Di Persimpangan Jalan

1036 Kata

Erlangga termenung seorang diri malam ini di sebuah kafe. Secangkir kopi yang sudah dipesan sejak dia diam di kafe itu sudah tak lagi mengepul. Kopi di dalam cangkir itu masih tersisa setengahnya. Kenapa aku jadi.galau begini ya, pikirnya. Saat ini dia mengalami pertentangan batin. Ya Tuhan, haruskah gue hijrah total mengubah hidup gue yang sudah nyaman begini? Pertanyaan besar itu menguat dalam pikirannya saat ini. Gue udah mati-matian menuruti semua kehendak si Rendra, tapi kok Tania belum luluh juga hatinya. Justru yang ada dia seperti es di kutub yang rasa mustahil bisa mencair. Lagian kenapa sih Tania pake hijrah-hijrah segala. Gue sudah kadung nyaman menikmati hidup ini. Nyaman hidup santai. Nyaman dengan pacaran. Menurut gue ya itu lumrah. Semua orang muda di seluruh dunia ini

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN