16. Buktikan, Kalau berani

1131 Kata

"Kamu kenapa sih ko?" Mama sedaritadi memperhatikan gerak-gerik putrinya itu. Setelah pulang dengan wajah letih, Aiko tampak lebih diam. Bahkan ketika Erika berulah dengan membanding-bandingkan keunggulannya dengan, Aiko. Biasanya putri bungsunya itu akan cerewet dan membalas balik ucapan, Erika. Tapi ini tidak, Aiko hanya melamun menatap piring berisi nasi dan sedikit lauk yang dia ambil. "Adek kamu kenapa sih?" Bisik mamanya pada Erika. Erika, wanita yang masih tahan dengan dandanan pada wajahnya itu mengendikan bahunya acuh. Papa berdehem pelan menanggapi suasana canggung yang tercipta. "Aiko." Satu panggilan papanya tidak membuat Aiko benar-benar merasa terpanggil. Kemudian papanya kembali memanggilnya kembali. "AIKO!" suara sentakan papanya membuat Aiko tersadar dan terperanga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN