Jeka memuji salad buatan Una dan mengatakan kalau dia memakannya tidak lebih dari sepuluh menit. Dia bahkan bilang pada mamanya kalau mama harus mencoba salad yang dibuat perempuan itu. Jeka memang selalu berlebihan jika itu menyangkut soal Aruna. “Kamu bisa temani saya, Aruna? Sepertinya baru akan selesai satu jam lagi,” kata Jeka yang terlihat sibuk di kursi kebesarannya. “Di luar juga mendung, kamu pulang sama saya saja.” Aruna yang sudah rapi dan hendak berpamitan, sempat diam sebentar sebelum akhirnya menyahut ucapan bos. “Maaf, Mister. Saya mau saja ada di sini, tapi tadi siang sudah janji pergi sama Mas Aming,” ucap perempuan berambut merah muda. Jeka langsung mengalihkan pandangan ke arah sang sekretaris. “Mau ke mana?” “Makan.” “Memang tidak bisa makan di sini?” Melihat Arun

