Tania berdiri mematung di balkon kamarnya menikmati mega di ujung barat yang tersenyum malu padanya, tak lama senyuman itu menghilang terhalang oleh awan kelabu yang berarak mengelilinginya. Sebentar lagi.. Ya sebentar lagi langit menangis mendahului hatinya yang sedari tadi sudah bergerimis dalam diam panjangnya. Tania yakin Bagas akan membahagiakan Nidya tapi entah mengapa Tania justru merasakan pedih yang teramat dalam relungnya, bukan pedih karena ia harus merelakan Nidya dan Rizky tinggal bersama Bagas tapi yang ia takutkan adalah ia harus merasakan dinginnya sikap Herman, sejak kehamilan Nidya lima tahun lalu Tania sudah kehilangan suami yang selalu memberinya kehangatan, Tania masih bisa merasakan pendar cinta di dalam mata Herman untuknya tapi di mata itu pula Tania menemukan kep

