Kaori menggunakan dress yang telah disiapkan Jake.Diam diam Kaori merasa kagum dengan selera Jake yang bisa dibilang bagus, dalam memilih dress. Bahkan, dress yang Jake pilih terasa pas di tubuh Kaori. Dress berwarna putih dengan tinggi di atas lutut, terdapat beberapa bordiran bunga timbul di bagian d**a, terlihat sederhan dan elegan. Kaori memutuskan untuk mengikat rambutnya dan memamerkan bahu jenjangnya. Hal itu membuat kulit putih s**u milik Kaori terekspose. Setelah merasa penampilannya sempurna, Kaori segera keluar dari kamar mandi, Kaori terpaksa berdandan di dalam kamar mandi karena sejak semalam dia dan Jake berbagi di kamar yang sama bahkan mereka berdua menghabiskan malam bersama.
"Kao" panggil Jake,
"Hmm" gumam Kaori sembari merapikan rambutnya, mengabaikan Jake yang mendekat ke arahnya.
"Apakah kamu sengaja?" tanya Jake yang kini sudah berada di belakang tubuh mungil Kaori.
Mengingat tinggi Jake yang 189 CM dan tinggi badan Kaori yang hanya 158 CM membuat Kaori merasa Jake seperti sebuah bayang bayang yang menjulang tinggi di belakang tubuh Kaori.
"Apa maksud kamu?" tanya Kaori yang terkejut dengan keberadaan Jake di belakang tubuhnya. Jarak mereka sangat dekat. Kaori dapat merasakan hembusan nafas Jake di lehernya. Hembusan nafas Jake membuat bulu kuduk Kaori meremang. Kaori merasakan sensasi baru yang sulit dia jelaskan, hanya saja hal itu membuat tubuh Kaori merasa tersengat listrik.
"Kao? Kamu tau, aku tidak menyukai apa yang sedang kamu tunjukkan saat ini?" tanya Jake yang membuat Kaori mengernyitkan kening,
"Apakah kamu bermaksud ingin aku mengganti dress yang aku gunakan? Bukankah kamu yang memilihkannya untuk aku?" tanya Kaori yang merasa Jake terlalu berlebihan.
"Aku suka dress yang kamu gunakan" jawab Jake dengan mendekatkan bibirnya ke arah leher Kaori yang mengundang hasrat Jake untuk segera memiliki Kaori dan menjadikan Kaori miliknya.
"Ja-jake, apa yang kamu lakukan?" tanya Kaori panik dan membuat dirinya mencoba menghindar dari dekapan Jake. Sayangnya, itu semua percuma. Kaori terlambat, Jake telah membelenggu Kaori dengan tubuhnya. Bahkan bibir Jake, membuat jejak di leher Kaori. Jejak merah yang membuat Kaori panik.
"Ja-jake, ini sangat sakit. Apa yang kamu lakukan?" tanya Kaori yang merasa tidak nyaman dengan apa yang Jake lakukan ke padanya,"Jake, aku mohon. Aku tidak mengerti apa yang kamu lakukan, aku minta maaf jika aku menyinggung perasaan kamu. Tapi, aku-"
"Kamu tidak menyinggung aku, Kao. Aku hanya ingin melakukannya karena leher kamu terlihat sangat indah" kata Jake yang memotong pembicaraan Kaori, Jake menatap puas pada hasil karyanya. Beberapa tanda merah di leher Kaori cukup membuat Kaori mengurungkan niatnya untuk mengikat rambut hitam legam yang menjuntai indah di punggungnya.
"Jake! Kamu membuat aku tidak bisa mengikat rambutku" protes Kaori yang kini menatap Jake penuh amarah.
"Aku harus membuat tanda itu. Aku tidak suka kamu mengikat rambutmu" kata Jake tanpa merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan kepada Kaori.
"Kamu tinggal mengatakan hal itu ke padaku. Kenapa kamu harus berbuat seperti ini?" tanya Kaori.
"Karena aku menyukainya" jawab Jake dengan tatapan mata tajamnya,
"Dasar pria m***m!" maki Kaori,
"Hmm, kamu akan menyukainya jika aku melakukan hal lain yang lebih m***m dari apa yang aku lakukan sebelumnya" kata Jake sembari mengerlingkan matanya.
Jake sengaja memancing kemarahan Kaori. Jake suka melihat ekspresi marah Kaori.
"Sialan!" maki Kaori lagi.
Jake tersenyum dan mengecup pipi Kaori. Jake tidak jera untuk membuat Kaori memaki dirinya. Setelah puas dengan ulah jahilnya, Jake bergegas keluar dari kamarnya. Langkah Jake terhenti ketika dia melihat Amelia berdiri di depan kamarnya.
"Kami menunggu kalian berdua untuk makan pagi bersama" ajak Amelia sembari sesekali mencuri padang mencari keberadaan Kaori,
"Baik Bu, kami akan segera turun" kata Jake yang membuat Amelia mengganggukkan kepala.
"Hmm" sahut Amelia,"Jake, apakah kamu yakin akan menikah dengan Kaori. Aku tidak ingin kamu melakukan hal bodoh dan membuat keluarga kami malu" kata Amelia ketus,
"Aku dan Kao saling mencintai" ungkap Jake yang membuat Amelia mencibir Jake,
"Cinta? Sejak kapan kamu percaya dengan cinta? Aku tau, kamu hanya menginginkan harta kami." tandas Amelia yang membuat Jake tersenyum culas,
"Sepertinya anda salah paham, saya dan Kao menjalani hubungan ini atas dasar suka sama suka"elak Jake yang kini mulai kehilangan rasa sabar dalam dirinya. Jika berkaitan dengan Kaori, Jake merasa tidak perlu mengalah dan berbuat baik.
"Kaori berhak mendapatkan pria lain yang lebih dari kamu, kamu hanya seorang anak pungut yang tidak menguntungkan. Aku akan mengatur kencan buta untuk kamu, dan tinggalkan Kaori. Aku akan berikan apa yang kamu mau" kata Amelia yang tak ingin Kaori salah dalam memilih pasangan. Amelia tahu dengan benar perangai Jake selama di luar negeri. Amelia tidak ingin Kaori menjadi sebuah tameng yang nantinya akan dirugikan oleh Jake.
"Bu-" Belum juga Jake mengungkapkan pendapatnya, Kaori keluar dari kamar mereka, mengambil alih pembicaraan yang seharusnya hanya antara Jake dan ibunya,
"Bibi, apa yang bibi katakan sangat melukai harga diri aku. Aku sangat mencintai Jake. Apakah bibi berniat memisahkan aku dan Jake?" potong Kaori yang sengaja keluar dengan rambut yang terikat, membuat Amelia melihat bekas kiss mark di leher Kaori. Mata Amelia terbelalak, dia menariktubuh Kaori untuk lebih mendekat ke arahnya, memastikan tanda merah yang tertinggal di lehernya memang benar sebuah kiss mark.
"Kao! Aku tidak salah lihat?" tanya Amelia panik, "bagaimana kamu bisa jatuh cinta dengan pria seperti Jake. Oh Tuhan…"
"Bibi, aku masih punya banyak tanda seperti ini, apakah bibi ingin melihatnya?" tanya Kaori berlagak menjadi gadis lugu dan polos.Tidak hanya Amelia, Jake juga terkejut dengan apa yang Kaori katakana. Meskipun itu hanya sebuah gertakan, tapi Jake khawatir Amelia akan mengeceknya. Tanpa basa-basi Kaori mencoba menurunkan sedikit tali dressnya,
"Tidak perlu! Aku tidak ingin Jay melihat apa yang Jake perbuat. Aku percaya kalian saling mencintai. Segera perbaiki penampilan kamu, dan setelah itu kalian berdua kami tunggu di meja makan" kata Amelia sembari meninggalkan Jake dan Kaori yang saling berpelukan.
Kaori dan Jake bernafas legah. Amelia menyerah dan memutuskan untuk mempercayai apa yang Kaori katakan. Jake mengalihkan pandangannya dari siluet Amelia,
"Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih, aku melakukan hal ini karena ini demi kepentingan kita berdua" kata Kaori dengan nada angkuh, membuat Jake menahan senyumannya. Jake, menundukkan kepalanya, mendekatkan dirinya dengan tubuh mungil Kaori.
"Aku rasa kamu terlalu percaya diri" bisik Jake di telinga Kaori,"aku hanya berfikir, bagaimana jika Amelia meminta buktinya, haruskah aku membuktikannya secara nyata dan membuat tanda kiss mark di bagian tubuh kamu yang tertutup dress cantik ini" lanjut Jake. Kaori menatap Jake dengan galak.
"Jake, mati saja kamu!" teriak Kaori dengan memberikan Jake sebuah hadiah injakan di kaki Jake.
"Akh! Sakit Kao"
"Aku masih menginjak kaki kamu. Belum melakukan hal lain, dasar c***l!" maki Kaori dengan wajah merah padam menahan rasa malu.
**
Jake dan Kaori segera berpamitan ke pada Yusuke, Amelia dan Jay. Mereka berdua harus kembali ke rutinitas mereka berdua.
"Aku akan sangat merindukan kalian berdua, aku harap kalian sering-sering meluangkan waktu untuk pria tua ini" pinta Yusuke,
"Tentu Paman, aku akan sering mengunjungi Paman" sahut Kaori,
"Aku akan menantikan hal itu" kata Yusuke yang membelai rambut Kaori layaknya putri kandungnya sendiri,"jangan lupa kabari aku jika kalian akan melangsungkan pernikahan kalian berdua" lanjut Yusuke,
"Tapi kami-"
"Tentu Ayah" potong Jake,"kami tidak akan melakukan pesta pertunangan, kami akan segera melangsungkan pesta pernikahan kami berdua. Aku rasa ijin dari ayah lebih dari cukup untuk kami berdua melangkah ke jenjang yang lebih serius"
"Kamu benar. Kamu jangan membuang waktumu, aku takut Kaori berpaling ke pria lain" canda Yusuke yang membuat Jake tersenyum ke arah Kaori.
"Ayah, hal itu tidak akan terjadi, karena aku adalah nyawa bagi Kaori. Benarkan, Sayang?" tanya Jake yang kini meminta persetujuan dari Kaori.
Kaori panik, dia hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bagaimanapun juga, ini adalah jalan terbaik bagi mereka berdua, semakin banyak dukungan yang mengalir, semakin cepat Selina dan Lara hancur di hadapan Kaori terlebih lagi saat ini keluarga Nakamura telah bersatu,membuat jalan kemenangan Kaori lebih mudah.