"Daddy!" Shaka menatap anak kecil berusia empat tahun dihadapannya, yang seenaknya masuk ke ruang kerjanya yang sakral. Sampai sang pengasuh menunduk meminta maaf pada Shaka, pria dewasa dengan kaca mata yang bertengger gagah di hidung mancung bagai perosotan kanak-kanak itu nampak indah membingkai wajah Shaka yang bertambah dewasa. Kesibukannya belakangan ini benar-benar membuat Shaka menghabiskan hampir seluruh waktunya diruang kerjanya, Eden mungkin sangat marah kepadanya sekarang. Tapi sungguh Shaka memang hampir tak punya waktu, bahkan untuk mencukur jambangnya. Berkas-berkas menumpuk, banyak sekali yang Shaka harus periksa dan tanda tangani. Menjadi pemilik perusahaan besar nyatanya tidak mudah. "Eden, daddy kan lagi kerja" Gadis kecil dengan kepang yang ikut bergerak ket

