Bab 11 - Buket Bunga Sialan!

1760 Kata
Jeka bilang, dia punya peraturan tambahan menyusul lima peraturan tidak jelas—dan hanya menguntungkan laki-laki itu—di awal kerja yaitu Una harus selalu mengangkat telpon dari Jeka dan selalu siap sedia meski dalam kondisi libur kerja. Gadis itu hendak menolak, tetapi tidak bisa karena bos kampretnya bersikap seolah tidak ingin ada penolakan. Terpaksa Aruna bilang ya meski hatinya sulit menerima. Demi mamanya yang suka membandingkan Una dengan anak tetangga ... Una tidak mau kehilangan pekerjaan hanya karena menolak permintaan satu itu. Intinya selama permintaan Jeka tidak di luar batas kemampuan dan dapat gaji tambahan, apa pun akan dia lakukan. Kemarin Jeka mengantarnya pulang sampai depan pagar. Aruna sengaja tidak menawari masuk karena mama pasti akan heboh kalau melihat anak perempuannya pulang dengan laki-laki seperti Jeka. Akan ada terlalu banyak pembicaraan dan pertanyaan yang membuat Una pusing, jadi lebih baik tidak perlu. Selama Una berpacaran dia juga tidak pernah membawa mereka ke rumah. Hari Minggu, Jeka sudah bilang dia akan menjemput Una untuk ikut ke pesta pernikahan rekannya yang beberapa hari lalu mengirim undangan ke kantor. Lelaki itu bilang, dia akan menjemput Una sore ini. Sang mantan memilih untuk meminta alamat lengkap saja dan dia pergi menggunakan ojol ke sana, tetapi Jeka si kepala batu menolak mentah-mentah usulannya. Dia tetap ingin menjemput Una. Pukul empat, laki-laki itu benar datang ke rumah. Dia memakai motor yang sama seperti kemarin. Una pikir Jeka akan mengikuti perkataannya untuk menunggu di depan pagar karena dia tengah berdandan. Namun saat Aruna keluar kamar dan berjalan ke depan untuk bersiap berangkat … sialnya dia melihat Jeka tengah bercengkrama dengan mama yang menatapnya penuh decak kagum ketika lelaki itu mengenalkan diri sebagai bos di kantor sang anak sekaligus teman sekolah Aruna saat SMA. "Kamu mau makan dulu di sini?" tanya mama berbasa-basi, semakin membuat Una sebal. “Gak enak lho cuma bisa nyuguhin teh hangat aja.” “Gak apa-apa, Bu. Ini saja sudah cukup,” balas Jeka dengan sopan. Una memutar bola matanya malas, seandainya mama tahu kalau dia diperlakukan semena-mena di kantor … pasti mama tidak akan repot-repot bersikap begitu. "Ngapain makan dulu? Lagian kita kan mau pergi kondangan. Kalau udah makan duluan buat apa pergi ke sana?" cerocos Una, membuat sang mama menyubit paha anak perempuannya yang duduk di samping dia. Jeka yang duduk di seberang mereka, menahan tawa melihat Una yang meringis dan balas memukul punggung tangan sang mama sambil mendumel tidak jelas. "Maafin anak saya ya, Nak. Dia memang ceplas-ceplos kalau ngomong," kata mama yang membuat Una mendengus sebal. "Tapi yang Aruna katakan benar, Bu. Nanti kita makan di sana saja," ucap Jeka dengan senyum menenangkan yang membuat Una ingin muntah. Pura-pura baik, padahal aslinya dia sangat-sangat membuat seorang Aruna ilfil setengah mati. "Mungkin kapan-kapan saya akan datang lagi dan makan di sini." "Boleh-boleh, boleh sekali … ibu tunggu ya, Nak Jeremy." Setelahnya, Una dan Jeka pamit pada mama dan berjalan ke luar diikuti oleh wanita paruh baya tersebut. Dia membuka pintu pagar hingga motor milik Jeka bisa keluar. "Hati-hati, Na. Jangan nakal lho," ucap sang mama yang membuat Jeka terkekeh. Lucu sekali, seperti melepas anaknya yang masih kecil bermain tanpa pengawasan orang tua. Una tanpa sadar memukul kepala Jeka cukup keras karena tidak suka diledek. Mamanya refleks melotot melihat apa yang si sulung lakukan. "Naaaaa, mbok ya jangan kurang ajar. Itu bosmu," omelnya dengan nada tinggi. "Minta maaf, cepet!" Una menatap Jeka dengan kesal, lalu bersuara sewot, "Maaf, gak sengaja mukulnya." "Ya, tidak masalah," sahut Jeka dengan kedua sudut bibir ke atas. "Kalau dia kurang ajar lagi marahin langsung, Nak. Kaya gak pernah dididik orang tua aja," dumel mama. Una memilih untuk mengambil helm yang akan dia pakai dari tangan Jeka, kemudian menyuruh lelaki itu untuk cepat memakai helm juga. Una ingin segera pergi dari sini. Di jalan, Jeka akhirnya membuka pembicaraan saat lampu merah. Dia menaikkan kaca helm, kemudian menoleh ke kanan sambil berkata, “Mama kamu baik, ya? Sepertinya saya akan senang kalau kamu ajak ke rumah lagi lain waktu.” Mendengar itu, Una langsung menyahut, “Coba lo tuker posisi sama gue, pasti penilaian lo ke mama gue bakalan berubah.” Jeka langsung terkekeh mendengar dumelan Una. Seperti tersadar ada yang berubah … Aruna buru-buru minta maaf karena bicara menggunakan gue-lo pada lelaki itu. Jeka bilang tidak apa-apa kalau di luar jam kerja. *** Lelaki yang mengenakan kemeja biru muda juga celana bahan, kini menunjukkan undangan yang diberikan oleh rekannya sebelum mengisi buku tamu. Tanpa undangan, mereka tidak diperbolehkan masuk. Setelah mengisi buku tamu dan menerima souvenir, kedua muda-mudi itu masuk ke dalam gedung tempat diadakannya acara. “Di sini, Na. Kita antri,” ajak Jeka yang refleks merangkul pinggang perempuan yang memakai dress biru tua selutut. Entah, padahal mereka sama sekali tidak saling janjian untuk menyamakan warna pakaian. “Kamu nyaman kalau saya rangkul seperti ini? Tidak keberatan, kan?” bisik Jeka pelan di dekat telinga Una. Una sempat diam sebentar karena kaget dengan perlakuan Jeka, sebelum akhirnya menyahut singkat, “Ya.” Antrian panjang terasa semakin lama setelah mereka sama-sama memutuskan diam. Una memilih menatap ke arah lain—kemana pun asal tidak menatap Jeka—sementara Jeka sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sedari tadi dia menahan mimik muka agar tetap normal padahal berusaha untuk menahan cengiran yang muncul di wajah. Dia tidak menyangka akan berada di situasi sekarang. Di sana banyak sekali tamu-tamu berpakaian formal yang datang. Kalau Una lihat sepertinya pengantin punya banyak koneksi dan relasi hebat. Gedung dan dekorasinya saja mewah. Mungkin bisa menelan dana lebih dari seratus juta. Selesai menyalami pengantin dan mengucap selamat di hari bahagia mereka, Una dan Jeka turun dari sana dan memutuskan untuk makan. Antri lama tetapi saat di atas malah tidak sampai dua menit. Piring Una didominasi oleh nasi dan lauk-pauk, sementara Jeka hanya mengambil sayur saja. Mereka duduk di kursi tamu yang masih kosong dan memakan makanan mereka. "Kalau kamu sendiri kapan ingin menikah, Na?" tanya Jeka tiba-tiba yang membuat gadis berponi itu berhenti mengunyah makanan di dalam mulut. "Kenapa tiba-tiba lo tanya begitu? Penting buat lo?” Nada bicaranya sih biasa saja, tetapi orang yang tidak dekat dengan Aruna bisa saja menilai kalau jawaban dia terkesan ketus. "Saya hanya ingin tahu perkembangan kamu selama tujuh tahun terakhir, sudah lama kita tidak bertemu, kan?" kata Jeka setelah menaruh gelas berisi air mineral yang tersisa setengah ke atas meja. "Kamu masih pacaran dengan Leo?" Leo adalah pacar Una saat SMA, ada hal yang berkaitan dengan lelaki itu sampai membuat Jeka akhirnya menghindari Una dan menghilang dari perempuan itu. "Udah lama putus, gue gak tau lagi kabarnya," ucap Una cuek, bicara tanpa repot menatap Jeka. "Setelah putus dari Leo, saya yakin banyak laki-laki yang mengantri ingin jadi pacarmu." "Iya dong," jawab Una. Jeka menarik satu sudut bibir ke atas. Jawaban Una kali ini mengingatkan dia pada Aruna tujuh tahun lalu. Dia memang tidak sepenuhnya berubah. "Tapi belum ada yang cocok sampe bikin gue pengen banget buat nikah." "Memangnya kapan terakhir kali kamu menjalin hubungan, Na?" "Dua bulan lalu." "Berarti belum lama?" Una mengangguk. "Kenapa kamu putus?" Una yang tengah menggigit kerupuknya, sekarang menatap manik mata Jeka hingga membuat lelaki itu terdiam. "Gue gak biasa share masalah pribadi ke orang lain apalagi gak akrab-akrab banget," jawab Una yang sukses membuat Jeka tidak mau menanyakan lebih jauh karena dia sadar sudah melewati batas privasinya. "Gue harap lo bisa ngerti." Jeka mengangguk dan setelah itu memilih menghabiskan makanan tanpa mengajak Una bicara lagi. Dia tidak bisa mengontrol diri untuk tidak banyak bertanya. Setelah tujuh tahun tidak bertemu, banyak hal yang ingin Jeka ketahui. Selesai makan, mata keduanya ikut tertuju ke arah di mana ada pembawa acara yang naik ke panggung dan mengumumkan ada acara yang ditunggu kaum muda-mudi. MC yang kini menjadi pusat perhatian para tamu … mengatakan sebentar lagi ada pelaksanaan lempar bunga oleh pasangan pengantin. Dia berharap, tamu undangan ikut memeriahkan acara. Aruna sama sekali tidak tertarik dengan hal seperti itu. Namun Jeka langsung menyeret gadis berambut sebahu ini untuk mendekat dan bergabung dengan gerombolan tamu lain yang sudah berkumpul di tengah. Kebanyakan adalah muda-mudi seperti mereka. Mitos mengatakan, jika nanti saat pengantin melempar buket bunga dan yang menangkap adalah orang yang masih lajang ... maka orang itu akan mendapat pasangan dalam waktu dekat. Sementara jika yang menangkap bunga sudah memiliki pasangan, mereka akan segera menyusul ke jenjang yang lebih serius. Ketika sudah ada banyak yang berkumpul di tengah, pasangan pengantin itu membelakangi para tamu dengan buket bunga yang sama-sama mereka pegang. MC memberi aba-aba dengan menghitung mundur angka tiga sampai satu. Keadaan langsung riuh saat bunga dilempar ke belakang. Sampai akhirnya beberapa detik kemudian mereka semua mencari-cari siapa yang mendapatkan buket bunga tersebut. Pengantin dan MC yang mengisi acara pun ikut penasaran. Una dan Jeka saling melirik satu sama lain saat mereka memegang buket bunga secara bersamaan. Sedetik kemudian, Una refleks menjauhkan tangan dari buket itu dan menjauh satu langkah dari Jeka. "Buat kamu aja, deh. Gue gak kepikiran buat nikah dalam waktu dekat ini," lirih Una sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. "Siapa yang mendapat buket bunganya?" tanya pembawa acara yang langsung membuat Jeka mengangkat buket itu tinggi-tinggi. Wardhani yang berada di atas panggung tertawa saat melihat kalau rekan bisnisnya yang terkenal misterius itu mau-mau saja mengikuti hal remeh semacam ini. “Ya, Mas baju biru, silakan maju ke depan. Ada doorprize. Sini, Mas,” lanjut sang MC yang membuat Jeka melangkah menjauh dari Aruna. *** "Nih, pegang. “Jeka menyerahkan buket bunga yang didapatkan setelah mereka keluar dari gedung. Tadi saat naik ke atas panggung, pembawa acara menyuruh Jeka memilih undian yang disediakan di sana sebagai doorprize. Dia mendapat uang lima ratus ribu. "Saya tidak suka bunga, buat kamu saja," lanjutnya saat Una menerima buket bunga yang didapatkan secara cuma-cuma. "Gue juga gak terlalu suka bunga," Ada jeda dalam ucapan perempuan itu. “But, thanks.” Mereka berdua berjalan berdampingan menuju parkiran, dengan Una yang menggunakan kedua tangan untuk memegang buket bunga berukuran lumayan besar, dan Jeka yang memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Kamu percaya soal mitos lempar bunga itu, Na?" tanya lelaki itu, memecah keheningan. "Enggak, temen gue langganan ikut ginian dan sering nangkep tapi sampe sekarang masih belum nemu yang cocok," jawab Una. "Lo sendiri gimana?" "Percaya-percaya saja." Jawaban Jeka membuat Una sekarang melirik ke arah laki-laki itu. "Tadi kan kamu juga ikut menangkap buketnya. Apa jangan-jangan ... ini pertanda kalau saya yang akan menikah sama kamu, Na?" lanjut Jeka yang membuat mata Una melebar dan refleks melempar buket bunga itu ke wajah pak bos. "IHHHH, GAK MUNGKIN. JANGAN NGADA-NGADA LO!" Shit, ini semua gara-gara buket bunga sialan! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN