"Tai ni motor!"Shaka terdengar mendengus kasar, bahkan dia sempat-sempatnya menendang ban motornya. Tangannya bergerak melepas helmnya kemudian melemparnya dengan emosi Aku mundur, dia mulai menyeramkan. Aku malah kasihan dengan helm yang dia lempar, dan sekarang helm itu tergeletak ditengah jalan yang cukup sepi. Shaka berniat mengantarku untuk pulang, setelah disepanjang perjalanan kami hanya diam, satu-satunya suara yang dia keluarkan ya tadi, yang ada tai nya itu. Hujan masih mengguyur kota Jakarta, seragamku sudah benar-benar basah kuyup, keadaan Shaka pun sama. Aku melihat ke arah Shaka lagi, dia seperti melihat ke segala penjuru. Aku rasa dia sedang mencari bengkel, namun sekarang benar-benar sepi, mobil yang lewatpun hanya beberapa. "Dorong" "Ha?" Shaka menatapku sebal"dor

