Bella sudah sampai di kampung neneknya. Melihat betapa indahnya pemandangan langit yang terang benderang dan udara yang cukup dingin dan harus membuatnya memakai mantel agar udara itu tak berani menusuk ke kulitnya. Ia berdiri di antara kebun teh, indah memang, tapi tak bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Namun untuk sekarang tak ada lagi keadaan yang lebih baik dari ini, lebih baik sendiri dari pada merasa dicintai tetapi semua itu adalah palsu. Walaupun begitu hal tersebut tidak bisa memungkiri bahwa hingga detik ini pun ia masih memikirkan pria laknat itu. Bella yakin, semua butuh proses, bahkan melupakan seseorang yang kau cintai pun butuh proses, termasuk untuk tidak mencintainya lagi. Tiba-tiba ada yang memegang tangan Bella dari belakang dan mengelus-ngelus punggu

