bab 9

1283 Kata
*** "Hana?"Aku menoleh saat melihat adam berjalan ke arahku. Berdiri tepat disampingku dan memegang pagar besi. Beberapa saat kami terdiam memikirkan hal-hal yang ada dipikiran kami. Angin yang berhembus seakan menjadi saksi bisu. Dan bintang- bintang sebagai penghias malam yang kelam. Aku melirik adam sejenak sebelum aku kembali menatap gedung-gedung pencakar langit yang ada diseluruh penjuru kota. Menatap dari atas atap Caffe adam adalah tempat paling bagus untuk melihat pemandangan dimalam hari. "Hana..., apa kau percaya cinta sejati itu ada?" Aku menatap Adam dengan kebingungan. Selama hidupku aku tidak pernah merasakan cinta sejati. Bahkan, aku sama sekali belum merasakan namanya dicintai oleh orang lain. "Aku tidak tahu. Selama hidupku. Aku tidak pernah berpacaran." Aku tersenyum getir. Semua itu terjadi karna rasa cintaku yang terlalu besar pada Reno. Sampai hatiku terasa begitu sulit untuk menyerahkan hatiku pada orang lain, meskipun itu sekedar untuk bermain-main saja. Tidak. Aku bukan w************n yang akan mengatakan ya, pada setiap lelaki yang menyatakan cinta padaku. Cinta, bukanlah sesuatu yang bisa kau umbar ke sembarang orang. Cinta itu tulus, dari dalam hati. Ku lihat, Adam terkekeh kecil. Aku tahu itu lucu, bagaimana bisa, seseorang tidak pernah berpacaran selama hidupnya kalau bukan aku. "Itu terdengar bagus. Aku suka, karna itu artinya kau tidak pernah disentuh oleh lelaki lain." Aku tersipu malu. Ku pikir, Adam sedang menertawakan aku. Tapi, dia malah menyanjungku. "Boleh aku bertanya sesuatu?" Aku mengangguk. Perbincangan kami sepertinya mulai serius dibandingkan dengan yang lalu-lalu. Karna adam selalu terlihat tersenyum setiap kali bersamaku. "Siapa ciuman pertamamu?" Wajahku merah. Ingatanku kembali saat ciuman panas yang terjadi bersama adam waktu itu. "Aku tidak yakin. Tapi, kau adalah ciuman pertamaku. Meskipun, saat kecil, secara tidak sengaja aku pernah berciuman dengan Reno saat aku terjatuh dari tangga." Adam kembali terkekeh. "Hmm,, aku bisa memakluminya." "Tapi kenapa kau menanyakan hal seperti itu?" Tanyaku memberanikan diri, meskipun saat ini aku sedang menahan rasa maluku yang teramat tinggi. Perlahan, tubuh adam berbalik menghadapku. Kedua tanganya kini sudah merubah poisisiku hingga kami saling berhadapan satu sama lain. "Hana, entah ini terlalu cepat atau tidak. Aku sudah menyukaimu sejak dulu. Aku tahu kau sudah ada seseorang yang kau sukai, tapi aku juga boleh berharap kalau kau bisa menyukaiku, kan?" Aku tertegun. Ini kali pertama aku melihat raut wajah adam yang begitu serius. Apakah ini yang dinamakan pernyataan cinta? Ini pertama kalinya untukku apa yang harus ku lakukan. "Hana, maukah kau menjadi kekasihku?" Aku menutup mulutku dengan tangan kiriku. Tak percaya, karna saat ini adam sudah berlutut didepanku sambil mencium puncak tangan kananku. "Adam. . ." Daipun berdiri. Kembali memegang kedua tanganku dengan lembut. "Kau tidak perlu menjawabnya saat ini. Aku akan menunggunya sampai kau yakin pada hatimu sendiri." "Maafkan aku adam. Aku seharusnya mengatakan ya sejak tadi.Tapi, aku sama sekali tidak mampu untuk mengatakannya, meskipun aku ingin." Entah kenapa aku menangis. Melihat adam menyatakan cinta padaku. Membuatku teringat pada Reno. "Aku mengerti hana, tidak mudah bagimu untuk melupakan Reno begitu saja. Tapi, aku bisa berjanji padamu kalau aku bisa membuatmu melupakannya." Aku menatap adam. "Bagaimana kau tahu itu?" "Matamu yang mengatakannya," "Aku pikir, selama ini aku sudah terlalu pintar untuk menyembunyikan perasaanku. Tapi, sepertinya aku salah. Bodohnya aku, karna mencintai lelaki yang begitu membenciku." Aku menghela nafas resah. Kepalaku menunduk, seakan sulit hanya untuk berdiri dengan tegap. "Patah hati itu sederhana, aku mencintainya, tapi dia tidak mencintaiku." Aku hanya mampu tersenyum saat Adam mengatakan itu. Rasa sakit seakan menjalari hatiku. Mungkin, ini adalah akhir dari penantianku selama ini. *** Pukul 02.00 pagi. Aku terbangun dengan keringat yang begitu banyak membasahi tubuhku. Mimpi buruk ternyata. Ku pikir semua yang terjadi tadi adalah kenyataan, sesuatu yang mengerikan yang selama ini selalu aku jauhi. Aku bermimpi Reno meninggalkanku. Menjauh dariku dan aku tidak pernah lagi melihatnya. Disana, aku meringkuk menangis. Berlari mencari Reno hingga aku terjatuh pada jurang yang dalam. Kutarik rambutku ke samping. Kembali mengingat mimpi buruk yang baru saja aku alami. Semoga saja, ini bukan pertanda buruk yang akan terjadi. *** Hari ini intan datang ke Caffe. Kami berencana untuk pergi jalan-jalan setelah aku pulang bekerja. Aku ingin bersantai dan menenangkan pikiranku. Setelah semua hal yang terjad padaku. Aku seperti orang gila yang memiliki kantung mata yang sangat terlihat. Aku juga mendapatkan kabar kalau Reno baru saja. Itu berita bagus. Aku cukup senang melihatnya sembuh, meskipun aku masih sebal dengannya. Bukan berarti aku membencinya. Semuanya hanyalah emosi sesaat yang selalu aku rasakan pada Reno. "Kemarin Reno ke rumahku." Ucap intan saat aku menaruh minuman dimejanya dan ikut duduk. Kami hendak mengobrol, karna Caffe sudah mau tutup. "Coba tebak, dengan siapa Reno malam itu mabuk?" Aku semakin memperhatikan intan saat menceritakan mengenai mabuknya Reno malam itu. "Kakak ku." Aku mendelik. Menaikkan satu alisku, "Anton ?" Tanyaku memastikan. Intan mengangguk. "Yang aku dengar dari percakapannya, Reno sepertinya sedang mengalami masalah. Mungkin karna itulah, penyebab Reno menjadi kacau dan mabuk, sampai jatuh sakit." "Masalah apa. . ." Aku berbisik pelan. Apa itu perusahaan? Tapi, ayah dan ibu tidak mengatakan apapun mengenai itu. Apa mungkin gadis seperti yang aku pikirkan selama ini. "Bisakah kau tanyakan pada anton, kenapa Reno jadi seperti itu?" Tanyaku penuh harap. Intan menggeleng penuh mantap. "Tentu saja tidak bisa. Kau tahu sendiri, mereka itu sangat akrab dan memegang teguh rahasia yang mereka ceritakan satu sama lain." Aku mendengkus kesal. Kenapa juga, mereka harus punya cemistri yang tinggi. Sudah seperti pasangan kekasih saja. "Apa aku harus menanyakannya sendiri?" Gumanku pelan. "Sudahlah. Jangan pikirkan lagi. Itu bukanlah masalah yang bisa kau ikut campuri. Yang harus kau lakukan sekarang adalah fokus pada lelaki yang ada disana." Intan melirik adam yang tersenyum ke arah kami. Ya, lelaki itu sedang menungguku untuk mejawab pernyataan cintanya malam itu. Tapi, aku belum juga menjawabnya. Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. "Jangan sia-siakan cinta Adam yang tulus. Aku tidak mau kau menyesal dikemudian harinya." Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. "Aku tahu, aku masih memikirkannya dengan pasti. Dan bertanya pada hatiku." Gumanku. "Siapa lelaki yang ada dihati dan pikiranku." Lanjutku kemudian. Aku kembali menatap Adam yang sudah menghilang dari balik pintu. Sudah waktunya, untuk pergi jalan-jalan bersama intan. Meluangkan waktuku untuk bersenang-senang dan menghilangkan penat. Kami menonton film di bioskop bersama. Film romantis yang membuatku menangis berkali-kali. Ah, rasanya aku masih tidak bisa melupakan cerita tadi. Seorang gadis yang sakit parah, yang masih bisa menemukan cinta sejatinya didetik-detik terakhir. Wanita itu pada akhirnya meninggal dalam bahagia dipelukan lelaki yang sangat mencintainya, meskipun lelaki itu tahu. Gadis yang dicintainya tak akan hidup lebih lama lagi. Rasanya menyakitkan jika itu terjadi dikehidupan nyata. Cinta mereka harus dipisahkan oleh tempat dan waktu. Sebelum pulang, aku mampir dulu ke rumah intan. Ingin makan kue yang sudah kami beli tadi dijalan. Tapi, saat aku sedang berjalan ke dalam rumah. aku melihat sebuah mobil yang sangat aku kenali. "Bukankah itu mobil Reno ?" Tanyaku pada intan. Dia hanya mengangkat bahunya. Kemudian, kami masuk kedalam bersama-sama. Benar saja, aku melihat Reno sedang sibuk mengobrol dengan Anton. Mata mereka yang semula saling pandang memandang, kini teralihkan pada kami yang baru saja masuk kedalam rumah. "Dari mana kalian?" Tanya anton. "Kami habis nonton bersama."Jawab intan pendek. Anton kembali beralih ke layar tv yang semula tidak di gubris oleh mereka berdua. Aku kemudian, berjalan menghampiri reno dan anton. Menaruh kue tadi diatas meja, sedangkan intan mengambilkan aku minuman. Aku tak menyangka akan bertemu dengan reno disini. melihat wajahnya yang sudah fresh. sepertinya sudah sembuh dari sakitnya. "Kau membeli sesuatu?" Aku menoleh saat Reno bertanya tentang apa yang ku bawa barusan. Ku ambil kantung plastik tadi dan mengeluarkan wadah kue ke atas meja. "Hm, Kue yang ku beli dijalan tadi. Kau mau?" Tawarku pada Reno. Oh astaga. Kenapa sikapku jadi canggung seperti ini pada Reno. Aku bahkan, memakai bahasa formal kepadanya. Suaraku begitu rendah saat aku menawarkannya pada Reni. Anton melirik kami. Sebelum dia beranjak pergi. "Aku akan membantu intan dulu." Ucapnya kemudian. Suasana jadi sedikit sunyi semenjak kepergian anton ke dapur. Reno tak lagi menjawab tawaranku tadi. Dia hanya sibuk menyenderkan punggungnya disofa sambil menatap layar televisi. "Ku dengar, kau menjalin hubungan dengan Adam." Tubuhku tersentak, reflek beralih menatap Reno dengan kaget. "Itu tidak benar. Aku bahkan, belum menjawabnya." Aku berusaha sebaik mungkin menjawabnya. Seakan tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kami. Tapi, yang ku lihat hayalah sebuah sunggingan kecil disudut bibir Reno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN