantu Alaia menurunkan kopernya. Alaia mengacungkan jempol tangannya tanda setuju. "Udah ya, aku berangkat" pamit Erick pada kedua orang tua dan mertuanya. Erick menyalami satu per satu orang tuanya dan mertuanya itu. Biar somplak begini masih punya akhlak ternyata batin Alaia melihat santunnya Erick. "Aku berangkat dulu ya" Erick memeluknya dengan mesra. "Yang mesra! Biar meyakinkan" bisik Erick di telinganya. Alaia menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh Erick. "Udah, gak bakalan lama kok LDR-nya" celetuk Desy. "Mau di cium, jadi jangan kaget" bisik Erick lagi, lalu mencium kening Alaia. "Kalo udah sampai sana jangan lupa kabarin ya Rick" ujar Gina dengan penuh perhatian apda menantunya ini. "Iya Ma" ujar Erick dengan sedikit membungkuk. Melihat bagaimana perhatiannya mertuanya padanya, ada rasa bersalah yang terbesit di hatinya karena menikahi Alaia hanya untuk dua tahun. "Ntar kalo udah sampe sana kabarin aku ya" ujar Alaia dengan nada manja. Sebisa mungkin meyakinkan para orang tua yang ada dihadapannya. Alaia sengaja menemani Erick sampai ke pintu masuk agar lebih meyakinkan. "Udah cukup meyakinkan belom tadi? tanya Alaia. Erick mengacungkan jempolnya dengan mantap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN