8 - Labil

1416 Kata
Sudah 1 jam menunggu, namun dosen yang masuk mata kuliah pagi ini tidak kunjung datang. Rindu dan kedua temannya duduk sambil menatap ponselnya masing-masing. Tidak hanya mereka sebenarnya, tapi hampir semua orang tengah berfokus dengan kesibukannya sendiri-sendiri. “Rin, lo ga ke rumah sakit hari ini?” “Iya, tapi habis kelas!” Pandu mengangguk, lalu kembali merebahkan kepalanya. Pagi ini tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, dan dia butuh istirahat. Dan berselang 10 menit kemudian, Bram—sang ketua kelas, mengumumkan bahwa kelas hari ini di cancel. Jadilah Rindu, Miquel dan Pandu berjalan menuju parkiran. Ketiganya harus berpisah karena rumah sakit yang akan mereka datangi juga berbeda. “Lo gapapa naik ojol? Gue anterin aja!” Miquel masih menawarkan. “Kita bedah arah, Miq, mending gue naik ojol aja deh. Lagian udah gue pesen, tinggal bentar lagi kok!” “Apa lo bawa…” “Udah itu, gue duluan ya. Jangan lupa ntar malam kita ke tempat biasa!” “Okey, hati-hati!” Pandu dan Miquel juga lekas menaiki motor masing-masing dan melaju menuju rumah sakit. 15 menit perjalanan, akhirnya Rindu tiba di rumah sakit tempat dia melakukan penelitiannya. Semuanya berjalan dengan lancar, tidak ada masalah dengan administrasi dan semua perlengkapannya. Dia juga bisa mengganti tempat untuk KOASnya. Merasa bahwa masih banyak waktu, Rindu memilih untuk mengelilingi rumah sakit. Setiap pasien yang dia lihat, membuatnya berdebar. Perasaan bagaimana nantinya jika para pasien itu menggantungkan harapan padanya, adalah hal yang berat baginya. Bagaimana jika nantinya Rindu tidak bisa memenuhi keinginan mereka, melakukan kesalahan dan segala macam kesalahan lainnya? “Apa dokternya sudah datang?” “Diperjalanan, maaf atas keterlambatan ini pak, karena dokternya memang baru saja pulang subuh tadi setelah melakukan operasi. Dan harus kembali lagi ke sini, ah…dokternya sudah masuk ke ruang operasi. Ayo, jika bapak ingin melihat operasinya secara langsung!” “Apakah boleh sus?” “Tentu saja, silahkan pak, mari ikut dengan saya!” Percakapan itu terdengar oleh Rindu, dia mendadak ingin melihat bagaimana proses operasi meskipun sudah pernah. Dan tanpa membuang waktu, akhirnya Rindu berjalan di belakang seorang lelaki tua dan seorang perawat itu. Jujur, Rindu baru kali ini melihat secara langsung proses operasi. Meskipun dulu mereka diberi kesempatan untuk ikut, tapi vibesnya benar-benar berbeda. Sekarang dia berdiri bersama dengan seorang suster dan beberapa orang-orang yang wajahnya cemas, dengan pemandangan di bawah mereka adalah situasi ruang operasi. Pintu terbuka, hal itu menarik perhatian Rindu. Seorang lelaki masuk, dan beberapa perawat langsung bergegas mengenakan. Sorot mata tajam, dengan tinggi yang Rindu tebak adalah Ragata? Dia adalah sosok itu, Rindu yakin. Mulai menit di saat jemari tangan itu memegang alat-alat bedah, Rindu dibuat terpana. Jika bisa jujur, ada perasaan berdebar jika dia mengingat dokter itu. Bukan karena sosok itu adalah dokter, namun karena sesuatu yang berbeda. Jujur, Rindu pernah beberapa kali merasa ‘suka’ pada teman sekelasnya, namun hanya sekedar rasa suka saja. Dia tidak pernah effort untuk memperjuangkan perasaan yang menurutnya hanya sekedar ingin tahu itu saja. Dan kali ini, Rindu merasa penasaran dengan seorang Ragata Wijaya. Operasinya sudah usai, dan Rindu buru-buru pergi. Takut jika dia ketahuan menyelinap. Sayangnya, akal mulusnya tidak berjalan dengan lancar. Di lift, dia bertemu lagi dengan sosok itu. Jantung Rindu berdebar, apalagi saat tatapan mata mereka sempat bertemu. “Kamu ikut operasi tadi?” Ragata bertanya lebih dulu, sebab dia tahu bahwa sosok itu memperhatikan proses operasi sejak tadi. Rindu mendadak dibuat gugup, dia mengangguk dan tersenyum sendiri. “Dokter keren banget!” “Kamu punya izin? Jangan karena kamu juga mahasiswi kedokteran jadi bisa bebas ikutan!” “Maaf dok, tadi saya emang kepingin ikut aja. Soalnya pingin tahu gimana proses operasinya!” Sejenak, Ragata menilik dari ujung matanya. Dia tidak lagi menimpali ocehan gadis itu, dan turun di lantai 4. Rindu juga ikutan turun di lantai 4, padahal tujuannya adalah lantai dasar. Dia tidak tahu kenapa, tapi entahlah, dia merasa perlu mengekspor beberapa dari bagian rumah sakit juga. “Ada urusan apa di lantai 4?”Ragata berhenti berjalan, dia sadar sejak tadi gadis itu mengekorinya. “Maaf dok, tapi boleh saya bertanya-tanya lagi tidak?” “Apa?” meskipun kesal, Ragata masih saja menjawab. Berada berlama-lama di dekat gadis itu membuat dia lebih sensitif. Seperti gadis yang sedang PMS. Padahal sih biasanya Ragata selalu bersikap jutek dan