Satu Malam.. Tanpa pilihan

1428 Kata
Lea meninggalkan rumah itu dengan langkah tergesa. Dadanya terasa sempit, seolah udara menolak masuk sepenuhnya. Amarah mengendap di tenggorokan, tidak meledak, namun cukup untuk membakar dari dalam. Batinnya kacau oleh kalimat-kalimat ibunya, kata-kata yang tak pernah ia sangka akan terucap, kini berputar-putar tanpa ampun di kepalanya. Semakin ia berusaha mengusirnya, semakin kuat kata-kata itu saling bertabrakan, menolak dilupakan. Lebih kejam lagi, bayangan pergulatan ibunya dengan pria bernama Anton menyelinap masuk tanpa permisi. Setiap gerakan, setiap desahan yang sempat tertangkap inderanya, menancap seperti duri. Lea memejamkan mata, tetapi ingatan justru semakin jelas, seolah pikirannya sendiri bersekongkol untuk menyiksanya. Ia berhenti di sebuah halte tanpa benar-benar tahu tujuannya. Ketika bus datang, Lea naik begitu saja. Kursi dekat jendela dipilihnya. Punggung disandarkan, tas dipeluk erat. Kota bergerak mundur di balik kaca. Lampu, kendaraan, dan wajah-wajah asing melintas tanpa arti. Bus berhenti beberapa kali sebelum akhirnya tertahan lebih lama di sebuah persimpangan besar. Lea tersentak ketika pengeras suara menyebut nama halte kampus. Seolah baru terlepas dari pusaran pikirannya sendiri, ia bangkit dan turun. Udara panas menyambut, menyengat kulit, namun cukup untuk membuat dadanya sedikit lebih lapang. Area kampus telah ramai. Mahasiswa berlalu-lalang dengan tawa, obrolan ringan, dan langkah terburu-buru mengejar jadwal. Lea berjalan di antara mereka, terasa asing di tengah keramaian. Wajahnya tetap datar, tetapi matanya kosong, seakan hanya tubuhnya yang hadir, sementara pikirannya tertinggal jauh di rumah yang baru ia tinggalkan. Ia melewati gerbang utama dan menyusuri koridor panjang menuju gedung fakultas. Ponselnya bergetar di tangan. Pesan dari grup kelas masuk bertubi-tubi, namun tak satu pun ia baca. Fokusnya buyar. Di sebuah tikungan, langkahnya nyaris bertabrakan dengan seseorang. “Maaf,” ucap Lea refleks, bahkan sebelum menatap. Pria itu mengangguk singkat. "Its Okay... " Suaranya rendah, tenang. Lea sempat menangkap sekilas wajahnya, rahang tegas, sorot mata yang sulit dibaca, sebelum ia melangkah pergi lebih jauh. Tidak ada yang istimewa, pikir Lea. Hanya satu dari sekian banyak wajah asing di kampus. Namun langkah pria itu melambat, lalu berhenti. Tatapannya tertahan pada punggung Lea yang menjauh. Bukan tatapan biasa. Ada ketertarikan yang nyaris tak bisa ia sembunyikan, bercampur getaran lain yang lebih gelap, lebih panas —namun dikendalikan rapi di balik wajahnya yang tenang. Cara Lea berjalan, bahunya yang sedikit menegang, kesunyian yang memancar dari sosoknya, semuanya menariknya dengan cara yang tak bisa ia jelaskan. Sudut bibirnya terangkat samar. Bukan senyum, melainkan pengakuan diam atas ketertarikan yang baru saja lahir. Jemarinya mengepal pelan, menahan sesuatu yang tak boleh ia kejar sekarang. Lea terus melangkah tanpa menoleh, sama sekali tak menyadari bahwa dalam satu detik singkat, ia telah menjadi pusat perhatian dan hasrat yang disimpan rapat oleh seorang asing. Memasuki gedung fakultas, langkah Lea sedikit lebih teratur, meski sisa sesak di dadanya belum sepenuhnya reda. Lorong dipenuhi suara langkah dan percakapan, papan pengumuman sesak oleh jadwal dan poster kegiatan. Ia hampir langsung menuju kelas ketika sebuah suara memanggil namanya. “Lea?” Lea menoleh. Cecil berdiri beberapa meter darinya, melambai kecil sambil memeluk setumpuk buku. Rambutnya dikuncir asal, wajahnya cerah seperti biasa, kontras dengan raut Lea yang pucat dan tertutup. “Kamu dari mana? Kok kelihatannya kayak habis dikejar beban hidup,” celetuk Cecil sambil mendekat. Lea mengembuskan napas pendek. Bibirnya melengkung tipis. “Pagi yang panjang.” Cecil menatapnya lebih saksama, alisnya berkerut. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan, seolah takut menyentuh sesuatu yang rapuh. Lea mengangguk, lebih karena kebiasaan daripada kejujuran. “Nanti aku ceritain. Bukan sekarang.” Cecil tidak memaksa. Ia menggeser langkah, berjalan sejajar dengan Lea menuju kelas. “Oke. Tapi habis ini kamu nggak boleh kabur. Aku traktir kopi, dan kamu harus ngomel sepuasnya.” Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, Lea tersenyum. Kecil, nyaris tak terlihat, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih longgar. Di samping Cecil, langkahnya terasa lebih ringan, seolah ada jangkar kecil yang menahannya agar tidak kembali hanyut oleh pikirannya sendiri. Getaran ponsel di atas meja memecah keheningan kelas yang baru dimulai. Lea menoleh sekilas, nyaris mengabaikannya, hingga satu nama membuat dadanya mengencang. Madam Rose. Jemarinya kaku. Dunia seakan menyempit. Suara dosen memudar, derit kursi dan bisik-bisik mahasiswa menjauh. Cecil yang duduk di sampingnya menangkap perubahan itu. “Lea... ?” bisiknya. “Aku keluar sebentar,” jawab Lea pelan. Ia bangkit tanpa menunggu izin, melangkah ke lorong yang lebih sepi, lalu menyandarkan punggung ke dinding dingin. Panggilan itu diangkat. “Arabella,” suara di seberang sana mengalir tenang, rendah. Tak pernah tergesa, tak pernah ragu. “Kau di mana?” “Di kampus.” “Bagus.” Jeda singkat, terukur. “Malam ini datang ke klub.” Lea memejamkan mata. Napasnya tertahan. “Malam ini? Aku ada kelas.” “Batalkan.” Satu kata. Tanpa tekanan, tanpa ancaman, justru karena itu terdengar mutlak. “Aku membutuhkanmu. Kau datang pukul sembilan.” “Ada apa?” tanya Lea, hampir berbisik. “Tanyakan nanti,” jawab Madam Rose. “Dan ingat... jangan terlambat.” Panggilan terputus. Layar ponsel menghitam, memantulkan wajah Lea yang pucat. Ia berdiri beberapa detik lebih lama, mengumpulkan dirinya sebelum kembali ke kelas. Namun ada sesuatu yang telah berubah, seperti pintu yang kembali terbuka ke arah yang selama ini ia coba jauhi. Cecil menatapnya begitu ia duduk. “Siapa?” Lea menggeleng. “Bukan siapa-siapa.” Cecil menghela napas, paham bahwa itu berarti urusan yang tak ingin disentuh. “Habis kelas, kopi?” tawarnya pelan. “Maaf… mungkin lain kali,” jawab Lea nyaris tak terdengar. Jam berjalan lambat. Kata-kata dosen menari di papan tulis, namun tak satu pun menetap di kepalanya. Di balik matanya, bayangan lampu temaram, dentuman musik, dan aroma alkohol samar bangkit kembali. Dunia Madam Rose—berkilau namun dingin, selalu meminta lebih, selalu menuntut ketaatan. Ketika bel akhir berbunyi, Lea mengemasi barang-barangnya dengan gerakan mekanis. Di luar gedung, matahari mulai condong, menebarkan bayang-bayang panjang di halaman kampus. Ia melangkah pergi dengan perasaan yang sulit dinamai, antara pasrah dan waspada. Lea tahu, malam ini ia akan kembali ke klub itu. Malam turun perlahan, membungkus kota dengan kilau lampu dan bayang-bayang yang memanjang. Lea berdiri di seberang jalan, menatap bangunan klub itu. Setiap kali pintu terbuka, musik merembes keluar, dentumannya merayap sampai ke tulang. Lea melangkah masuk. Udara di dalam lebih hangat, dipenuhi aroma alkohol dan parfum mahal. Lampu temaram memantulkan siluet tubuh-tubuh yang bergerak, tawa pecah lalu lenyap tanpa jejak. Lea menyusuri lorong sempit di sisi kanan, jalan yang terlalu ia kenal hingga berhenti di depan pintu kayu gelap dengan gagang kuningan. Ia mendorongnya tanpa mengetuk. Madam Rose berdiri di balik meja kaca. Gaun hitam sederhana melekat anggun di tubuhnya, rambut tersisir rapi, wajahnya tenang. Ketenangan yang tak pernah benar-benar ramah. Tatapannya terangkat saat Lea masuk, seolah kedatangan itu sudah diperhitungkan sejak awal. “Kau datang... ". “Seperti yang kau minta,” jawab Lea singkat. Ia meletakkan tas di kursi, tetap berdiri. Madam Rose mendekat, langkahnya pelan, nyaris tak bersuara. “Aku hanya butuh sebentar dari waktumu malam ini, ada tamu penting yang harus kau temani.” Lea menggeleng kecil. “Aku tidak siap.” Madam Rose menatapnya lama, lalu tersenyum tipis, bukan senyum yang menenangkan. “Tak ada yang pernah benar-benar siap di tempat ini.” Keheningan jatuh. Dari balik dinding, musik berdentum berat, kontras dengan ruangan yang terasa membeku. Lea menarik napas, lalu berbalik menuju pintu. Namun sebelum jemarinya menyentuh gagang, Madam Rose berbicara lagi. “Arabella.. .” Satu kata itu membuat langkahnya terhenti. Madam Rose kini berdiri di belakangnya, cukup dekat untuk membuat Lea menyadari betapa sempit ruang itu. “Jangan pergi sekarang,” katanya rendah. “Bukan malam ini.” Lea menoleh.. "Aku lelah.. " Madam Rose mengangkat tangan, menyentuh lengan Lea, bukan kasar, bukan lembut, tapi cukup untuk menahan. “Aku tidak memintamu banyak, aku memintamu bertahan. Satu malam saja.” Sentuhan itu membuat d**a Lea menegang. Ia ingin melepaskan diri, namun kakinya terasa berat. “Aku akan pastikan kau aman,” lanjut Madam Rose. “Kau hanya perlu tampil. Elegan. Tenang. Selebihnya itu urusanku.” Lea terdiam. Ia tahu janji-janji itu rapuh, tapi ia juga tahu betapa sulitnya melawan tarikan dunia ini sepenuhnya. Akhirnya, ia menghela napas panjang, napas orang yang sadar sedang menunda kebebasan. Madam Rose melepaskan lengannya dan melangkah mundur. “Berdandanlah, gaun hitam sudah disiapkan.” Lea tidak menjawab. Ia hanya berdiri sejenak, lalu berjalan menuju pintu kecil di sisi ruangan menuju ruang rias, menuju peran yang kembali harus ia kenakan. Pintu ruang rias menutup di belakang Lea dengan bunyi pelan, nyaris sopan. Cermin besar memantulkan sosoknya dari kepala hingga kaki—gaun hitam jatuh pas di tubuhnya, elegan, rapi, dan asing. Wajah itu wajahnya sendiri, tetapi tatapan di baliknya terasa dijauhkan, seperti telah dipinjam oleh malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN