Alex melepaskan ponselnya ke atas nakas dengan hentakan kasar yang memecah keheningan pagi. Tanpa memedulikan rasa sakit yang mungkin dirasakan Lea, ia menarik kasar dasi sutra yang mengikat pergelangan tangan gadis itu hingga terlepas. Bekas merah keunguan tercetak jelas di kulit pucat Lea, namun Alex hanya meliriknya sekilas dengan tatapan yang kembali dingin dan berjarak.
"Bangun," perintah Alex, suaranya rendah dan tak terbantahkan.
Lea mencoba menggerakkan lengannya yang kaku, rintihan kecil lolos dari bibirnya yang pecah. "Alex... tubuhku sakit sekali..."
Bukannya luluh, Alex justru menarik lengan Lea, memaksanya duduk di tepi tempat tidur. "Aku tidak punya waktu untuk drama pagimu, Arabella. Mandi dan bersihkan dirimu sekarang juga. Sopir akan mengantarmu kembali ke rumah dalam sepuluh menit."
Dengan sisa tenaga yang ada, Lea terhuyung menuju kamar mandi di bawah pengawasan tajam Alex yang kini mulai mengenakan kemejanya kembali. Setiap gerak-gerik Alex memancarkan ketegangan; panggilan telepon tadi jelas berasal dari ayahnya, sang penguasa yayasan yang tidak pernah mentoleransi keterlambatan.
Sepuluh menit kemudian, Lea sudah berdiri di depan pintu kamar dengan pakaian yang berantakan dan wajah sembab yang berusaha ia tutupi dengan rambutnya. Alex mendekat, merapikan kerah baju Lea dengan gerakan yang terlihat seperti perhatian namun terasa seperti ancaman.
"Kau pulang ke rumahmu hari ini, dan sopir pribadiku yang akan memastikan kau sampai di sana," ucap Alex, suaranya sedingin es yang menggores permukaan kaca. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Lea bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari tubuh pria itu.
Tangan Alex bergerak perlahan, menyelipkan seuntai rambut ke belakang telinga Lea dengan gerakan yang lebih menyerupai ancaman daripada kasih sayang. "Satu peringatan terakhir, Arabella: jangan pernah mencoba memancing amarahku lagi. Jika aku sampai melihatmu berinteraksi—sekecil apa pun—dengan pria lain, aku akan memastikan kakimu menjadi begitu lemas hingga kau tidak akan pernah bisa berdiri lagi, apalagi melangkah pergi dariku."
Tatapan Alex mengunci netra Lea yang bergetar, memastikan setiap kata yang diucapkannya tertanam sebagai ketakutan yang permanen. Setelah merasa pesannya tersampaikan dengan sempurna, ia melepaskan Lea tanpa simpati, menyambar jasnya, dan melangkah pergi menuju Yayasan Pusat Baskara untuk menemui sang penguasa tertinggi, Sebastian Emir Baskara.
Gedung pencakar langit yang menjulang angkuh itu seolah mencerminkan watak pemiliknya: dingin, kokoh, dan tak tersentuh. Alex melangkah melewati koridor utama dengan langkah tegap yang menggema, membuat para karyawan menahan napas dan menunduk dalam, seolah sang malaikat maut baru saja melintas.
Di lantai teratas, di balik pintu ganda yang terbuat dari kayu jati hitam, Sebastian Emir Baskara sudah menunggunya. Pria paruh baya itu berdiri membelakangi ruangan, menatap hiruk-pikuk kota dari balik jendela kaca raksasa.
"Kau terlambat, Alexander," suara Sebastian mengalun berat, sarat akan otoritas yang absolut.
Alex berhenti beberapa langkah di belakang ayahnya, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Ada hal yang harus kuurus dulu sebelum aku ke sini."
Sebastian berbalik perlahan, matanya yang tajam seperti elang memindai putra tunggalnya. "Maksudmu, memastikan 'mainan' kecilmu itu tidak melarikan diri?" Ia mendengus sinis, melemparkan sebuah map berisi foto-foto Lea ke atas meja kerja yang luas. "Kau membuang waktu hanya untuk urusan remeh seperti itu. Ingat siapa dirimu, Alex. Jangan sampai obsesimu pada gadis kelas bawah itu membuatmu lupa bahwa di dunia ini, kau hanyalah seekor predator yang harus tunduk pada aturan yang kubuat."
Sebastian melangkah mendekat, auranya terasa begitu menekan hingga oksigen di ruangan itu seakan menipis. "Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi lemah karena seorang wanita. Jika kau tidak bisa mengendalikan dirimu, aku yang akan melenyapkan penyebab gangguan itu."
Sebastian berbalik dengan satu sentakan cepat, wajahnya yang biasanya tenang kini mengeras dengan urat-urat yang menonjol di pelipis. Ia menghantamkan telapak tangannya ke atas meja mahoni, menciptakan suara dentuman yang menggema di seluruh ruangan.
"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan, Alexander?!" geram Sebastian, suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan. "Dan aku baru saja menerima laporan bahwa kau memecat Danu secara sepihak. Danu! Orang yang sudah mengabdi selama puluhan tahun, Dosen Senior di Fakultas kita yang kau sendiri pun belum tentu sanggup kuasai sepenuhnya!"
Alex tetap berdiri tegak, meski matanya menyipit tajam. "Dia melewati batasannya."
"Batas yang mana?" Sebastian melangkah maju, memangkas jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan putranya, menatapnya dengan binar penghinaan. "Batas karena dia mencoba mengingatkanmu tentang pekerjaan? Ataukah karena dia tidak sengaja melihatmu sedang memuja wanita rendahan itu?"
Ia mencengkeram kerah jas Alex, menariknya dengan kasar agar mata mereka sejajar. "Dengarkan aku baik-baik, Alexander. Di gedung ini, logika adalah hukum tertinggi. Kau baru saja menukar loyalitas puluhan tahun dengan kepuasan sesaat di atas ranjang. Kau bertindak seperti bocah amatir yang sedang jatuh cinta, bukan sebagai pewaris Baskara!"
"Kau mengancamku?" Alex menyahut, suaranya tetap rendah namun mengandung desisan berbahaya yang memotong keangkuhan ruangan itu. Ia melangkah maju, menantang gravitasi kekuasaan yang diciptakan Sebastian. "Jangan pernah menyentuh apa yang sudah menjadi hak milikku. Kau sendiri yang mengajariku bahwa seorang Baskara tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang telah ia tandai."
Sebastian tertawa sumbang, sebuah suara parau yang penuh penghinaan. "Hak milik? Kau menyebut wanita yang kau seret dari club malam itu sebagai hak milik? Kau bertindak seperti bocah yang kehilangan akal sehat demi memuaskan gairah pada seorang jalang!"
"Jaga bicaramu!" Alex menggeram, matanya berkilat gelap karena amarah yang nyaris meledak. "Danu melewati batasnya. Dia tidak hanya mencampuri urusan pribadiku, tapi dia sudah mencoba menyentuh mahasiswi yayasan ini. Dan Arabella... dia bukan jalang. Dia adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kau beli dengan uangmu."
"Aku membencinya karena dia membuatmu menjadi lemah!" Sebastian menghantam meja mahoninya hingga suara dentuman itu menggema seperti tembakan meriam. "Kau membuang tenaga pendidik terbaik kita, orang yang dihormati di seluruh kampus, demi ego sesaat. Kau pikir kau bisa menjalankan yayasan pendidikan ini sendirian setelah mengusir pilar-pilarnya? Kau menukar kehormatan seorang dosen senior dengan kepuasan dari wanita club malam. Itu bukan perilaku seorang predator, Alexander. Itu perilaku pecundang!"
Sebastian mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, aura otoritasnya menguar dingin. "Bawa Danu kembali ke Yayasan hari ini juga. Jika tidak, aku akan memastikan gadis itu menghilang dari muka bumi ini sebelum matahari terbenam. Pilihlah: egomu, atau nyawa mainanmu itu."
Alex menarik napas panjang, membiarkan gema bentakan ayahnya memudar di udara yang kaku. Ia merapikan kembali kerah jasnya yang sempat berantakan dengan gerakan mekanis yang sangat tenang, hampir tanpa emosi. Kilat obsesi yang gelap di matanya meredup, digantikan oleh topeng kepatuhan yang sempurna—sebuah kamuflase yang sering ia gunakan untuk menjerat lawan-lawannya.
"Baik," ucap Alex dengan nada yang mendadak tenang. "Jika itu maumu. Aku akan memulihkan jabatan Danu sebagai dosen senior. Dia akan kembali mengajar... persis seperti yang kau inginkan. Aku akui, tindakanku mungkin terlalu impulsif kemarin."
Sebastian menatap putranya dengan mata menyipit, mencari celah kebohongan di balik wajah yang sekeras batu itu. Namun, ia hanya menemukan kepatuhan yang dingin. "Bagus. Pastikan dia kembali ke posisinya sebelum matahari terbenam. Jangan biarkan urusan ranjang menghancurkan struktur yang sudah kubangun."
Sebastian berbalik kembali menghadap jendela, merasa telah menegakkan otoritasnya. Namun, ia tidak melihat bagaimana rahang Alex mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang.
Begitu Alex keluar dari ruangan dan pintu jati itu tertutup rapat, ia melangkah menuju lift dengan tatapan yang kosong namun mematikan. Ia mengeluarkan ponselnya, jemarinya bergerak cepat di atas layar. Ia menghubungi departemen HRD untuk membatalkan pemecatan.
"Batalkan pemecatan terhadap Danu, suruh dia masuk kembali seperti biasa." perintah Alex, suaranya kini sehalus sutra namun mengandung racun. "Biarkan dia kembali ke kursinya hari ini. Dan berikan dia rasa aman yang palsu."
Alex melangkah masuk ke dalam lift yang berdinding cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Seringai tipis yang mengerikan muncul di sudut bibirnya.
'Kau ingin kembali, Danu? Silakan,' batinnya. 'Ayahku mungkin bisa memaksaku memberimu jabatanmu lagi, tapi dia tidak bisa mencegahku menciptakan neraka pribadimu di dalam yayasan ini.'
Pintu lift berdenting terbuka, namun Alex tidak segera melangkah keluar. Bayangan Lea yang terhuyung menuju kamar mandi dengan tubuh gemetar terus menghantui benaknya. Ada secercah kepuasan saat mengingat bagaimana ia menandai kulit pucat itu, namun ada pula percikan kemarahan yang tak beralasan setiap kali ia membayangkan mata Lea yang bergetar ketakutan.
Ia melirik jam tangan pintarnya. Dua belas menit. Seharusnya sopirnya sudah memberikan laporan.
Dengan gerakan gusar, Alex merogoh saku jasnya dan menghubungi sang sopir. Begitu panggilan tersambung, suara pria di seberang sana terdengar sangat formal namun menyimpan nada cemas.
"Lapor, Tuan. Nona Arabella sudah sampai di kediamannya lima menit yang lalu."
"Apakah dia turun dengan tenang?" tanya Alex dingin, matanya menatap tajam pantulan dirinya di cermin lift.
"Nona... dia tampak sangat lemas, Tuan. Dia hampir terjatuh saat keluar dari mobil, tapi dia menolak bantuan saya. Dia langsung masuk ke dalam tanpa menoleh lagi."
Alex memutuskan sambungan secara sepihak tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia melangkah keluar menuju lobi utama, mengabaikan sapaan hormat dari para staf yang ia lewati. Pikirannya kini terbelah antara rencana penghancuran Danu secara perlahan dan bayangan Lea yang mungkin sedang meringkuk di balik pintu rumahnya yang sempit.
Dia harus tahu tempatnya, batin Alex ketus. Dia harus sadar bahwa satu-satunya oksigen yang boleh ia hirup adalah yang aku izinkan.
Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling gelap, ada sesuatu yang terasa salah. Alex membenci fakta bahwa ayahnya bisa mengancam nyawa Lea dengan begitu mudah. Bagi Alex, Lea bukan sekadar "mainan" seperti yang dikatakan Sebastian. Dia adalah obsesi yang ia kurung dalam sangkar emas, dan tak ada seorang pun—bahkan ayahnya sendiri—yang boleh merusak sangkar itu sebelum Alex sendiri yang memutuskan untuk menghancurkannya.
Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dengan sentakan kasar. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.
Lea menutup pintu rumahnya dengan tangan yang masih gemetar hebat, berharap dinding-dinding kusam ini bisa memberikan perlindungan yang gagal diberikan dunia luar. Namun, keheningan itu hanya bertahan sedetik sebelum sebuah tawa kecil yang kering menyambutnya.
"KAU MASIH PUNYA MUKA UNTUK PULANG, LEA?!"
Lea tersentak. Melinda berdiri di sana, bersandar di pintu dapur dengan tangan bersedekap. Tidak ada raut khawatir atau amarah suci seorang ibu. Melinda menatap Lea dari ujung kepala hingga ujung kaki, memindai pakaian yang kusut dan bercak merah kebiruan yang mengintip di balik kerah baju Lea dengan tatapan yang sangat tajam.
"Ibu..." suara Lea tercekat, air mata mulai menggenang.
"Jangan panggil aku dengan suara menjijikkan itu," Melinda melangkah mendekat, namun bukannya memukul, ia justru mengitari Lea seolah sedang menginspeksi barang dagangan yang baru saja kembali dari pembeli.
"Lihat dirimu. Bibir pecah, pergelangan tangan memar, dan berjalan seperti orang cacat. Alexander benar-benar memberimu kepuasan, bukan?"
Bukannya meledak karena simpati, sudut bibir Melinda perlahan terangkat. Sebuah senyum kemenangan merekah di wajahnya yang keras.
"Kau pikir aku akan marah melihatmu seperti ini?" Melinda berdesis, kini berdiri tepat di depan Lea. Ia mengulurkan tangan, menyentuh luka di bibir Lea dengan ibu jarinya, menekan sedikit hingga Lea meringis kesakitan. "Justru sebaliknya. Aku senang. Akhirnya kau sadar bahwa kau tidak lebih dari sekadar pemuas untuk pria seperti dia."
"Ibu, kenapa... kenapa kau bicara begitu? Dia menyakitiku," isak Lea, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Karena itu artinya kau sudah 'terikat', bodoh!" Melinda tertawa, kali ini lebih keras. Matanya berkilat puas. "Semakin dia menyakitimu, semakin dia terobsesi padamu. Dan semakin dia terobsesi, semakin besar peluangku untuk memeras setiap tetes hartanya melalui dirimu. Kau pikir kenapa aku membiarkanmu dibawa tiga hari yang lalu? Aku tahu pria seperti Alex tidak akan membiarkan 'mainannya' rusak begitu saja tanpa membayar kompensasi."
Lea membalikkan badan, namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, cengkeraman Melinda di lengannya kembali menguat, menahan gadis itu di tempatnya. Melinda sedikit membungkuk, menatap lekat-lekat wajah Lea yang sembab dengan binar mata yang mengerikan—seolah ia sedang menguliti rahasia paling kotor putrinya sendiri.
"Katakan padaku, Arabella," bisik Melinda dengan nada rendah yang penuh intrik. "Bagaimana rasanya? Apa kau menikmati setiap sentuhan Alexander?"
Lea menggeleng lemah, suaranya tercekat di tenggorokan. "Bu, tolong... jangan..."
"Kenapa? Kau malu?" Melinda justru tertawa kecil, jemarinya kini mengelus bekas memar di pergelangan tangan Lea dengan gerakan yang sangat kontras dengan kekejaman kata-katanya. "Apakah dia puas dengan pelayananmu? Mengingat kau baru pulang setelah tiga hari, sepertinya kau bekerja sangat keras di ranjangnya."
"Hentikan, Bu!" jerit Lea tertahan, air matanya jatuh membasahi pipi.
Melinda tidak berhenti. Ia justru mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke dalam netra Lea yang bergetar. "Atau... jangan-jangan kau sudah ketagihan dengan sentuhannya? Kau terlihat begitu hancur, tapi kau tidak melarikan diri, bukan? Kau tetap diam di sana, membiarkan dia melakukan apa saja padamu. Katakan yang sejujurunya, Lea... kau mulai menyukai rasa sakit yang dia berikan karena itu membuatmu merasa diinginkan oleh pria sekelas Baskara, kan?"
"Aku tidak... aku membencinya," isak Lea sesenggukan, dadanya terasa sesak seolah oksigen di ruangan itu telah habis.
"Benci dan cinta itu bedanya sangat tipis, Sayang," Melinda menyeringai, akhirnya melepaskan lengan Lea dengan satu sentakan pelan namun meremehkan. "Sekarang masuklah. Bersihkan sisa-sisa 'kepuasan' pria itu dari tubuhmu. Aku akan memesankan makanan paling mahal hari ini. Kita harus merayakan kemalanganmu yang membawa berkah ini."
Lea membalikkan badan, berjalan tertatih-tatih menuju kamarnya yang sempit. Setiap kata ibunya bergaung di kepalanya, tumpang tindih dengan ancaman Alex tadi pagi. Di dunia ini, ia seolah tidak lebih dari sebuah komoditas—diperebutkan oleh obsesi seorang predator dan ketamakan ibunya sendiri.
Saat pintu kamar tertutup, Lea menguncinya dari dalam dan merosot di lantai. Di luar, ia bisa mendengar Melinda memesan menu-menu mewah melalui telepon, seolah-olah setiap tetes air mata Lea adalah koin emas yang baru saja jatuh ke sakunya.