Rindu tidak beranjak dari duduknya. Mereka berdua masih terjebak di dalam mobil, dengan perasaan masing-masing. Sejak tadi pikirannya berkecamuk. Penuh dengan teori konspirasi yang hampir membuatnya meledak. Tidak beda jauh dengan Rindu. Ragata pun begitu. Dia bahkan tidak berani menatap mata Rindu secara langsung. Dia paham perasaan Rindu karena perbuatannya beberapa jam lalu. “Dok…” “Hey.” Keduanya langsung diam bersamaan. Lalu mengalihkan perhatiannya. Wajah Rindu sudah semerah tomat. Ini benar-benar tidak seperti harapannya. Ragata berdehem untuk menghilangkan rasa gugup. “Kamu dulu. Ada apa?” Baginya Rindu adalah paket komplit tanpa cela. Dia menyukai caranya bicara, melihat, dan ketika gadis itu sedang gugup. Seperti saat ini. Rindu sedang meremas bajunya, pertanda bahwa gadis