tidak peduli pada gadis manapun. Bagi Ragata yang pernah terluka karena kaum hawa, dia cukup tahu untuk menjaga jarak. “Sebenarnya saya ingin bertanya mengenai beberapa poin lagi mengenai penelitian di laboratorium kemarin, dok. Tapi…maaf jika mengganggu waktu dokter!” “Seberapa besar kamu ingin menjadi seorang dokter? Jujur, saya tidak nyaman jika kamu harus menanyakan hal di dalam kampus. Saya sibuk dan mungkin….” Kali ini Ragata menggantungkan ucapannya saat menatap raut wajah kecewa dari gadis itu. Dia kesal, namun tidak kunjung mengusir gadis itu. “Ikut saja!” keputusan yang Ragata sesali. Tapi jika itu hanya untuk ilmu, dia tidak akan pelit untuk berbagi. Yang awalnya raut wajah Rindu asem, kini berubah sumringah karena dia diberi izin. Jantungnya berdebar, dia mengikuti langkah lebar itu ke sebuah ruangan yang letaknya tidak jauh. Begitu masuk, dia disuguhi dengan pemandangan yang membuat bibirnya tidak henti-hentinya terpukau. Kumpulan buku yang begitu lengkap. “Apa yang ingin kamu ketahui?” “Ahhh…itu dok, minggu lalu Anda mengatakan bahwa dalam operasi saraf, bisa saja terjadi kegagalan. Jika pembuluh darah pecah, cara untuk mengatasinya dalam operasi seperti apa ya dok?” “Kau tidak pernah membaca?” Deg. Rindu yang tadinya semangat mendadak menganga, cukup terkejut dengan reaksi singkat itu. Namun namanya Rindu dia tidak akan pernah merasa kecewa, karena disini, dialah yang butuh. “Untuk itu saya memerlukan bantuan Anda, dok!” “Buku di rak kelima!” “Hah?” “Kau bisa mendapatkan jawabannya di sana, tidak perlu saya yang mengambilkannya bukan?” “Ahhh…makasih dok!” kali ini semangat Rindu kembali berapi-api. Dia lekas berjalan ke arah rak buku yang berjejer rapi. Tanpa membuang banyak waktu, mata Rindu bisa menangkap buku yang dimaksud. Sayangnya, rak kelima terlalu tinggi. Rindu berusaha untuk meraihnya dengan berjinjit. Tangannya meraih ujung buku tebal itu. Dia kembali berjinjit sebisa mungkin, berusaha untuk meraih buku itu. Sayangnya tumitnya terasa kesemutan, buku itu mulai bergerak karena gerakan Rindu. Mata Rindu melebar saat akan bersiap ditimpa buku itu sampai…. Pluk Rindu tidak merasakan apa-apa. Namun dia merasakan aroma maskulin yang begitu gentle menusuk aroma hidungnya. Begitu membuka mata, Rindu melongo saat seseorang berada tepat di depan matanya. Ragata…lelaki dingin itu sedang melindunginya? Demi apa? Sedangkan Ragata, dia tidak tahu kenapa malah melakukan hal bodoh ini. Dia memang tidak berniat membantu gadis itu, sayangnya dia mendadak berlari dan menarik tubuh Rindu sebelum ditimpa buku setebal gaban itu. Namun, posisinya kali ini kurang beruntung. Rindu berada di atasnya, dan buku itu tergeletak di sampingnya. Bersusah payah Ragata menahan nafasnya, dia baru menyadari bahwa Rindu memiliki warna mata coklat yang bersih. Nafas gadis itu menyapu wajahnya, membuat darahnya berdesir tidak tahu kenapa. Udara di sekitar mereka terasa panas, Rindu merasakan panas di sekitar wajahnya. Jarak mereka sungguh minim, bahkan Rindu bisa merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat, dia yakin Ragata juga mendengarnya. Kali ini Rindu benar-benar malu. “Bisa kamu bangun dari atas saya?” serunya dengan suara dalam, dan serak. Buru-buru Rindu bangkit, dia berdiri dan menundukkan wajahnya yang memerah. Dia merasa malu, sekaligus merasa bersalah. “Itu bukunya, lain kali jangan bahayakan dirimu sendiri. Bagaimana bisa orang lain menggantungkan hidupnya pada orang yang tidak becus sepertimu?” “M…maaf dok, saya…saya tidak sengaja!” “Keluar!” “Bukunya dok?” “Ya ambil sendiri dong, masa saya yang ambilin? Apa kamu gak punya tangan sampe-sampe saya yang harus ambil sendiri? Ini dunia nyata, bukan dunia dongeng!” Perasaan Rindu bercampur aduk, antara kesal, jengkel, dan malu. Dia tahu jika dia salah, tapi Ragata gak harus mengoceh seperti itu juga kan? Rasanya image cool dokter di depannya saat ini hancur sudah. Buru-buru Rindu memungut buku tebal itu dan segera pergi. Akhirnya Ragata bisa menghela nafas legah, dia segera terlentang di kursinya. Hendak menguap, namun pintunya yang mendadak terbuka membuatnya ikutan mendadak berdiri. Seolah dia sedang tertangkap baru mencuri sesuatu. “Kamu lagi?” Rindu kikuk, “itu dok, sampai kapan saya bisa meminjamnya?” “Sampai otakmu berisi!” “B…baik dok, terima kasih. Saya pamit pergi dulu!” Pintu kembali tertutup, dan Ragata merasa kikuk dengan dirinya sendiri. Mendadak dia merasa bodoh dan merutuki ucapan kasarnya pada gadis yang tidak bersalah itu. Dia juga heran, kenapa emosinya menjadi sangat labil jika sudah berhadapan dengan bocah itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN