Fajar yang Berkhianat

1461 Kata
Cahaya fajar yang kelabu merembes perlahan dari balik tirai sutra, menyisakan bayang-bayang remang di kamar yang masih sarat aroma peluh dan gairah semalam. Lea terjaga dengan tubuh terasa remuk—setiap inci kulitnya berdenyut, seolah masih mengingat klaim Alex yang tanpa ampun. Ia sempat berharap bisa mencuri napas sejenak sebelum pagi benar-benar menagih kenyataan, tetapi harapan itu runtuh begitu saja. Di sisinya, sang pemilik kampus tak membiarkan pagi datang dengan damai. Alex bergerak—bukan untuk bangun, melainkan untuk kembali menarik Lea ke dalam orbit kuasanya. Telapak tangannya yang hangat dan besar menyusuri perut Lea, memantik getaran instan yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang. “Nggh… Alex, hentikan, sudah cukup,” bisik Lea serak, mencoba menjauh secara naluriah. “Pagi adalah waktu terbaik untuk mengingatkanmu pada posisimu, Arabella,” jawab Alex rendah. Suaranya di ambang fajar terdengar lebih dalam, lebih parau—dan jauh lebih berbahaya. Tanpa peringatan, ia menenggelamkan wajah di antara rambut Lea yang kusut, menciumi ceruk leher yang masih dipenuhi tanda kemerahan dari semalam. Bibirnya yang panas menghisap kulit sensitif itu, seakan memperbarui cap kepemilikan yang tak ingin ia biarkan memudar. “Alex… ah—jangan di sana… nanti terlihat di kampus,” rintih Lea, kepalanya terkulai ketika sensasi itu kembali membakar saraf-saraf yang kelelahan. “Biarkan mereka melihatnya,” gumam Alex di sela cumbuan. “Biarkan dunia tahu kau habis kuhancurkan semalam.” Tangannya tak pernah diam. Ia menyusup di antara paha Lea, menemukan betapa tubuh wanita itu masih terjaga—peka, basah, menyimpan sisa badai yang belum reda. Dengan permainan jari yang terlatih, Alex membangunkan kembali gairah yang sempat terpaksa tertidur. “Hh—Alex… kumohon…” Lea merintih parau. Tubuhnya mengkhianati akal sehat; keinginan untuk lari berbenturan dengan sentuhan pagi itu yang terasa lebih intim, lebih menuntut. Alex mengerang rendah saat merasakan reaksi Lea. Ia tak membuang waktu. Dalam satu gerak dominan, ia menarik Lea duduk di atas pangkuannya, memaksa tatapan mereka bertaut di bawah cahaya pagi yang jujur. Jemarinya mencengkeram rahang Lea, mengangkat wajahnya. “Kau terlihat sangat cantik saat berantakan seperti ini,” bisiknya sebelum memaksa bibir mereka bertemu dalam ciuman kasar yang menuntut. “Lupakan kelas pagimu. Aku belum selesai denganmu.” Cumbuan kembali memanas—lebih liar karena kini tak ada lagi perlindungan malam. Di bawah sinar fajar yang tak berbohong, Alex memulainya lagi: sebuah ronde yang lebih lambat, lebih menyiksa, memastikan bahwa ketika Lea melangkah ke kampus nanti, setiap langkahnya akan membawa ingatan tentang penyatuan itu—tak terelakkan, tak terlupakan. Fajar yang perlahan menyapu sisa kegelapan justru menajamkan kontras antara kulit pucat Lea dan jemari Alex yang kokoh. Lea terengah, jemarinya mencengkeram bahu lebar pria itu ketika tubuhnya dipaksa tegak di atas pangkuannya. Ia merasa telanjang sepenuhnya—bukan hanya oleh cahaya pagi yang jujur, melainkan oleh tatapan Alex yang gelap, menuntut, dan tak memberi ruang untuk mengelak. “Alex, aku harus—ah!” Kalimat itu patah menjadi pekikan halus saat pusat gravitasi mereka dipertemukan tanpa sisa jarak. Alex tak memberi jeda; lengannya mengunci pinggang Lea dengan kekuatan yang membuatnya merasa kecil, ringkih, sepenuhnya berada di bawah kendali. Sentuhan Alex tak lagi sekadar rayuan, melainkan invasi yang terukur. Ritmenya dimulai perlahan namun dalam, setiap gerakan dirancang untuk menyiksa saraf Lea yang sudah terlampau peka. Ia menarik rambut Lea ke belakang, memaksa kepala wanita itu menengadah dan memperlihatkan lehernya yang jenjang—sebuah gestur d******i yang menuntut penyerahan, bukan sekadar tubuh, melainkan kehendak. Meski otot-ototnya memprotes karena kelelahan, tubuh Lea justru melengkung menyambut. Desah napas yang memburu dan gesekan kulit memenuhi kamar yang kian terang, membentuk melodi intim sekaligus primitif. “Lihat aku, Arabella,” perintah Alex serak di telinga Lea. “Rasakan bagaimana tubuhmu gemetar karena aku.” Lea tak bisa berpaling. Dunianya menyempit menjadi sentuhan kasar itu, menjadi panas yang menjalar hingga ke ujung-ujung jari. Pandangannya mengabur, digantikan kilatan putih yang meledak di balik kelopak mata. Ketegangan memuncak. Alex mempercepat tempo, mengabaikan rintihan protes yang berubah menjadi desahan penuh damba. Lea mencengkeram lengan Alex, kukunya meninggalkan jejak saat ia mencari pegangan di tengah ombak kenikmatan yang datang bertubi-tubi. “Alex… sekarang… kumohon…” Suaranya pecah, serak di ambang batas. Alex mengerang berat—suara rendah yang bergetar dari dadanya. Dengan satu sentakan final yang sarat kuasa, ia membawa mereka melampaui tepi. Seluruh tubuh Lea menegang, lalu luruh; ledakan itu melumpuhkan kesadarannya hingga ia terkulai di d**a Alex, napasnya tersengal di sela isak kecil yang tak tertahan. Keheningan menyusul, diisi hanya oleh detak jantung yang berpacu liar. Alex memeluk tubuh Lea yang masih bergetar, mencium keningnya dengan posesif. ​"Sekarang bersihkan dirimu," bisik Alex dingin setelah napasnya teratur, seolah baru saja melakukan percakapan bisnis. "Aku menunggumu dalam lima belas menit. Jangan terlambat, atau aku akan mengulanginya lagi." Lea melangkah tertatih menuju kamar mandi berdinding marmer dingin. Tungkainya gemetar, seakan setiap langkah menyimpan gema dari malam yang baru saja meluluhlantakkan dirinya. Ada perih yang tak sepenuhnya bisa ia abaikan, denyut samar yang membuat napasnya kerap tersendat, seolah tubuhnya menolak melupakan apa yang telah terjadi. Di depan cermin besar yang permukaannya tertutup embun, Lea berhenti. Tangannya yang gemetar mengusap kaca, dan pantulan yang muncul membuat dadanya seketika mengempis. “Ya Tuhan…” bisiknya lirih. Tubuh yang selama ini ia kenal sebagai miliknya sendiri kini terasa asing. Di ceruk lehernya, bayangan keunguan membekas jelas, kontras dengan kulitnya yang pucat. Lebih ke bawah, jejak kemerahan di pinggul dan pahanya membentuk pola yang tak bisa disangkal—bekas cengkeraman yang terlalu kuat, terlalu pasti, seolah seseorang sengaja meninggalkan tanda agar tak pernah terlupakan. Sentuhan jemarinya pada salah satu bekas itu memanggil kembali suara yang ingin ia kubur dalam-dalam. Kalimat dingin, nyaris kejam, bergaung di kepalanya: Biar seluruh dunia tahu. Lea memalingkan wajah. Ia menyalakan pancuran. Air hangat mengalir, namun alih-alih menenangkan, sentuhannya justru memicu rasa perih yang membuatnya merintih pelan. Ia bersandar pada dinding keramik, membiarkan air jatuh membasahi wajahnya, mengalir bersama napas yang gemetar dan emosi yang tak sempat tertata. Di dalam dadanya, dua perasaan bertabrakan tanpa ampun. Akalnya menjerit, menyebut apa yang dialaminya sebagai kehancuran—perlakuan yang merenggut kendali dan harga diri. Namun tubuhnya, pengkhianat yang kejam, masih menyimpan sisa getaran yang membingungkan, denyut liar yang menolak padam. Antara luka dan candu, Lea terjebak di wilayah abu-abu yang membuatnya membenci dirinya sendiri. Lea mematikan pancuran. Keheningan yang menyusul terasa menekan, seolah kamar mandi itu menyimpan gema napasnya yang belum sepenuhnya pulih. Ia meraih jubah mandi dan membungkus tubuhnya tanpa menatap cermin. Pintu kamar mandi terbuka. Kamar itu kosong. Ranjang masih berantakan, sprei kusut menjadi saksi yang tak bertanya. Alex sudah pergi—tanpa pesan, tanpa penjelasan. Yang tertinggal hanya aroma parfumnya, tajam dan asing, seperti jejak transaksi yang telah selesai. Lea bergerak cepat. Ia mengenakan pakaian seadanya, menutup tanda-tanda yang tak ingin ia jelaskan pada siapa pun. “Aku harus pergi,” bisiknya, lebih untuk menjaga langkahnya tetap maju. Ia mengambil tas, mengabaikan apa pun yang ditinggalkan di kamar itu. Lorong hotel terasa panjang dan sunyi, tiap langkah seperti menjauh dari ruang yang tak pernah benar-benar aman. Di lobi, ia memesan taksi. Bukan kendaraan yang disediakan, bukan yang bisa melaporkan ke mana ia pergi. Mobil berhenti. Lea masuk ke kursi belakang. “Ke mana, Mbak?” tanya sopir. “Jalan saja. Jauh dari sini.” Mobil melaju. Lea menyandarkan kepala ke kaca, melihat hotel itu mengecil lalu menghilang. Di dalam dadanya, konflik belum reda. Namun untuk saat ini, ia punya jarak—dan napas yang akhirnya miliknya sendiri. Taksi melaju di bawah gemerlap lampu kota yang perlahan mengabur di mata Lea. Sopir melirik lewat spion, menangkap wajah pucat dengan sorot mata yang kini mengeras—nekat. “Pak, ubah tujuan,” ujar Lea, suaranya lebih tenang meski getir. “Ke Club Malam Madam Rose.” Taksi berhenti di depan bangunan bermandikan neon merah berbentuk mawar. Begitu pintu terbuka, dentuman bas menghantam tanpa ampun, seperti jantung kedua yang dipaksakan berdetak di dadanya. Lea melangkah masuk. Udara di dalam terasa berat—dipenuhi asap, parfum, dan rahasia. Cahaya lampu menari liar, memecah wajah-wajah menjadi siluet tanpa nama. Ia bergerak lurus, seolah ada sesuatu yang menariknya ke bagian terdalam klub, ke lorong sempit yang jauh dari keramaian lantai dansa. Di sana, kebisingan meredup. Musik berubah menjadi dengung rendah. Lea melambat. Di ujung lorong, seorang perempuan berdiri dengan punggung tegak dan aura yang tak bisa disalahartikan. Gaun hitamnya sederhana, senyumnya tipis—senyum seseorang yang terbiasa memegang kendali. Madam Rose. Perempuan itu menoleh, seolah sudah tahu Lea akan datang malam ini. Tatapan mereka bertemu, dan untuk sesaat Lea merasa seperti sedang ditelanjangi—bukan oleh mata, melainkan oleh pengetahuan. Madam Rose tersenyum kecil. “Akhirnya,” ucapnya pelan, nyaris tenggelam oleh musik di kejauhan. “Kau sendiri yang datang.” Dada Lea mengencang. Ia datang untuk berhenti. Namun saat itu juga ia tahu— tidak semua pintu yang terbuka akan membiarkan seseorang pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN