Di langit bulan berbentuk sempurna. Ditemani kekasih yang setia yaitu taburan bintang-bintang bak lampu-lampu kecil. Angin berembus menggoyangkan dedaunan dan hamparan bunga-bunga yang terdiam membisu.
Langkah kaki ringan berjalan di atas permadani hijau lembut. Kupu-kupu terbang mengelilingi He Hua. Rambut hitam panjangnya berkibar tertiup angin.
Keindahan pemandangan memanjakan mata He Hua. "Tempat ini indah sekali," ucapnya kagum.
Suara gemerincik air terjun menjadi melodi penenang jiwa. Siapapun yang berada di sini pasti akan bahagia.
"He Hua, kemari nak," panggil seseorang, suaranya halus dan lembut.
He Hua berbalik mencari asal sumber suara itu. Di hadapannya seorang wanita berambut silver tersenyum menatapnya, wajahnya cantik. Hanfu putih bersih membalut tubuh ramping wanita itu. He Hua berjalan menghampirinya.
"Ada apa Nona memanggilku?" tanya He Hua ingin tahu sekaligus penasaran.
"Pertama perkenalkan namaku adalah Jin Ya, seorang penyampai pesan."
"Kau tahu alasan mengapa kau tiba-tiba terlempar ke dunia lain?" tanya wanita yang mengaku bernama Jin Ya.
He Hua menggeleng tidak tahu.
"Tugasmu adalah mencari dua belas giok yang terbuat dari permata warna-warni," jelas Jin Ya.
Kedua alis He Hua berkerut tidak mengerti. "Untuk apa dua belas permata giok itu?" tanyanya.
"Apakah kau ingat beberapa tahun yang lalu, kau pernah menemukan foto seorang gadis kecil berambut cokelat tua?" tanya Jin Ya, membangkitkan ingatan yang sudah terjadi beberapa tahun yang silam.
He Hua tidak langsung menjawab.
"Foto seorang gadis kecil rambut cokelat? Rasanya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?' ujar He Hua.
Setelah berpikir lumayan lama, akhirnya He Hua mengingatnya. "Iya, aku ingat tentang foto itu. Bukankah itu foto mamaku di masa mudanya?"
Jin Ya menggeleng. "Kau tidak tahu fakta sebenarnya yang terjadi, orang tuamu tidak ingin membahas masalah yang terjadi di masa lalu."
"Masalah? Di masa lalu?" beo He Hua tidak mengerti.
"Sudahlah aku tidak ingin menjelaskannya, yang terpenting kau harus mencari dua belas giok permata warna-warni."
Setelah mengatakan itu wanita rupawan itu berubah menjadi cahaya, dan cahayanya terbang tertiup angin.
Bersamaan dengan itu mata He Hua terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah tatapan dan senyuman Mei Hwa. "Setelah satu hari akhirnya kau sadar." Mei Hwa membantu He Hua bangkit dari posisi tidur, tidak lupa Asmitha memberikan bantal di punggung He Hua. He Hua duduk bersender.
"Bagaimana keadaanmu He Hua?" tanya Asmitha Kumari.
"Kamu merasa lebih baik?" tanya Mei Hwa.
"Oh, ya aku telah membuatkanmu semangkuk sup jagung kesukaanmu. Ayo dimakan keburu dingin," sambung Mei Hwa memberikan mangkuk keramik hijau daun.
"Kau tahu sulit sekali mendapatkan bahan makanannya, jadi habiskan agar kau cepat sembuh."
"Keadaan baik, terima kasih teman-teman sudah merawatku. Terima kasih juga untuk sup jagungnya, maaf telah merepotkan kalian," jawab He Hua merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku senang kamu baik-baik saja. Sepi sekali tanpa dirimu He Hua," sahut Mei Hwa.
"Aku seharusnya yang meminta maaf karena aku He Hua terluka." Asmitha Kumari membungkuk meminta maaf.
"Sudahlah semuanya sudah berlalu, dan tidak bisa menyalahkan kamu Asmitha."
"He Hua aku sudah mencatatkan materi pelajaran hari ini." Yang Zian memberikan segulung kertas.
"Terima kasih, Yang Zian. Maaf telah merepotkanmu." Tuan Muda keluarga Yang mengangguk.
"Aku permisi kalau begitu."
****************************************
Udara sejuk singgah di indra penciuman. Kicauan burung bernyanyi membuat lagu sendiri bersama bambu-bambu yang saling bergesekan ketika angin berembus.
Sekelompok pegawai tingkat bintang dua membentuk dua barisan rapi di tengah hutan bambu. Di hadapan dua kelompok itu Run Yu beserta Long Wei berdiri memberikan instruksi kepada bawahan.
"Kalian cari petunjuk di sekitar sini dan kalian cari petunjuk di sana. Segera laporkan jika menemukan sesuatu yang mencurigakan!" titah Run Yu kepada bawahan-bawahannya.
"Baik, Tuan Run Yu!" Mereka menangkupkan tangan kompak, suaranya mantap. Kelompok terpecah menjadi dua bagian, tim A dan tim B.
Kedua tim itu segera memeriksa keadaan sekitar berpencar sesuai dengan yang diperintahkan atasan mereka.
Run Yu bersama pengawal setianya Long Wei beserta beberapa pengawal lainnya berjalan mencari petunjuk.
Di depan mayat-mayat bergelimpangan tak beraturan, aroma amis menguar di udara, rumput-rumput dan tanah berubah warna menjadi merah terang.
"Periksa dengan teliti jangan sampai melewatkan sejengkal pun !" perintah Run Yu tegas.
"Baik!" sebagian pegawai tingkat bintang dua dengan seragam hitam membungkus badan menangkupkan tangan, segera memeriksa keadaan sekitar.
Run Yu memeriksa mayat pria muda di dekatnya, punggung, dan bahunya tersayat.
"Kematiannya diakibatkan oleh pedang."
"Lapor Tuan Run!" pengawal menangkupkan tangannya.
"Apa yang kalian temukan?" tanya Run Yu menatap bawahannya.
"Kami tidak menemukan mayat lain selain petugas penjaga hutan bambu Academy Chao Xing."
"Tidak ada bukti kuat yang tertinggal, Tuan Run."
"Bawa semua mayat-mayat ke Departemen Selatan tanpa terkecuali," perintah Run Yu yang dipatuhi bawahannya.
Di ruang kerja Run Yu
"Menurutmu bagaimana pengawal Long Wei?" tanya Run Yu kepada pengawal Long yang berdiri di samping kanannya.
"Mereka sudah mengetahui jika Departemen Selatan akan menyelidiki kasus kematian penjaga hutan bambu. Oleh karena itulah, mereka tidak meninggalkan tanda atau bukti-bukti yang kuat."
Run Yu mengangguk. "Mereka mengira bisa bebas begitu saja merasa tidak ada bukti."
"Selama beberapa hari ke depan perintahkan beberapa orang dari tingkat bintang dua untuk menyelidiki, perintahkan mereka untuk menyamar sebagai rakyat biasa."
"Baik Tuan Run!"
Long Wei adalah pengawal sekaligus bawahan Run Yu yang paling setia dan bisa dipercaya.
Long Wei pamit, melaksanakan perintah tuannya.
Run Yu memerintahkan pelayan wanita menuangkan teh hijau.
******************************************
Luka di kaki kanan Asmitha Kumari sudah sembuh seratus persen. Tangannya sedang menyulam sapu tangan berbentuk sepasang angsa.
"Bagus tidak?" tanya Asmitha Kumari menunjukkan hasil sulamannya pada He Hua.
He Hua mundur beberapa langkah ke belakang. Ingatan saat dikejar sepasang angsa di hutan sampai pasar terkenang kembali.
"Tidak apa-apa hanya sedikit kaget, biasanya kamu menyulam bebek mandarin dan hari ini kamu menyulam hewan lain," ujat He Hua.
Asmitha Kumari tertawa renyah. "Oh, karena itu. Bosan menyulam bebek mandarin, harus mencari inovasi baru."
"Hm, He Hua kamu tahu tidak, waktu kamu sakit Li Xinyuan terlihat khawatir. Dia sampai membentak Mei Hwa," adu Asmitha Kumari.
He Hua tertawa tak percaya. "Mana mungkin Tukang Sambung Listrik khawatir kepadaku."
"Aku serius, tidak bohong. Li Xinyuan benar-benar khawatir kepadamu. Dia juga memberikan banyak energi spiritualnya untuk mempercepat proses penyembuhanmu."
"Benarkah itu?" tanya He Hua menatap Asmitha Kumari menyimpan kain sulamannya ke dalam lemari.
"Tentu saja!" sahut Asmitha.
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Dia mungkin berada di kamarnya," jawab gadis India, jari telunjuk tangannya mengarah ke kanan menunjuk letak kamar Li Xinyuan dan Yang Zian.
"Aku ingin ke kamarnya untuk mengucapkan terima kasih."