Chapt. 2

1206 Kata
Pagi ini, Zaina tengah bersiap untuk berangkat ke kampus. Syar'i hitam dengan hijab senada. Berjalan meninggalkan kamar setelah memastikan tidak ada barang tertinggal. "Assalamualaikum umi, abi" "Waalaikumsalam nak. Ayo duduk, makan yang banyak."ucap Abi. Zaina hanya terkekeh kecil, mengambil piring lalu menuangkan nasi goreng terlezat buatan sang umi. Membaca bismillah lalu menyuapkan nasi goreng itu kedalam mulutnya. "Pulang jam berapa nak?" tanya umi. "Em... gak tau ya mi, tapi nanti kalau sudah selesai langsung pulang." Umi mengangguk, "Hati-hati nanti." Zaina hanya mengangguk menjawab pertanyaan umi. Tidak ada yang mengeluarkan suara terkecuali dentingan sendok yang beradu dengan piring. "Alhamdulillah." gumam Zaina. "Zaina langsung berangkat ya mi, bi." "Kok cepat banget nak?"tanya abi. "Iya, Zaina mau print tugas pak Yusuf." Abi mengangguk, "Ya sudah, hati-hati. Jangan ngebut bawa motornya, bilangin Arum." Zaina mengangguk sembari mencium punggung tangan umi dan abi bergantian. "Zaina berangkat. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." *** "Ma syaa Allah, seger nya."ucap Zaina. Arum terkekeh kecil. Saat ini keduanya tengah berada dijalanan dengan udara segar dipagi hari. Zaina merentangkah kedua tangannya, menikmati angin yang menerpa wajahnya. "Baik-baik Na. Jatuh aku nggak nanggung ya." Zaina tersadar lalu memegang tas Arum dengan erat. "Ya, kamu jangan ngedoain juga Rum." "Enggak ngedoain. Aku cuma bilang aja." Zaina mengerutkan bibirnya.  Kemudian laju motor melambat saat terlihat rambu lalu lintas berwarna merah. Para pengendara menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Begitu juga salah satu mobil berwarna hitam disamping mereka. Kaca mobil itu turun secara perlahan. menampakan sang pengemudi dengan baju kemeja berwarna biru. "Mbak, bajunya... Zaina." Arum dan Zaina menoleh begitu juga beberapa pengendara yang berada disampingnya. "Pak Azzam." "Zaina, bajumu." Zaina tersadar kemudian melihat bajunya sedikit menjuntai hampir menyentuh roda motor.  "Astaghfirullah. Terimakasih pak." Azzam mengangguk sekali, "Hati-hati." Kaca mobil itu kembali naik dan melaju meninggalkan mereka. Diikuti Arum dan yang lainnya dikarnakan lampu lalu linta telah berwarna hijau. "Aku pikir siapa. Ternyata pak Azzam."ucap Arum. Aku mengangguk, "Iya, aku kaget waktu namaku disebut." *** Kami akhirnya sampai di kampus, Arum memarkirkan motornya diikuti mobil hitam disamping kami. MObil pak Azzam. "Assalamualaikum pak, selamat pagi." sapa kami berbarengan. "Waalaikumsalam. Zaina, lain kali perhatikan pakaian mu ketika berkendara. Itu berbahaya." Zaina mengangguk patuh, "Iya pak, saya mungkin tadi lupa." "Ya sudah saya ke ruangan. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Arum menyenggolku, "Wih, diperhatiin dengan pak dosen ganteng." Zaina mengerutkan dahi kemudian menggeleng dan berjalan meninggalkan Arum yang terbahak. Sungguh, apa hubungannya dengan itu? Toh pak Azzam hanya mengingatkan saja. "Jangan begitu."ucap Arum tiba-tiba membuat Zaina kaget. "Kamu... gak bisa bikin aku gak jantungan?" Arum terkekeh."Gimana dengan jantungmu?" "Apa sih Rum, kamu gak jelas banget deh. Gak ada hubungan apa-apa dengan jantung aku. Semua baik aja." "Yah, kamu gak tahu sih. Di grup kampus penuh dengan pembicaraan pak dosen ganteng itu." "Ya terus? Hubungannya dengan aku apa?" "Sudah, lupakan. Kamu gak akan ngerti deh." "Ya emang enggak ngerti." *** "Baik semuanya, saya akan membahas materi kali ini tentang Sistem Operasi. Di semester sebelumnya mungkin kalian sudah belajar materi ini. Tapi, kali ini akan dibahas lebih mendalam. Nah, karna berhubung kalian telah punya materi dalam bentuk cetak. Silahkan dibaca, jika ada yang tidak mengerti silakan tanyakan pada saya." Pak Yusuf tampak memperhatikan sekitar. Menunggu akan kah ada yang ingin bertanya sembari menumpukan kakinya pada kaki satunya. "Bagaimana?" Salah satu mahasiswa menunjuk tangan dengan ragu.  "Ya silahkan. Ingin bertanya apa?" "Eh.. Em anu pak."ucap nya dengan gagu sembari menunjuk ke kanan. Semua orang lantas menoleh mantapa arah yang laki-laki itu tunjuk. Dimana Ranu tengah terlelap dengan damai dan tenangnya di bangku belkang. Pak Yusuf membei kode kepada semuanya untuk diam. Laki-laki paruh baya itu membuka tas nya dan mengeluarkan botol minumnya yang berwarna biru berukuran cukup besar. Ia berjalan menuju bangku Ranu sembari membuka tutup botolnya. Dengan perlahan, air itu meluncur menuju kepala Ranu dan. "BANGUUUUN!!!" Pak Yusuf memekik tepat ditelinga Ranu membuat laki-laki itu terbangun dengan keadaan kaget. Basan dan berdenging. "Bapak?" "Apa?Apa? Kamu gak bisa sekali saja untuk tidak tidur di perkuliahan saya? Bosan saya untuk selalu menegur kamu." "Ya, saya gak minta bapak bangunin kok." "Menjawab lagi kamu. Sekarang keluar dari kelas saya. Ini untuk yang kesekian kalinya. Tapi untuk kali ini saya gak bisa diam. Kamu akan saya laporkan ke BAAK." "Yah pak, jangan dong. Salah mulu dah saya. Tidur salah, Berisik salah." "Ya salah. Sudah dari pada kepala saya pecah menghadapi kamu, lebih baik keluar. Sekarang!."usir pak Yusuf. Ranu berjalan sembari menenteng tasnya menuju pintu. "Loh, Kamu kenapa keluar?" "Eh pak Azzam, Enggak kok pak. Mari." Azzam mengerut dahi bingung menatap kepergian salah satu mahasiswanya dan ruang dimana laki-laki tadi keluar. Tanpa mau ikut campur, ia kembali berjalan meninggalkan tempat untuk kembali kekelas nya mengajar. *** "Apes banget deh gue hari ini."rutuk Ranu. Saat ini, Zaina, Arum dan Dana berada dikantin bersama Ranu yang sedari tadi menunggu mereka. Laki-laki itu tak henti-hentinya mengoceh karna hal tadi. "Gue kan cuma tidur doang, masa salah. Dari pada gue ganggu yang lain kan mending tidur aja." "Tapi, lu juga salah. Sudah tau pak Yusuf gak suka ada yang idur dikelasnya, masih aja dilakuin." "Ya mau gimana, gue semalam gak tidur."jawab Ranu. "Kenapa?" tanya Arum. "Gue semalam begadang, memecahkan rekor."jawab Ranu dengan bangga. Yang lain mengerutkan dahi dan saling menatap dengan bingung. Menunggu lanjuta dari ucapan Ranu yang mereka tidak mengerti. "Nih ya gue semalam begadang karna...."Ranu menjeda ucapanya. "Apa?" tanya Zaina. "Gue..." "Apaan deh lama lu."gerutu Dana tak sabaran. "Gue... memecahkan level dalam game gue." Zaina dan yang lainnya berdecak malas, kemudian menatap Ranu dengan malas. Sementara laki-laki itu menepuk dadanya tanda bangga. "Gak jelas banget." BYUUR Ranu terdiam begitu pun yang lain. Suasana kantin yang awalnya ramai seketika hening. Seorang wanita menatap Ranu dengan tajam. "Apaan sih ini."geram Ranu. "Apa? Mau marah?" "Nit kamu apaan sih?" "Kamu yang apaan Ran. Kamu anggap aku ini apa?"Ucap Nita dengan berapi-api. FYI - NIta adalah pacar Ranu yang tadi menyiran Ranu dengan segelas air yang ia bawa. Zaina menatap mereka bergantian dengan bingung. "Maksud kamu apaan?" "Kamu semalam kemana? Kenapa gak angkat telfon aku?" "Aku semalam..." "Main game? Kamu anggap aku ini apaan sih? Kalau begini cara kamu, aku mau putus. Gak sanggup aku kamu giniin Ran." "Ya sudah kalau mau putus. Okey." Nita dan temannya ternganga lebar, begitu juga Zaina, Arum dan Dana. Menatap Ranu dengan tidak percaya. Begitu gampangnya kan laki-laki itu menrima ajakan pututs dari sang kekasih? "Gak nyangka aku dengan kamu Ran."ucap Nita dengan kecewa kemudian berlalu. "YEEES!!" pekik Ranu sembari menggepalkan kedua tangannya diudara.  Semua yang ada dikantin masih terdiam menatap Ranu yang tampak senang. "Apa?"tanya Ranu. Semuanya kembali pada aktifitas mereka setelah sadar dari kebingungan dan kembali tidak perduli. Beda dengan ketiga temannya.  "Kenapa?." "Kok.. Kamu senang?" tanya Zaina. "Ck, gini ya. Tuh cewek sinting. Gila banget gue di kekang gak boleh ini lah gak boleh itu lah. Gue juga dari awal sudah pengen pututs, tapi tuh cewek ngemis-ngemis gak mau putus. Ya sudah gue lakuin hal kayak tadi beberapa hari ini." "Main game?" tanya Arum hati-hati. Ranu mengangguk, "Iya. Bisa gila gue lama-lama." Dana menepuk pundak Ranu dengan tak percaya. "Gila lu, ini salah satu motivasi gue kalau gue nemu pacar kyak si mantan lu itu. Thanks bro." "Sama-sama bro. Ingat, kita gak boleh lemah dimata cewek." Arum dan Zaina saling menatap dengan bingung, kemudian kembali menyibukkan diri pada buku ditangan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN