Suara sirine ambulance yang terdengar sampai ke kantin membuat Ragata, Angga dan Andreas yang baru menyelesaikan setengah makan mereka langsung pergi terburu-buru. Sudah larut, dan mereka bertiga mendapat giliran untuk jaga malam. “Awas lo.” Ujar Angga mendorong lengan Andreas yang masih menahan pinggangnya. “Lo yang awas, sepatu gue bego.” “Anjir, tangan lo.” Ragata menghela nafas, melihat Andreas dan Angga yang kelihatan bodoh di depannya, membuatnya pergi lebih dulu. Setibanya di langkah panjangnya membuat dia tiba lebih awal. Seorang perawat sudah sigap di sebelah pasien. “Korban kecelakaan dok.” “Reaksi pupilnya masih bagus. Segera bawa ke ruang periksa.” Guman Ragata usai memeriksa pupil korban tersebut dengan senternya. Angga dan Andreas baru muncul, dan segera membantu Raga

