PART 26 - PENCARIAN

1958 Kata
Ya Tuhan… Kututup mataku dan berharap aku bisa dibawa kembali kewaktu saat ini, aku tidak akan sanggup melihat kekerasan seperti ini. Benar saja, saat aku membuka mata, aku sudah kembali kesaat ini. Kulihat sekelilingku, aku sudah kembali keruangan tunggu bioskop dan sedang duduk diatas bangku menatap wanita yang baru saja masuk kedalam toilet. Wanita yang tanoa sengaja kulihat masa depannya. Bukan masa depan yang indah, masa depan yang begitu menakutkan, yang bisa saja hari ini adalah hari terakhirnya didunia ini. Aku memperhatikan pria yang bersama wanita tadi, ia berdiri tak jauh didepan toilet wanita dengan tatapan kosong menerawang, terlihat jelas bahwa ia sedang memiliki banyak pikiran. “Dek…” ucapan mas Tomo mengagetkanku. Aku terlalu fokus melihat pasangan itu hingga tak menyadari mas Tomo sudah keluar toilet. “Liatin apa dek?” tanya mas Tomo, ia mengikuti pandanganku pada pria berkaos hitam dengan velana jeans panjang itu. “Kamu kenal dia?” tanya mas Tomo lagi. “Gak mas. Gak kenal. Aku tadi lagi lihat-lihat poster terus gak sengaja lihat pria itu.” jawabku cepat dan segera berdiri disebelah mas Tomo. “Kita cari makan sekarang?” tanya mas Tomo padaku. “Aku mau ketoilet sebentar ya mas. Mas Tunggu dulu disini.” aku berpikir aku harus menemui wanita itu dan mencoba menghentikan hal buruk yang akan menimpanya. “Oke dek.” Mas Tomo duduk dibangku ruang tunggu dan akupun berjalan menuju toilet. Saat masuk kedalam toilet aku melihat ada empat bilik kecil ruangan toilet dan hanya satu yang terisi. Wanita itu pasti berada disana. Aku mencuci tanganku diwastafel agar tidak terlihat mencurigakan bagi 2 gadis yang baru masuk ketoliet. Satu gadis masuk kedalam bilik toilet dan satunya lagi sedang berkaca. Kini ada 4 orang didalam toilet termasuk diirku. Tak lama, wanita yang kulihat bertengkar dengan pasangannya itu keluar toilet. Ia mencuci tangannya dan mengusap hidupngnya yang memerah. Dari bayangan cernin besar didepan wastafel aku dapat melihatnya, ia jelas terlihat seperti orang yang baru saja selesai memangis. Aku ingin berbicara padanya sekarang namun tidak nyaman karena masih ada dua wanita lain didalam toilet ini. “Mbak…” panggilku saat wanita itu akan beranjak keluar toilet. “Iya?” tanyanya dengan cepat. “Bisa kita berbicara sebentar?” tanyaku  lagi. Aku harus menahan wanita ini sampai kedua wanita lainnya meninggalkan toilet dan menyisakan kami berdua. “Sekarang denganku? Ehm… oke.” jawab wanita itu dengan sedikit ragu. “Begini, mbak terlihat sangat mirip dengan teman lama saya.” ucapku lagi. “Begitu? Wajahku pasti sangat pasaran ya jadi bisa mirip orang lain.” wanita itu menjawab pertanyaanku dengan ramahnya dan sedikit bercandaan. Ia tersenyum dan membuat wajahnya terlihat lebih baik dari sebelumnya. Saat itu kulihat dua gadis lainnya keluar toilet setelah mencuci tangan mereka. Mereka melihat kerahak seklias lalu pergi begitu saja. “Begini mbak, waktu itu teman saya  sedang hamil.” ucapku. Kau takt ahu ide apa yang tiba-tiba muncul dipikiranku saat ini dan aku juga tidak tahu harus bagaimana cara menyampaikan hal yang sudah kulihat yang akan terjadi pada wanita ini. Senyum dari wajanya wanita itu hilang. Ia menatapku dengan serius. “Lalu apa hubungannya denganku?” tanyanya. “Dia hamil dan pasangannya memintanya untuk menggugurkan bayi dikandungannya itu, tapi teman sy menolak dan ingin mempertahankan bayi dikandungannya. Lalu hal tak terduga terjadi pada teman saya itu…” aku menghentikan ucapannku saat melihat reaksi wanita didepanku yang matanya terlihat mulai berkaca-kaca. Tubuhnya mundur beberapa langkah hingga menabrak wastafel dibelkangnya. “Mengapa kamu menceritakan hal ini padaku?” tanyanya dengar suara bergetar. Aku melihat tangan kanannya menahan tubuhnya diwastafel yang ada dibelakangnya. “Aku tidak tahu, mbak akan mempercayai hal ini atau tidak. Tapi saya merasa mbak akan berada disebuah masalah besar.” aku ingin sekali mengatakan kebenaran yang kuliat tentangnya namun aku takut dan akan dianggap gila. “Aku tidak tahu kamu siapa tiba-tiba berkata seperti padaku. Aku bahkan belum pernah bertemu denganmu sebelumnya. Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku.” ucap wanita itu dengan tatapan yang menggambarkan ketidaknyamanan dan kemarahan. “Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menganggu atau mencampuri hidup mbak.” aku mengatakan itu dengan sebenarnya, aku tak ingin mencampuri kehidupan orang lain namun kalau keadaan seperti ini, bagaimana bisa aku tinggal diam saja. “ Aku hanya buang-buang waktu berbicara dneganmu.” ujar wanita dihadapanku ini. Ia mencoba berdiri dengan benar dan berjalan keluar toilet, namun dari setiap langkahnya yang begitu lemas seakan tubuhnya tak bisa menopang tubuhnya, ia terlihat seperti akan terjatuh. Aku segera memegang tangannya, mencoba menopangnya. “Mbak, hati-hati.” Ucapku berusaha membantunya. Namun wanita itu melepaskan paksa tangaku dari lengannya. “Aku bisa sendiri. Jangan sentuh aku.” teriak wanita itu yang membuatku terkejut. Aku mundur beberapa langkah membiarkan wanita itu. Aku tak tahu apakah aku berhasil mengubah pikirannya atau tidak. Aku hanya ingin membantunya, namun kurasa yang aku perbuat sekarang sama sekali tidka membantunya, malah membuatnya merasa ketakutan dan terancam. “Mbak…” panggilku lagi. Wanita itu mengentikan langkahnya lalu menoleh melihatku namun ia tidak mengatakan apapun. “Bisakah aku meminta agar mbak hari ini pulang seorang diri dan kalau mbak punya ornag tua, malam ini pulanglah kerumah orang tua mba atau sahabat mbak asal tidak dengan pasangan mbak?” ini mungkin salah satu hal paling bodoh yang kukatakan pada orang yang belum kukenal secara tiba-tiba. Ia  mungkin mengabaikan ucapanku dan menganggapku sebagai peganggu, namun harus bagaimana lagi, aku tak tahu cara lain untuk membantu wanita didepanku ini. Wanita itu tidak membalas ucapanku lagi. Ia berjalan keluar sekana aku tidak mengatakan apapun padanya. Aku mengikutinya berlahan dan meningintipnya. Ia berjalan mendekati pria yang datang bersamanya dan bersikap biasa saja. Aku tak dapat mendengar apa yang mereka berdua bicarakan, namuan sepertinya mereka kan pergi meninggalkan bioskop ini. “Ya Tuhan… Apa wanita itu akan pulang kerumah ya kulihat di visionku?” Aku segera berjalan bergegas keluar menemui mas Tomo yang masih tampak asik duduk dan melihat-lihat poster film yang ada diruang tunggu itu. “Mas…” panggilku pada mas Tomo. “Sudah dek? Kita akan pergi makan sekarangkan?” tanya mas Tomo padaku. Aku tak bisa fokus pada mas Tomo dan terus memperhatikan pasangan tadi yang kini sudah berada didepan pintu masuk bioskop. “Iya mas, tapi bisa antar aku kesuatu tempat dulu gak mas?” tanyaku terburu-buru. AKku takut wanita itu tidak mengikuti saranku dan mereka pergi kerumah dimana pria itu akan mencoba membunuh wanita itu. “Bisa dek, memangnya mau kemana?” tanya mas Tomo bingung melihatku. “”Kamu liatin apa, dek?” tambah mas Tomo lalu memgikuti pandanganku kearah pintu masuk gedung bioskop. “Mas, nanti aku ceritakan ya. Kita keluar sekarang dulu. Ayo…” aku menarik tangan mas Tomo dan berjalan dengan cepat sata melihat pasangan itu Sudah menghilang dari depan pintu masuk. Saat sesampai diluar langit sudah berubah, yang tadinya masih terang saat kami tiba kini sudah berubah menjadi lebih gelap dan lampu-lampu jalana sudah dinyalahkan. Kuedarkan pandanganku dan melihat pasangan tadi sudah berada diparkiran. Mereka menaiki motor berwarna hitam dan terlihat akan segera meninggalkan tempat ini. “Cepat mas.” jawabku segera berlari keparkiran dengan tak melepas tangan mas Tomo agar ia bisa cepat juga bergerak. “Iya dek…” balas Mas Tomo yang dengan cepat memakai helmnya, lalu menghidupakan mesin motor vespanya. Segera kugunakan helmku dan menunggu mas Tomo berhasil menyalahkan mesin vespanya. “Bisa mas?” aku melihat mas Tomo beberapa kali mencoba menghidupkan mesin vespanya namun gagal. Waktu terus berjalan dan kulihat pasangan tadi sudah berada dipinggur jalan. “Aduh, ini baru aja kemarin selesai diservis. Ayoo dong Bejo jangan buat aku malu didepan dek Mala.” Mas Tomo berbicara pada motornya dan terus menerus mencoba menghidupkan mesin motornya. “Bejo, ayo dong bejo…” tambahku. Aku tadi mendengar mas Tomo memberi nama motornya bejo. Terdengar lucu memang, mas Tomo memang pria yang benar-benar unik. “Kalau gak bisa hidup, aku jual aja ya kamu.” ucap mas Tomo. Kulihat keningnya mulai berkeringat, ia pasti sudah lelah, sedangkan pasangan tadi sudah berjalan mengikuti jalan utama kea rah barat. “Apa aku tidak bisa menolong wanita itu?” aku benar-benar sedih sekaligus merasa khawatir. Rasanya seperti aku gagal menjalankan tugas penting yang harusnya bisa kau kerjakan. “ddddddrrrrrr……” "Akhirnya jo. Hampir aja kamu kutakar tambah dengan motor lain." ujar mas Tomo yang memuatku tersneyum. Iya, motor vespa mas Tomopun dapat hidup. Mas Tomo segera naik keatas motornya begitupun denganku. “KIta kemana sekarang dek?” tanya mas Tomo ketika kamu sudah sampai didepan jalanan. “Kesana mas.” aku menunjuk jalan utama kearah barat yang tadi dilalui oleh pasangan yang kini telah tak nampak dan kutak tahu keberadaannya. “Oke dek.” Mas Tomo menarik gas motornya. “Mas… lurus aja ya, yang ngebut mas.” ucapku. Aku memperhatikan satu persatu motor yang kulalui berharap dapat menemuka motor yang dinaiki kedua pasangan tadi. Hingga akhirnya aku sampai perempatan lampu merah dan masih belum menemukan apa yang kucari. Aku tidak tahu harus belok kiri, kanan atau lurus saja sekarang. “Dek, ini kita terus mau kemana? Mau lurus atau belok kiri atau kanan?” tanya mas Tomo. Aku tidak langsung menjawab pertanyaan mas Tomo. Kalau aku salah menentukan arah, maka aku tidak akan memiliki kesempatan untuk menolong wanita tadi. Namun jalan yang mana yang aku harus pilih? Aku benar-benar tidak ide sama sekali. “Dek, jadi kemana?” tanya ma Tomo lagi. Lampu sudh hijau dankami harus jalan karena kendaaran dibelakng kami sudah mengklakson kami untuk segera jalan. “Lurus saja mas. Lurus.” ucapku dengan keras agar mas Tomo bisa mendengar suaraku. Aku jarang mempercayai perasaan atau factor keberuntungan. Namun kali ini aku berharap sudah memutuskan hal yang benar. Motor vespa biru yang kami naikipun berjalan lurus kedepan melewati perempatan. Pandanganku terus menjelajahi dan memeriksa setiap motor yang aku lewati disepanjang jalan ini. “Dek, ini kita mau kemana?” tanya mas Tomo menanyakan hal yang sama seperti sebelum-sebelumnya. “Aku cari motor hitam mas, ada perempuan sama laki-laki yang naikinya, yang perempuan pakai baju kuning dan yang laki-laki pakai baju hitam.” ucapku, aku harus mengatakan hal ini pada mas Tomo akhirnya karena dengan mas Tomo mengetahuinya, mungkin itu akan lebih memudahkanku untuk menemukannya. “Memangnya mereka siapa, dek?” tanya mas Tomo. “Ehm… anggap saja yang perempuan itu temanku mas.” jawabku. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada mas Tomo, jadi lebih baik aku mengatakan hal seperti ini saja. “Maksudnya apa dek?” kok anggap saja?” tanya mas Tomo lagi. Aku tahu mas Tomo adalah orang yang cukup pintar dan memiliki pemikiran yang cukup kristis. “Ceritanya panjang mas, nanti aku akan ceritakan ya mas. Mas tolong batu cari mereka dulu mas.” ucapku, mencoba meyakinkan mas Tomo. Aku sebenarnya tidak mungkin menceritakan hal ini pada mas Tomo sekarang atau nanti, namun aku harus menemukan hal yang tepat agar mas Tomo tidak curiga. “Terus kenapa kita harus cari mereka dek?” tanya mas Tomo lagi. Rasa ingin tahunya benar-benar membuatku kewalahan saat ini. “Aku khawatir padanya mas. Mas fokus liatin jalan dulu ya, nanti aku ceritakan pad mas, yang penting sekarang kita harus menemukannya.” jawabku sama seperti sebelumnya. “Oke dek.” mas Tomo menaikan kecepatan motor vespanya. Aku yang sedari tadi memegang pinggir tempat duduk motor menyentuh ujung belakang baju mas Tomo karena terkejut dengan kecepatan motor vespa ini. Kukira motor vespa ii tidak bisa berjalan dengan kencang, namun ternyata dugaan kusalah. Karena tidak menemukan pasangan itu, aku mencoba memikirkan apa yang kulihat saat vision tadi. Aku harus menemukan petunjuk walau sedikit agar dapat membantuku menemukan mereka. Aku mencoba mengingat setiap peristiwa , pertama dari aku yang tiba-tiba berada didalam rumah yang berukuran tak besar. Lalu ada wanita yang membuka pintu rumah, ia masuk kedalam dan menutup pintunya lagi. Diluar halamannya nampak gelap, aku melihat jalanan dan didepan jalanan itu ada rumah juga yang sepertinya memiliki bentuk yang sama dengan rumah wanita ini, bercatkan biru muda. Hanya itu yang kulihat. Lalu sang pria membuka pintu dengan kasarnya, saat pintu terbuka aku mengingat bahwa rumah didepan itu tidak memiliki pagar, lampunya sudah menyalah dan ada nomor ditemboknya. Nomor terlihat samar karena gelap dan jauh, namun sepertinya itu adalah nomor rumah 15A.  Aku juga mendengar suara gonggongan anjing yang tak henti menggonggong dengan keras. Suaranya terdengar dekat, anjing itu mungkin berada dihalaman rumah ini atau rumah tetangganya. Hanya itu yang dapat kulihat dan dengar. Sebuah rumah, nampaknya komplek perumahan, bercat biru bernomor 15A, artinya didepannyanya rumah sang wanita dan ada suara gonggongan anjing yang cukup lama dan keras. Hanya itu petunjuk yang kupunya. Namun dimana harus menemukan komplek perumahan seperti itu disinii? Bali bukanlah pulau yang besar, namun juga bukanlah pulau kecil yang bisa kami kelilingi dalam waktu singkat. Tuhan, tolong berikan petunjukmu. Tolong bantu aku menemukan jalannnya. Tolong selematkan dan lindungi wanita itu dan bayi dikandungannya…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN