Gak Nyangka

1500 Kata
Mumpung jadwal pekerjaannya cukup lenggang, Alaia langung menyetujui ajakan temannya untuk brunch di salah satu restoran ternama di Jakarta. "Saya mau pergi brunch dulu sama temen saya ya. Sampe siang saya gak ada kerjaan yang perlu banget saya hadirin kan?" tanya Alaia pada sekretarisnya. "Gak ada Bu" jawab wanita muda itu. Alaia hanya mengangguk lalu pergi berlalu  begitu saja. Sesampainya di restoran tersebt, Alaia langsung masuk dan menghampiri temannya yang sudah menunggu. "Ya ampun Aya!! Udah lama baget" seorang temannya menyambutnya dengan begitu bahagia. Alaia menghampiri teman-temannya itu dengan senyuman lebar dan kemudian memeluknya satu per satu. "Ayo ayo duduk dulu" ujar temannya sambil menyuruhnya untuk duduk di kursi yang membelakangi jendela. Beberapa teman lainnya juga baru datang dan mereka saling menyambut dengan hangat. "Loh, Rama ikut juga?" tanya seorang temannya. Pertanyan itu membuat Alaia menoleh langusng ke arah mantan kekasihnya. Benar saja, Rama berdiri tidak jauh dari meja yang sudah di booking oleh teman-teman Alaia. Pria itu hanya menyengir begitu melihat Alaia. Kok bisa gue terpesona ama cengiran kuda begitu sih dulu? Rasanya Alaia ingin mengutuk dirinya sendiri jika melihat cengiran mantannya itu. Ia bergdidik geli sendiri. Dan, tentu saja Rama mengambil kursi di depan Alaia. Ia tentu tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mednekati Alaia, meskipun wanita itu sudah terang-terangna menolaknya, bahkan tidak segan berkata kasar padanya. Mungkin Rama lupa, betapa bar-bar seorang Alaia Taraya jika ia sudah murka. Mereka semua memasan makanan. Alaia berlagak seolah ia tidak mengenal Rama. Sambil menunggu makanan, mereka sibuk mengobrol tentang kegiatan masing-masing selepas kuliah. Ada yang berhasil menderika perusahaannya sendiri, ada yang bekerja di firma hukum terkenal, ada yang sukses menjadi supermodel dna lainnya. Alaia hanya tersenyum sambil sesekali menimpali. Kirain bakal ngobrolin apaan, gataunya malah pada mau pamer  batin Alaia ketika melihat situasi sekleilingnya. Tentu saja Rama tidak ketinggalan memamerkan keberhasilannya. Ia tentu ingin di pandang sukses oleh Alaia. Siapa tahu mantan kekasihnya itu berminat kembali kepelukannya mengetahui betapa sukses diirnya sekarang. "Ya, dari tadi diem-diem aja. Lu sendiri sekarang gimana?" tanya seorang temannya. "Gue punya restoran sekarang. Ada yang punya gue sendiri, ada yang join sama temen-temen gue. Gue juga beberapa kali di undang buat jadi dosen tamu" jawab Alaia lembut. "Jadi lu pengusaha kuliner gitu? Kenapa gak kita ngumpul di restoran lu aja sih" sahut temannya. "Ya jelas, gue jadi chef dong. Dulu gue kuliahnya aja jurusan tata boga" jawba Alaia lagi. "Nama restoran lu emangnya apa?" tanya temannya dengna nada sedikit meremhkan. "Votre Choix" jawab Alaia lengkap dengan aksen Perancisnya. Kontan seluruh teman-temannya melotot tidka percaya dengn apa yang di katakan olehnya. "Jangan becanda deh Ya. Itukan restoran mahal" ujar seorang temannya tidak percaya. "Gue serius, dateng aja" ujar Alaia. Rama tidak melepaskan pandangannya dari Alaia. Teman-temannya saling menatap tidak percaya. "Aya, itu restoran bintang lima yang mahal banget. View yang mereka tawarin itu pemandangan Jakarta banget" ujar temannya yang meragukan ucapannya. Alaia membuka hand bag miliknya dan mengeluarkan kartu namanya dari dalam dompetnya. "Ini. Gue tunggu kalian dateng ke restoran gue. Feel free to book!" ujar Alaia sambil menyerahkan kartu namanya pada temannya yang duduk tepat di sebelahnya, lalu mleipat kedua tangannya di depan dadanya dan tersenyum manis. Alaia Taraya Founder of Votre Choix  AT Building Lantai 20 Sudirman, Jakarta Selatan. Teman-temannya benar-benar tidka percaya dengn apencapaian yang Alaia dapatkan. "Abis kuliah lu langsung bikin restoran gitu?" tanya temannya. "Gak. Gue tentunya kerja jadi chef dulu, perbanyak relasi. Terus akhirnya lanjut sekolah lagi di Perancis" jawab Alaia. Sampai di situ, Alaia teringat kenangan buruk kehancuran rumah tangganya dengan mantan suaminya. "Ini serius? Lu owner? Ini yang restoran langganan artis sosialita, penguaha gitu-gitu kan?" tanya temannya memastikan. Alaia mengangguk setuju. Semuanya benar-benar tidak menyangka, Alaia merupakan sosok di balik restoran mewah nan megah di Jakarta. Belum dengna usaha-usaha lainnya. Alaia melirik Rama sekilas. Rama yang masih menatapnya dan tidak berpaling sedikit pun. Dan apa menurut lu gue masih mau balikan sama lu gitu?  Katakan Alaia sombong. Ia tidak akan peduli dengan ucapan itu. Ia sudah bekerja sekeras mungkin dan sekarang ia sudah berhasil mimpinya. Mimpinya yang dulu pernah di remehkan oleh Rama saat mereka masih bersama. Dan kini saat mereka sudah tak lagi bersama, Rama justru berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hatinya lagi. **** Setelah mengetahui tentang status sosialnya yang sebenarnya, banyak teman-temannya yang mulai mendekatinya. "Udah gue duga, temen gue seketika jadi banyak begini. Padahal tadinya kayaknya gue gak di anggep tuh" ujar Alaia sambil memperhatikan layar ponselnya. "Siapa sih?" tanya Erick sambil membawa sepiring cheese cake buatan Alaia. Sejak menikah dan akhirnya keduanya tinggal berdua, Erick sejujurnya tidak pernah lagi jajan di rumah. Istrinya selalu sigap membuatkannya makanan dan camilan apapun. Erick semakin tidak menyesal menikahkan Alaia. "Eh enggak, gapapa" ujar Alaia ketika suaminya ini datang. Gak lucu banget kalo sampe Erick tahu tentang Rama  "Kamu kemaren brunch gimana?" tanya Erick sambil melahap kue di piringnya. "Okay okay aja kok" jawab Alaia. Suaminya itu hanya mengangguk saja. Rasanya tidak adil jika hanya Alaia yang emgnetahui tentang masa lalu Erick, sedangkan Erick tidak mengetahui tentang masa lalunya, selain mantan suaminya. Ponsel Alaia berdering, membuatnya langusng emngangkat panggilan tersebut ketika melihat namnaya. "Halo?" sapa Alaia. "Ya gue mau ke restoran lu dong" ujar temannya di sebrang sana. "Oh, boleh mau dateng hari apa?" tanya Alaia. "Hmm kita mau dinner " jawab temannya. "Yaudah booking aja langsung, buka websitenya terus booking. Beres" ujar Alaia. "Gak bisa lu aja yang pesenin Ya?" tanya temannya. "Gak bisa. Gue gak ngurusin bagian itu. Lagipula, itu udah ada yang tim yang ngatur booked seats di sini" ujar Alaia santai namun dengan nada tegas. "Yaudah kalo gitu, gue booking langsung deh" ujar temannya lalu langsung menutup pembicaraan mereka. "Siapa?" tanya Erick yang masih tetap asyik dengan makanannya. "Temenku. Mau dateng ke restoranku, cuman dia minta aku buat booking tempat buat dia" ujar Alaia. "Jangan maulah!" ujar Erick tidak terima. "Ya makanya, aku suruh aja boooking sendiri. Enak banget di pesenin segala, berasa ratu kali dia" ujar Alaia. "Aku tuh sebenernya gak pernah make it big tentnang restoran aku. I always keep it anonymous, baru kemaren aja akhirnya buka suara" ujar Alaia. "Terus waktu mereka tau gimana?" tanya Erick sambil meletakkan piringnya di meja dan beralih menghadap istrinya. "Ya kaget semua" ujar Alaia. Tatapan Erick yang hanya tertuju Alaia membuat wanita itu jadi salah tingkah sendiri. "Aku kasih aja kartu namaku, biar pada percaya, suruh dateng malahan" ujar Alaia lagi. "Bagus!" ujar Erick. "Kamu tumben santai bener. Gak ada kerjaan?" tanya Alaia. "Iya. Kenapa emangnya?" tanya Erick balik. "Gak apa-apa sih. Aneh aja" sahut Alaia. "Aneh gimana?" Erick berbalik tanya dengan kening yang mengkerut. "Ya kamu kan biasanya sibuk minta ampun. Operasi ini itu, belom lagi visit sama praktek" ujar Alaia sambil memalingkan wajahnya. Erick menoleh ke arah istrinya itu. "Kamu ngambek ya aku tinggal terus?" tanya Erick. "Aku? Ngambek?" tanya Alaia sambil menunjuk dirinya sendiri. Erick mengangguk. "Enak aja! Ngapain juga aku ngambek" ujar Alaia lalu memalingkan wajahnya dari Erick. "Terus kalo gak ngambek apa dong?" tanya Erick sambil memutar posisi tubuh Alaia.  Plis jangan bersikap manis kayak begini dong. AYang ada aku susah ngelupain kamu yang ada nanti kalo kita udah pisah "Ya gapapa" ujar Alaia sambil melepas tangan Erick di kedua lengannya. "Bener gapapa?" tanya Erick memeastikan, namun dengan nada menggoda. "Iya beneran!" ujar Alaia. "Yaudah, nanti kalo ada jadwla operasi, aku padat-padatin deh" ujar Erick. "Ya jangan gitu juga dong!" Alaia langsung protes. "Nah kan!" ujar Erick sambil tertawa melihat tingkah Alaia.  "Ya maksudnya jangan terlalu sibuk juga" ujar Alaia mencoba mencari alasan. "Hmmm masa sih?" goda Erick lagi. "Iya iya. Udah ah aku mau masak" Alaia segeras beridri dan mengambil piring kotor Erick sambil berjalan ke dapur. Erick hanya tertawa kecil melihat salah tingkah istrinya itu. **** "Lu hari ini jadwalnya apaan?" tanya MArcel pada Erick. "Praktek kayak biasa" ujar Erick santai. "Temenin gue dong RIck" ujar Marcel dengan nada memohon. "Kemana?" tanya Erick singkat, pandangannya tidak lepas dari layar ponsel. "Benerin jam tangan gue" Marcel menunjukkan jam tangan miliknya yang sudah mati itu. "Lama gak?" tanya Erick lagi pada Marcel, masih dengan nada serius. "Ya mana gue tau, kan tukang reparasinya kudu meriksa dulu" ujar Marcel. "Yaudah, tapi jangan lama-lama ya" ujar Erick. "Emangnya mau kemana sih?" tanya Marcel ingin tahu. "Ya gak kemana-mana. Jaga-jaga aja kalo ada emergency" ujar Erick sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celananya dan kemudian berjalan. "Tempatnya gak jauh dari sini kok" ujar Marcel membuntuti Erick, layaknya seorang anak kecil yang meminta izin dari anaknya untuk membeli jajanan. "Ya tetep aja Cel. Kita berapa kali lagi makan tau-tau ada pasien emergency tetep aja butuh waktu" ujar Erick. "Ngomong-ngomong RIck, Aya bikinin lu cemilan apa lagi?" tanya Marcel. Karena Eirck banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, Alaia membuatkannya cemilan ringan untuknya. "Di bikinin keripik bawang. Mau lu?" tanya Erick. Marcel mengangguk antusias. "Btw, lu gak jadi eprgi sama Aya?" tanya Marcel. "Pergi? Kemana?" tanya Erick. "Makan siang" jawab Marcel. "Ohh, itu masih nanti. Sekarang dia lagi makan-makan ama temen kuliahnya dia" jawab Erick. "Temen kuliah? Kalo ketemu mantan gimana?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN