11— Just Give Me a Text

1500 Kata
Ragata memutuskan memutar haluan mobilnya menuju rumah orang tuanya. Dia memang sangat mengantuk dan sangat ingin merebahkan tubuhnya. Namun mendadak dia teringat jika dia harus memastikan bahwa Rindu baik-baik saja. Dia juga tidak enak hati meninggalkan gadis itu seorang diri. Takut jika Rindu tidak nyaman dengan keluarganya. Namun, baru saja Ragata turun dari mobil dan melangkah ke ruang tamu. Suara tawa adiknya—Lia—memenuhi seisi rumah. Dari penjelasan penjaga rumah, ibu dan ayahnya sudah pergi 1 jam lalu. Ragata melangkah menuju kamar adiknya saat tidak menemui Rindu di kamarnya. Pintu yang tidak terkunci rapat membuatnya bisa melihat jika adiknya tengah diajari oleh Rindu? Wait. Sejak kapan keduanya sangat dekat? Dia pikir keduanya bukan berada pada angkatan yang sama, selain itu, Lia cukup ekstrovert menjadi manusia. Sangat tidak jika Rindu bisa berteman dengan adiknya yang bar-bar. Apa jangan-jangan…. “Bang?” Rindu yang tidak menyadari kehadiran sosok itu lekas mengalihkan pandangannya, wajahnya memerah seketika dan dia terpaksa tersenyum. Sepertinya takdir sedang mempermainkannya saat ini. “Kamu sudah lebih baik?” “Saya, dok?” “Bukan!.”seru Ragata menyipitkan matanya kesal. Lia menahan tawanya. Dia menyukai Rindu dalam konteks kepintaran. Semacam rasa kagum, dan bahkan dia menjadikan gadis itu sebagai seorang mentor dalam hidupnya. Selain itu, point plus dari Rindu dimata Lia adalah tidak sombong. Meskipun pintar, tapi sangat baik dalam berbagi ilmu. Hal itu membuat Lia sadar kenapa 2 spesies terganteng di kampus—Miquel dan Pandu—berteman dengannya. “Malah diam?” Ragata menatap Rindu. “Kan tadi dokter bilang bukan buat saya?” Speechles. Antara polos atau ingin memancing emosinya. Ragata menatap Lia yang menahan tawa, bahkan wajah gadis itu sudah memerah. “Lo gak ada kelas?” “Saya, bang?” Lia tidak bisa menahan dirinya saat abangnya itu terlihat kesal. “Dasar anak set…” “Hayoloh, anak apa bang?” Lia makin tidak bisa menahan dirinya, menunggu kelanjutan ucapan sang abang yang sudah dia tahu sebenarnya. “Sudahlah, kamu sudah lebih baik?” “Su…sudah dok, jadi semalam anda yang membawa saya kemari?” Rindu menjawab. “Tidak mungkin hantu bukan?” “Iya sih!” kekeh Rindu kikuk, dia masih tidak percaya diri. “Mama saya yang ganti baju kamu!” Jelas Ragata, tidak ingin ada kesalahpahaman diantara dia dan Rindu. Ragata masuk, dan duduk di atas ranjang sambil menatap keduanya yang masih berada di lantai. “Kamu gada jadwal kuliah?” “Tidak dok, hari ini saya libur. Harusnya sih ke rumah sakit lagi, dan….” “Istirahat saja dulu, keadaan kamu masih tidak baik-baik saja bukan?” Lia? Dia hanya diam, menatap sang abang tidak percaya. Namun sepersekian detik dia menangkap sesuatu terjadi di sini. Dia berdehem, menaik turunkan alisnya pada Ragata. Hal itu sontak membuat Ragata bangkit dari duduknya. Dia tidak suka jika harus beradu argumen dengan Lia. “Ayo saya anterin pulang!” “Uhuk!” Lia sengaja batuk, berusaha untuk menahan tawanya dalam diam. “Gak usah dok, saya sudah berhutang banyak pada Anda. Dan jujur, jika Anda meminta balasan, saya masih tidak punya apa-apa buat jadi balasannya!” “Emang saya minta balasan?” “Huh? Tapi kan biasanya….eh okey dok, makasih!” buru-buru Rindu mengakhiri pembicaraan itu, dia tidak mau memperpanjang masalah apalagi jika sudah masalah tentang duit. Jika tidak diminta, itu artinya Rindu sedang dapat berkat. “Gak usah segan-segan kak Rindu, orang abang aja ga pernah bawa….” “Bisa diam gak lo? Mau jatah jajan lo abang potong?” “Iya…iya.” kekeh Lia. Jika sudah main potong uang jajan, Lia tidak akan sanggup. “Saya antar pulang, kemari barang-barangmu saja. Tidak usah dengarkan manusia bar-bar satu ini. Saya tunggu di ruang tamu!” “B…baik dok!” Rindu lekas berlalu dari kamar Lia, mengingat jika barang-barangnya masih berada di dalam kamar yang lain, entah itu kamar siapa. Tapi ruangan kamarnya sangat maskulin, dan hal yang Rindu pikirkan. Kamar itu adalah milik seorang lelaki. Di kamar Lia, perang dingin seketika terjadi. Ragata menatap sang adik tanpa ekspresi, tidak mengatakan apapun sejak Rindu pergi. Tapi dia penasaran kenapa mereka bisa saling kenal. Awalnya Ragata pikir adiknya dan Rindu pasti akan saling canggung, dan bahkan Lia tidak akan welcome kepada gadis itu. Hal itu mengingatkannya pada mantan tunangannya. Sekalipun Lia tidak pernah menyapanya, parahnya, di hari pernikahannya yang gagal itu, Lia juga tidak datang. “Lo deket sama dia?” “Lo kepo?” “Gak ada akhlak lo emang ya!” “Ck. Iya, kak Rindu orangnya baik banget sumpah. Gak kayak mantan sialan lo itu, mending deh lo sama kak Rindu aja!” “Lia!” Ragata mendadak kesal. “Kan gue bener bang.” “Sedekat apa lo sama Rindu?” “Dia kakak kelas yang gue ceritain ke mama waktu itu. Yang rela pulang malam demi nemani Lia nyelesaiin praktikum bedah organ kodok, sama dua teman kak Rindu juga baik banget!” Mata Lia berbinar-binar mengingat bagaimana dia diperlakukan sebaik itu dulu. “Pandu dan Miquel?” “Abang juga kenal?” “Hmmm!” “Kok bisa sih? Perasaan abang baru aja jadi dosen, tapi udah aja kenal sama trio genius itu!” “Trio genius?” “Itu gelar mereka!” “Hmmm!” “Ya ampun cueknya, tapi gue dukung kok bang. Apa jangan-jangan abang….” Lia sudah dalam mood menggoda sang abang. “Gak usah banyak khayal. Abang cuman penasaran kenapa cewek bar-bar kayak lo bisa punya kenalan juga ternyata!” “Yakkk…lo…” Sebelum adiknya itu kembali dalam mode menyebalkan, Ragata lekas keluar bersamaan dengan Rindu yang keluar dari kamarnya sambil membawa ransel dan beberapa kantong. Dia lekas menghampiri gadis itu, padahal seharusnya itu tidak perlu dia lakukan. “Udah semua?” “S…sudah dok!” “Okey!” Rindu lekas mengekori Ragata keluar dari rumah, Lia di belakangnya mengikut dan melambaikan tangan sedih. Inginnya Lia menahan Rindu di rumah lebih lama, namun dia juga tidak enak. Karena Rindu pasti masih merasa malu dan takut tidak nyaman dengannya. “Bye…bye kakak cantik, lain kali main ke sini ya!” “Iya adik cantik, aku pergi ya!” “Byeee!” Di mobil, Rindu kembali dalam mode diam. Sesekali dia melirik ke arah sosok di sebelahnya, dalam diam mengagumi ketampanan yang terpancar dari wajah sosok itu. Meski tidak dalam mode rapi, Ragata tetaplah tampan. Bahkan jauh lebih tampan dengan kaos oblong putih. Membuat otot kekar di lengannya terlihat jelas. Rindu menggelengkan kepalanya, dalam keadaan ini, bisa-bisanya dia membayangkan hal itu? Sungguh, otaknya sudah tidak waras lagi. Ragata bukannya tidak tahu jika Rindu sejak tadi diam-diam memandanginya. Bahkan dia sengaja menarik lengan bajunya, agar otot kekarnya bisa terpampang dengan jelas. Bahkan diam-diam Ragata menahan senyum melihat tingkah Rindu yang kelewat polos. “Sudah? Tidak ada lagi yang ketinggalan?” “Sudah dok!” Rindu memastikan kembali jika semua barangnya tidak ada yang ketinggalan. “Ya udah!” Rindu mengangguk, tapi masih berdiri di depan kosannya. “Ada apa lagi?” Ragata bertanya. Dia memang keluar, untuk memastikan jika kejadian semalam tidak terjadi dua kali. “Hah?” “Kenapa tidak masuk? Apa kamu menunggu saya ikut masuk?” Ragata mendekatkan kepalanya agar suaranya di dengar jelas oleh Rindu. Deg. Ya Tuhan, jantungku gak normal lagi teriak Rindu dalam hati. Dia tahu bahwa tujuan Ragata menundukkan kepalanya adalah untuk memperjelas suaranya. Tapi jantungnya tidak bisa terkontrol, semua tubuhnya seolah lepas kendali jika sudah berhadapan dengan seorang Ragata. “Ahh…anu!” Rindu kikuk lagi, “saya…saya mau ngucapin makasih dok!” Ya Tuhan. Dia benar-benar sangat polos atau apa sih? Batin Ragata. Dia berusaha sekuat tenaga menahan senyumnya melihat tingkah kikuk Rindu. Gadis itu benar-benar sangat menggemaskan di matanya. Hampir saja tangan Ragata mengacak rambut gadis itu, beruntung dia sadar diri ini dimana. “Ya!” ujarnya dan segera pergi. “Lain kali lebih hati-hati!” guman Ragata sebelum benar-benar masuk ke dalam mobilnya. Rindu kehabisan kata-kata. Dia merentangkan tangannya lebar-lebar begitu berhasil masuk ke kamar kosnya. Seperti biasa kosannya memang sepi jika pagi-pagi, ibu kosnya juga tidak ada di rumah. Hanya datang saat sore untuk bersih-bersih. Sejak tadi senyuman di wajah Rindu masih tidak bisa lepas. Dia bolak balik dan hampir terjatuh karena kegirangan sendiri. Sepertinya Rindu sudah tidak waras lagi. “Arghhhh…gue baper Ya Tuhan, ini gimana, hati aku lemah!” teriak Rindu di balik selimutnya. Kegilaannya benar-benar sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Dering telepon Rindu buru-buru membuat gadis itu kembali ke dunia nyata. Segera dia menatap siapa yang mengiriminya pesan dari wa. Nomor tidak diketahui? Buru-buru Rindu membuka lock screennya dan wajahnya kembali memerah. +621234455... Ini nomor WA saya—Ragata. Kalo ada apa-apa, just get me a text. Rindu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu meloncat-loncat sampai tidak sadar ponselnya hampir jatuh. “Gile…gile, ini orang emang betulan nyata gak sih? Agrghhh…balas apa ya!” Rindu kembali duduk, senyumannya bertambah lebar. “Aghhh….jangan bego Rindu. Jangan baper, no baper please!” Jemari Rindu mulai mengetikkan beberapa deret kalimat. +62980899... Siap dok :) Ragata yang membacanya juga ikut tersenyum dan segera melajukan mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN