1

1067 Kata
Namaku Mentari Shabila Wijaya anak bungsu dari tiga bersaudara. Papaku bernama Wijaya dan saat ini memiliki istri baru yang usianya tidak beda jauh dengan kedua kakakku, kata mama itu karena papa jatuh cinta pada pandangan pertama dan selama ini aku baru tahu jika papa dan mama menikah karena dijodohkan tapi mereka bisa hidup sampai maut memisahkan. Aku sekarang kuliah semester 4 mengambil jurusan bisnis yang nantinya akan membantu di perusahaan papa seperti halnya kedua kakakku walaupun papa tidak pernah memaksakan kami tapi memang perusahaan papa dan mama harus ada yang memegang siapa lagi jika bukan para anak-anaknya. Papa meminta kami bertiga kumpul dirumah beserta Tina yang merupakan istri Devan dan kedua putrinya, aku bermain bersama Rere dan Nisa sambil menunggu kedatangan papa dan calon istrinya ini. Tidak lama papa datang bersama seorang perempuan dimana dapat kulihat jika dia cantik dan mempunyai bentuk tubuh yang bagus, agak berbanding terbalik dengan papa yang sudah tua walaupun masih gagah. Pandangan kami bertiga bertemu seolah berbicara satu dengan yang lain, dari wajah papa dapat aku pastikan jika Tania bisa membahagiakan papa Tania mengajak kami berdua jalan-jalan dengan tiba-tiba mengajak kami merawat diri, kami berdua memang jarang melakukan perawatan di salon dan ketika diajak dengan senang hati menerimanya dimana kami menganggap bahwa ini adalah cara kami untuk saling mengenal satu dengan yang lain, Tania perempuan yang asyik sama seperti Tina dan kami akan cocok jika bersama di mana pemikiran Tania tidak berbeda jauh dengan kami. Aku terkadang datang ke apartemen namun selalu menemui papa dan Tania melakukan seks dimanapun, aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua. Papa memintaku ke rumah Tania mengambil barang dan menjemput dirinya, aku langsung masuk ke dalam seketika pandangan mataku ke arah pakaian Tania dan menatap laki-laki yang duduk di kursi tamu, sebelumnya Tania memintaku untuk mengusir laki-laki itu yang aku tidak tahu namanya dan juga tidak peduli. Tania aku menyukai dirinya dan aku rasa dia pantas untuk papa di samping enak untuk diajak berbicara ataupun curhat, hal yang selama ini aku lupakan setelah tidak ada mama. Via terlalu sibuk dengan dunianya sedangkan curhat dengan Tina atau Lila pasti akan mengganggu waktunya dan akan dimarahin banyak orang pastinya. "Kuliah hari ini?" tanya Tania saat aku keluar dari kamar Aku mengangguk "buat sarapan apa?" menatap sekitar. Tania tersenyum "nasi goreng yang mudah dan cepat" menatapku sekilas "bentar lagi matang kamu sarapan dulu" "Papa mana?" tanyaku sambil membantu masak "Masih dikamar lagi tidur" jawab Tania santai "ada perlu?" Aku menggelengkan kepala "kapan nih adikku hadir?" aku melihat wajah Tania yang memerah "minta yang banyak ya" Tania cemberut mendengar permintaanku. "Gimana kuliahmu?" tanya Tania mengalihkan pembicaraan dan aku mengangkat bahu "pacar kamu anak mana?" "Beda fakultas sih tapi jangan bilang papa pasti aku gak diijinkan" jawabku memohon "Si gondrong itu?" Tania menatapku Aku mengangguk "keren kan?" "Keren juga papamu" seketika aku memberi ekspresi muntah "Kamu cinta banget sama papa, udah ngapain aja?" tanyaku iseng "Hal yang dilakukan orang dewasa" jawab Tania santai "kamu gak pernah ngapa-ngapain kan sama pacar kamu?" "Aku masih perawan tenang aja" jawabku menenangkan "mama selalu pesan ke kami berdua untuk jaga itu" Tania mengangguk "udah kita makan kalau nunggu papa bakalan lama" Kami makan berdua karena papa masih tidur dan aku yakin jika sangat kelelahan menghadapi Tania yang masih muda ini. Aku langsung bersiap karena Dodo janji menjemputku untuk berangkat ke kampus dengan menggunakan dress selutut aku keluar dari kamar dan tidak mendapati Tania dimanapun tapi aku mendengar suara desahan dari kamar papa membuatku hanya menghembuskan nafas. "Sayang" sapa Dodo ketika aku masuk ke dalam mobil Kami berciuman sangat lembut, Dodo menatap wajahku dengan penuh cinta. Kami sudah bersama sangat lama dari awal masuk kuliah, aku menyukai apa yang ada dalam diri Dodo walaupun di luar seperti preman tapi hatinya malaikat. Kedua sahabatku tidak menyukai kedekatanku dengan Dodo karena bagi mereka Dodo sangat mengganggu dan memberikan efek negatif padaku. "Ada kuliah?" Aku mengangguk "tapi bentar, kamu?" "Aku hari ini lumayan full sih, yang" jawab Dodo "tapi aku kangen sama" seketika Dodo meraba vaginaku dari luar. "Jangan ih nanti basah" sambil menyingkirkan tangan Dodo Aku tidak bohong dengan Tania dimana aku masih perawan tapi kami sering melakukan petting untuk mendapatkan kepuasan. Jika kulihat para pria selalu mempunyai libido yang tinggi atas kebutuhan seksnya dan Dodo menghormati keputusanku dengan hanya bermain seperti itu. "Makasih sayang" ucapku mencium bibir Dodo "nanti aku pulang sendiri" Di kampus aku mempunyai sahabat Hilda dan Alia, kami sudah bersama sejak awal masuk kuliah. Alia sudah menikah dengan anak kampus ini karena memang mereka memutuskan nikah muda sedangkan Hilda dekat dengan salah satu dosen di sini. Mereka berdua selalu membicarakan mengenai hubungan ranjang bersama pasangan. Kedekatan Hilda dengan sang dosen hanya diketahui kami berdua dan kerap mereka melakukan di ruangan sang dosen tapi hal yang tidak Alia ketahui adalah Hilda suka bermain dengan pria-pria berduit dan Hilda pun juga tidak tahu jika aku tahu apa yang dia lakukan. Aku terkejut melihat Dodo berada di depan pintu kelas menatapku lembut, aku meninggalkan kedua sahabatku berjalan ke arah Dodo yang langsung tersenyum menatapku. Senyuman Dodo selalu membuatku terpana dan ini yang membuatku jatuh dalam pelukannya walaupun ada pria lain yang juga menyukaiku. “Kenapa ada di sini?” tanyaku setelah duduk di sebelahnya “Aku pengen, yang” bisik Dodo membuatku menatapnya tajam “aku gak kuat tahan, kamu masih ada kuliah lagi?” aku menggelengkan kepala “bantuin ya” menggenggam tanganku. Dodo mengajakku ke parkiran dan langsung meninggalkan kampus menuju tempat kostnya yang tampak sepi, rambut Dodo dibiarkan tergerai membuat beberapa orang menatapnya takut dengan menggandeng tanganku pelan. Didorongnya aku ke ranjang setelah masuk ke dalam kamarnya, Dodo menciumku dengan penuh gairah yang aku imbangi dimana ciuman Dodo turun ke leher dengan membuka baju seluruh dan saat ini kami sama-sama tanpa busana dan itu membuat Dodo semakin menjadi dengan memasukkan jarinya ke dalam milikku bersama dengan lidahnya bermain di sana sedangkan aku dibuatnya mendesah dan memegang erat seprai ranjang Dodo dan tidak lama kemudian aku mencapai o*****e yang besar dan Dodo menatapku dengan puas namun masih ada gairah disana. “Sayang masa gak boleh?” tanya Dodo penuh harap. “Aku puasin pakai mulut aja ya” Dodo hanya bisa mengangguk pasrah atas apa yang aku katakan. Permainan lidahku cukup membuat Dodo puas dengan mengeluarkannya di tubuh tidak lama Dodo mengambil posisi tidur dan langsung tidur, aku menatap Dodo yang berarti aku harus pulang seorang diri setelah membersihkan diri dari tingkah kami ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN