Hari Pertama

1272 Kata
Pare, di napas pertama yang dihembuskan Seramai ini, ternyata Pare di pagi hari lebih b*******h. Suara orang antre mandi bergelut dengan suara ayam yang berkokok. Suara langkah kaki, terbentur dengan suara roda sepeda yang berputar. Ramai sekali. Sedetik dua detik, hening merambat, setelahnya ternyata akan terdengar suara: Don’t take to long, Ms! dari seseorang di balik pintu kamar mandi. Menunggu, antre dan sabar. Orang-orang dengan suara yang khas dan logat bermacam-macam itu berebut, agar mereka bisa datang ke kelas pagi lebih awal. Seru juga. Sementara saya, akan ada kelas pada pukul tujuh. Tidak sepagi mereka, tapi tetap saja membuat deg-degan. Bagaimana nantinya? Bagaimana saya akan beradaptasi? Bagaimana nanti teman-teman sekelas saya? Terlebih, bagaimana mentornya? Garangkah, garongkah, atau bahkan garingkah? Ingin menebak, padahal seharusnya saya bisa lebih tenang, toh sebentar lagi akan bertemu mereka, ‘kan? Apakah mereka baik? Sejauh ini, orang-orang yang saya temui adalah orang-orang baik. Syukurlah. Duh! Astri tidak bangun-bangun, apakah senikmat itu tidur di kasur asrama ini? Ayam sudah bersahut-sahutan, saya sudahi tulisan ini. Terima kasih … -Rainy “Rain, aku udah bangun!” seru Astri saat dilihatnya Rainy sudah merapikan alat tulisnya. Rainy hampir saja terperanjat mendengarnya, “Kok bangun, sih?” tanyanya terburu. “Terus kamu maunya aku enggak bangun?” sungut Astri. Rainy tertawa, “Maaf, maksudnya itu, kok kamu sudah bangun, sih?” ralatnya. “Takdir.” Astri tegak dari tempat tidurnya. “Dah ah, aku mau mandi,” ujarnya. Lalu, ia keluar kamar mereka dan menuju kamar mandi untuk memanjangi antrean. “Antrean panjang, Tri,” ingat Rainy. Lalu gadis itu turut keluar dari kamarnya. Menuju atap asrama mereka, pasti udara pagi ini begitu segar. Rainy dan Astri ditempatkan di asrama paling besar yang dimiliki oleh tempat kursusnya. Berlantai dua dan memiliki atap dengan pemandangan yang indah. Dan tak lupa pula bahwa asrama mereka adalah asrama yang paling banyak orangnya dengan aturan yang paling ketat. Rainy menghirup napas dalam-dalam saat ia sudah berdiri di tengah-tengah atap asrama. Dikelilingi dengan pakaian yang menggantung, padahal masih sepagi ini, gantungan pakaian sudah penuh saja. Ia tersenyum, teringat rumah dan keluarganya. Lalu, dengan kurang ajarnya rindu tiba-tiba menyusup ke relung hatinya. “Is you new member?” Rainy menolehkan pandangannya ke arah sumber suara. Rainy mengernyit, “Ya?” “Use English for conversation with your friend,” ujar seorang wanita bertubuh berisi di depannya ini, “Sorry, what is your name?” “Rainy.” “Oke, Ms Rainy, I hope you know the rule at this camp, you have to use English every day from four AM to ten PM.” “Sorry, I don’t know you? Can you tell me what is your name?” sahut Rainy. “Oh, I am forget, forgive me! My name is Lida, I am chieftain at this camp.” “Oh, oke, Ms. I am so sorry if I speak bahasa. Thans for your information.” “No problem, my pleasure,” balas Lida, lalu ia tersenyum dan menghilang dari hadapan Rainy. Rainy melanjutkan napasnya, menarik napas sedalam mungkin dan melepaskannya setenang ingin. Hari ini, harinya dimulai. Hari-hari yang akan dibarengi dengan orang-orang baru, lingkungan baru, semua hal yang baru, bahkan udara yang ia hirup pun udara yang baru. *** BRAK! Astri jatuh dari sepeda yang baru lewat lima menit dia sewa. Rainy bingung, lebih baik tertawa dulu atau menolong dulu. Lalu, ia menstandar sepedanya dan berlari ke arah sahabatnya yang masih mendampar di jalanan. Tertawa sampai terekam di netranya bahwa Astri sudah bersungut-sungut, baru menolongnya. “Iya, gitu! Ketawa dulu, baru nolong. Teman macam apasih kamu, Rain?” omel Astri saat ia sudah berhasil mendirikan sepedanya. “Teman macam Rainy Hulya Arrum.” Astri semakin bersungut. “Lagian kenapa bisa jatuh?” tanyanya. “Pedalnya keputar-putar, nggak keinjak kakiku, terus jatuh,” jawab Astri, masih dengan sungutannya. Rainy tertawa sekilas. “Kenapa pedalnya bisa berputar-putar?” tanyanya lagi. Astri mendengus kencang, “Rain!” panggilnya, Rainy menoleh. “Sana kenalan sama pedal sepedaku.” Rainy mengernyit, “Hmmm, untuk?” “Supaya kamu bisa wawancara dia kenapa dia bisa berputar-putar.” Rainy bergeming, “Ini kamu sedang melawak? Apa saya harus tertawa?” “Ah, bodo amat! Aku nggak kenal sama kamu!” seru Astri, lalu ia menaiki sepedanya. Mengayuh sepeda dengan kencang menuju kelas mereka yang ditunjukkan oleh peta yang ada di telpon genggam. Meninggalkan Rainy yang maunya tertawa terbahak-bahak, tetapi dia hanya tersenyum simpul. Hatinya sedikit menghangat. *** Kelas mereka berada di ujung jalan dalam gang ini. For your information, Pare itu kecamatan yang cukup besar dan Kampung Inggris tempat orang-orang biasanya belajar bahasa adalah desa yang terdiri dari banyak gang-gang kecil yang bersambungan. Jika diumpamakan akan seperti labirin yang menyesatkan. Di jalan menuju kelas, maka kita akan bertemu dengan banyak orang yang baru keluar dari asrama mereka, menjemur cucian, makan di kantin atau di warung makan, bersepeda, berjalan kaki, tertawa di sepeda, menyandang totebag dari masing-masing tempat kursus dan banyak macamnya. Kita akan ketemu dengan banyak orang lagi, jika kita keluar dari gang-gang kecil dan pergi ke jalan besar. Dan, pastinya seru. “Rain, kelas kita yang mana, sih? Au-au?” celetuk Astri. “A-W, Tri, bukan au-au,” ralat Rainy. Astri tertawa dengan leluconnya sendiri. “Itu, kelas AW yang ada spanduknya, Tri.” Rainy menunjuk ke tempat yang terdiri dari dua ruangan, berdinding hijau dan di depannya ada spanduk berwarna merah bertuliskan “AW Class of Titik Nol English Course”. Di depan dua ruangan itu sudah berjejer rapi sepeda yang beragam bentuk dan warna. “Eh, Rain, kita terlambat, ya?” tanya Astri yang kebingungan saat melihat kelas yang sudah ramai. Tampaknyapun sudah ada mentor di dalam. Rainy melihat jam tangannya, juga tampak bingung. “Belum jam tujuh pagi, Tri,” jawabnya. “Eh, kayaknya ini kelas pagi, deh,” terkanya. Astri hanya manggut-manggut. Jalan-jalan di gang-gang yang ada di Kampung Inggris ini dinamakan dengan nama-nama bunga. Asrama dan kelas mereka berada di Jalan Anyelir, ada juga kelas yang berada di Jalan Cempaka, Jalan Dahlia dan nama-nama bunga lainnya. Fasilitas kelas yang ada di tempat mereka kursus bukan hanya di sini. Berjarak dua asrama, akan ada kelas Polandia yang setelah kelas ini akan mereka datangi. Ada kelas Belgia, Turki dan nama-nama negara lainnya. Memang, berkunjung ke sini akan membuat kita menabung cita-cita yang lebih banyak. “Hei,” sapa seorang wanita yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapan Rainy dan Astri yang menunggu di pos kamling yang ada di seberang jalan kelas mereka. “Kelas Speaking Master juga?” tanyanya. Rainy dan Astri kompak mengangguk. “Boleh ngenalin diri, ‘kan?” Rainy dan Astri mengangguk lagi. “Aku Lyla, asal dari Bojonegoro, deket sini. Nama kalian siapa?” tanyanya seraya menyodorkan tangan. Astri buru-buru menyambut tangan Lyla saat ia melihat kalau Rainy masih bengong. “Aku Astri, ini Rainy, kita sama-sama dari Bengkulu,” ujarnya. “Rainy anaknya memang suka bengong,” tegur Astri. Barulah Rainy sadar. “Eh, maaf, saya Rainy dari Bengkulu,” jawab Rainy setelah sadar. Lyla hanya tersenyum. “Itu orang-orang udah keluar,” ujar Astri. “Masuk, yuk!” ajaknya. Rainy dan Lyla kompak mengangguk. Setelahnya, mereka berjalan menuju kelas. *** “Hello, guys! How’s your day, Rainy?” ujar tutor mereka yang pertama kali kepada Rainy. “Not to bad, Ms.” “Good answer, oke next, How’s your day, Astri?” “Still good until now, Ms.” “Oke, last but not least, how’s your day, Ardan?” tanya tutor kepada mereka yang justru menampakkan wajah bingung. Semuanya sudah mendapatkan giliran menjawab, lalu Ardan itu siapa? “Where is Ardan? Ada yang tahu?” Mereka semua kompak menggeleng. “Okelah, maybe dia salah kelas. Now, I’ll introduce my self to you, or ada yang sudah kenal saya?” Mereka semua tetap kompak menggeleng. “My name is Leya, I am your vocabulary tutor. We’ll meet in the morning for every day, I hope you’ll enjoy my class.” Sekarang mereka semua kompak mengangguk. “Sebelum kita mulai kelasnya, saya terlebih dahulu memberikan kalian pretes untuk mengetahui sejauh mana daftar kata yang ada di benak kalian.” Mereka semua mengangguk lagi. “Open your notebook and write twenty vocabulary dan artinya, dalam lima menit kumpulkan kepada saya.” Mereka semua mengangguk, meskipun ragu. *** “Ah, sebel!” sungut Astri saat kelas sore mereka sudah selesai. Saat ini mereka sedang berjalan kaki menuju gerai makanan untuk mengisi perut mereka yang meraung kelaparan. “Rain, enggak mau nanya aku sebal karena apa?” tanyanya saat tak juga ia dapatkan respon dari Rainy. Rainy tersentak, “Ya? Kenapa?” “Ah, udah, ah! Udah enggak mood, tambah sebel!” Astri menghentak-hentakkan kakinya menuju gerai yang mereka tuju. Tidak peduli dengan ekspresi bingung yang ditampilkan sahabatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN