PART 22 - DI TOKO BUKU

1724 Kata
Ryuzaki tidak banyak berbicara selama kami diperjalanan, akupun juga bingung harus mengatakan apa. Alhasil, kami lebih banyak diam dan disibukan dengan pikiran kami masing-masing. Sesampai dirumah sakit, Ryuzaki membantuku lagi membuka helmku dan dengan cepat menggenggam lenganku saat hendak berjalan. “Aku bisa jalan sendiri kok.” kucoba sehalus mungkin menolak maksud baik Ryuzaki karena aku memang sudah merasa sangat sehat saat ini. “Baiklah.” nada suara Ryuzaki terdengar biasa saja, santai seperti biasa. Sesampai diruang tunggu rumah sakit, kami membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga dapat bertemu dengan pak Dokter yang dulu mengobatiku. Aku dan Ryuzaki masuk berdua kedalam ruangan dokter. Kata dokter, keadaanku lebih baik dan semakin baik. Aku bisa tenang sekarang karena untuk pemeriksaan berikutnya aku bisa datang minggu depan. Aku bersyukur dengan hal ini karena itu tandanya aku akan berhenti membuat keluarga disini menjadi khawatir. Saat keluar ruangan dokter, Ryuzaki berkata bahwa dia ingin kekantin sebentar, saat itu juga aku melihat suster Diah. Aku segera berjalan mendekatinya saat Ryuzaki berjalan menuju kantin “Halo Sus..” aku menyapa suster Diah. Suster Diahlah yang merawatku selama aku sakit. Kami cukup sering mengobrol dan bercanda saat aku masih dirawat dirumah sakit ini. “Hai Mala. Bagaimana keadananya?” suster Diah yang tadinya sibuk berbicara dengan teman perawatnya didekat tempat pengambilan obat tampak senang melihatku. “Sudah lebih baik, Sus.” jawabku. “Syukurlah, ini mau ambil obat?” tanyanya. “Ngga sus, ini baru selesai dari dr. Irawan, check up.” “Oh, terus Mala kesini sama siapa?” suster Diah memperhatikan orang-orang disekelilingku. “Sendirian?” tanyanya lagi sedikit terkejut. “Gak, aku sama Ryuzaki. Cuma tadi dia ke kekantin dulu sebentar.” “Perhatian banget sih pacarnya. Dia setia banget lo tungguin Mala waktu dirawat disini, sekarang juga dianterin. Hahhh, kapan aku dapat pria seperti itu.” Suster Diah memeluk buku ditangannya. “Pacar? Kami tidak berpacaran, Sus.” aku cukup terkejut mendengar perkataan suster Diah padaku dan memberitahunya fakta yang sebenarnya. “Eh beneran? Masa sih?” suster Diah tak pernah dengan ucapanku. “Sudah jangan malu-malu begitu, nanti diambil orang lo kalau gak diakui. Ryuzaki itu banyak dibicarain lo sama perawat-perawat disini.” “Tapi, memang kita gak pacaran.”ucapku. “Beneran?” “Iya sus, beneran.” “Woalaah, kenapa gak pacaran aja?”  aku tahu suster Diah orang yang sangat terbuka dan baik. Namun aku tidak menyangka ia akan menyarankanku hal ini padaku. “Aku belum kepikiran soal itu sus.” jawabku jujur. “Oh… Iya itu pilihan Mala sih, cuma aku lihat Ryuzaki itu orangnya baik.” Balasnya. “Begitu, terus…” suster Diah menghentikan ucapannya. Ia menatap sesuatu dibelakangku. “Halo Ryuzaki.” aku menoleh kebelakang saat mendengar suster Diah menyapa Ryuzaki. Ternyata ia sudah berdiri dibelakangku dengan membawa sebotol air mineral dan sebotol minuman jeruk dikedua tangannya. “Halo suster.” jawabnya. “Kita pulang sekarang atau mau berbicara dulu? Saya bisa tunggu ya.” tanyanya lagi padaku. “Kita pulang aja. Suster Diah juga pasti banyak pekerjaannya.” jawabku. “Suster nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi ya.” “Iya, hati-hati ya. Jangan lupa pesan yang tadi aku bilang.” suster Diah mengedipkan satu matanya padaku. “Pesan yang mana sus?” aku tak paham apa yang sedang dibicarakan oleh wanita yang berbeda enam tahun diatasku ini. “Yang tadi soal itu lo…”  suster Diah melirik ke Ryuzaki sekilas dan menatap mataku. “Yang tadi…” ucapnya lagi. “Yang mana?”  aku tak paham maksudnya apa. “Soal pacarana.” bisik suster Diah padaku. “Ahhhh… hahaha..” aku tak mengiyakan ucapan suster Diah. Aku benar-benar belum berpikir untuk berapacaran dengan siapapun satat ini. “Ya sudah, kami pulang dulu ya, sus.” aku berpamitan pada teman baruku ini. Ryuzaki juga melakukan yang sama. “Ok, hati-hati ya.” balas suster Diah padaku dan Ryuzaki. Kamipun berjalan bersama Ryuzaki menuju halaman rumah sakit. "Mau yang mana?" tanya Ryuzaki saat kami sedang berjalan. Ia memintaku memilih minuman yang tadi dibelinya dikantin. "Yang ini saja. Terima kasih ya." aku mengambil air minerak botol dingin ditangan kanannya dan menyisakan minuman sari jeruk ditangan kirinya. "Ya Tuhan, mengapa pria ini setiap hari semakin perhatian seperti ini..." Kulihat beberapa kali Ryuzaki tersenyum seorang diri seperti sedang memikirkan sesuatu yang lucu saat kami tiba diparkiran motor rumah sakit “Apa yang lucu?” tanyaku penasaran. “Itu, saya baru tahu kalau para wanita disini itu suka sekali bisik-bisik ya. Waktu itu saya juga lihat kamu berbisik dengan Dewi sekarang dengan perawat disini.” ucap Ryuzaki dengan wajah yang masih tersenyum. “ Aaaah, itu. Iya kadang-kadang kami begitu ya kalau membicarakan sesuatu yang rahasia.” aku ingin tertawa sebenarnya, karena dari kemarin hal yang dibisikan adalah tentangnya. “Oh begitu.” Ryuzaki mengambil helmku dan memakaiannya lagi dikepalaku, serta mengaitkan kancing helmnya. “Terima kasih.”jawabku. “Sama-sama.” balasnya. Ryuzaki naik keatas motornya diikuti olehku. Aku berpegangan pada pinggir jok motor karena belum berani untuk menyentuhnya walau ujung bajunyapun sekalipun. Ryuzaki tampak biasa aja dengan sikapku, hal ini benar-benar membuatku merasa nyaman karena merasa seperti tanpa tekanan. “Mau kemana lagi sekarang?” tanya Ryuzaki tiba-tiba. Ia memberhentikn motornya tepat didepan pintu masuk rumah sakit. “Pulangkan?” tanyaku balik pada Ryuzaki. “Maksud saya ada tempat yang mau dikunjungi dulu sebelum pulang?” mendengar ucapannya, aku tiba-tiba ingin pergi kesuatu tempat yang belum pernah aku kunjungi selama aku disini. “Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi, tapi apa tidak apa-apa?” tanyaku pada Ryuzaki. Aku sungkan memintanya ini itu. Aku tak mau membuatnya berpikir bahwa aku tukang suruh. “Tidak apa-apa, asal jangan ke Lombok saja. Nanti ibu bisa marah pada saya ya.” aku sontak tertawa mendengar ucapan Ryuzaki, begitupun dengannya. “Hahaha, bukan ke Lombok ya, masih disini.” Jawabku sambil tertawa. “Tidak apa, jadi mau kemana? Saya bisa antarakan karena free ya.”   “Aku ingin pergi ke toko buku.” Ucapku. “Toko buku? Book store?” tanyanya lagi, dari nada ucapannya aku merasa ia tidak percaya dengan ucapanku. “Iya, ke toko buku. Bisa tolong antarkan?” aku tak tahu mengapa nada suaraku berubah menjadi lebih lembut saat berbicara pada Ryuzaki hari ini. “Iya bisa. Saya tahu toko buku paling dekat disini ya.” Ryuzaki menghidupkan mesin motornya dan kamipun segera menuju toko buku yag Ryuzaki maksudkan. Aku merasa begitu senang membayangkan akan menyentuh dan melihat begitu banyak buku-buku yang ada di toko buku nanti. Untung saja aku membawa dompet kecilku, jadi kalau menemukan buku yang kusuka dan harganya murah, aku akan membelinya. ***   Melihat puluhan bahkan ratusan buku-buku yang disusun rapi dirak-rak buku membuatku ingin berada lama di toko buku ini. Aku benar-benar senang melihat ini semua. Aku mulai berjalan dari satu rak buku kerak buku yang lain, membaca sekilas buku yang tidak dibungkus plastik dan menaruhnya kembali. Hingga aku sampai dibagian rak yang khusus menjual novel.   Aku memperhatikan satu demi satu judul Novel yang ada dan mataku terpaku oleh sebuah novel yang ditulis oleh penulis favoritku. Aku mengangkat novel yang masih terbungkus plastik ini, membuatku tak bisa membaca isinya. Dibagian covernya tanpak tertulis besar nama N.H Dini, iya dia merupakan penulis favoritku, yang membuatku jatuh cinta dengan Novel dan ingin membuat karya sepertinya. “Suka Novel?” tanya Ryuzaki padaku. Pria ini sedari tadi berdiri dibagian rak buku bisnis, kupikir ia masih disana ternyata dia sudah berada dibelakangku saat ini. “Iya, sangat suka.” jawabku. Aku mengembalikan novel yang kupegang ketempatnya. “Kenapa tidak beli?” tanyanya lagi. “Saya sudah tidak baca Novel lagi.” ucapku. “Kenapa?” “Karena aku ingin fokus pada hal-hal yang lebih penting lainnya.” Iya, aku harus fokus bekerja, fokus belajar demi keluargaku. “Tapi tidak ada yang salah dengan membaca novelkan? Ini bukan hal yang bisa dilakukan saat punya free time.” ujar Ryuzaki. “Iya aku tahu, tapi aku sibuk sekarang.” aku tahu benar maksud ucapan Ryuzaki, namun aku lebih baik menggunakan waktu luangku untuk belajar dan membantu bibi dan paman daripada sekadar membaca novel saja dan mebuatku akan berandai-andai menjadi penulis lagi. “Melakukan hobi itu penting ya, bisa menyeimbangkan hidup kita agar tidak stress.” ucap Ryuzaki lagi. Ia menatap kedua mataku lalu menatap deretan Novel dideketa kami.   “Hidup cuma satu kali kan, kalau tidak bisa dinikmati akan sayang sekali. Saya pikir membaca merupakan hobi yang bagus juga ya. “ pria tinggi ini menatapku lagi dan tersenyum lebar padaku.  “Jadi Nirmala, kalau memang suka membaca , jangan hindari itu.”   Jantungku terasa berdetak kencang kembali. Aku tak ingin wajahku memerah lagi didepan pria ini. Segera kupalingkan wajahku dan menatap deretan buku resep masakan yang ada. “Ah iya… kamu benar.” Jawabku dengan terbata-bata. Aku segera mengambil sebuah buku resep membuat kue yang tak dibungkus plastic dan membuka halaman-halamannya dengan cukup kencang. “Suka masak juga?” tanya Ryuzaki lagi. “Lumayan.”jawabku cepat, masih fokus menatap buku resep didepanku. Aku sebenarnya tidak benar-benar membaca resep-resep dibuku ini, aku hanya melihatnya gambar-gambar kue sekilas. “Oh, saya juga suka masak ya.” aku tak bisa tak menoleh pada Ryuzaki saat mendengar ucapannya. Ini jelas hal yang mengejutkanku saat mendengar pria sepertinya suka memasak. “Saya suka masak pasta, steak,lebih ke western food.” ucapnya lagi tanpa menoleh kearahku. Matanya  juga sedang menatap sebuah buku resep masakan. “Oh, aku tidak menduga hal itu.” ucapku. “Menagapa tidak menduga hal itu?” “Karena kamu terlihat seperti pria yang hanya menyukai surfing dan wanita.” Jawabku reflek. “Hahahaha, saya memang menyukai surfing ya, itu sangat amat menyenangkan dan menyegarkan. Namun soal wanita? Ehm… saya pikir semua pria juga menyukai wanitakan. Itu hal yang normal.” Ucap Ryuzaki sambil mengedipkan sebelah matanya padanya dengan tawa yang cukup keras. “Sssttt, ucapku.” Ryuzaki menghentikan tawanya. “Sorry…” ucapanya lagi. Aku tak mengatakan apapun lagi dan berpindah kebagian buku-buku untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Aku memikirkan ucapan Ryuzaki mengena pria yang menyukai wanita. Iya, jelas dia menyukai wanita terutama wanita-wanita yang cantik. Kuambil sebuah buku persiapan masuk perguruan tinggi yang tampak depannya mirip dengan buku yang diberikan mas Tomo padaku. Saat kubalikkan aku terkejut melihat harganya yang ternyata cukup mahal. Segera kutaruh buku itu dan melihat buku-buku lainnya. Setelah berputar-putar, aku baru menyadari bahwa buku-buku yag berisi soal-soal untuk persiapan tinggi ini ternyata memiliki harga yang mahal. Aku tak mungkin membelinya, bahkan buku yang paling murahpun tak akan mungkin kubeli. Harganya bisa berkali lipat dari harga sebuah novel. Sepertinya memang aku hanya diijinkaan untuk melihat-lihat saja hari ini. Mungkin lain waktu aku akan mampu membeli buku yang kubutuhkan. Walau begitu, aku cukup senang bisa berkunjung ke toko buku ini. Benar-benar menyegarkan pikiranku. Kulihat Ryuzaki sudah berdiri dikasir. Ia sepertinya membeli buku. Aku medekatinya dan berkata bahwa aku akan menunggunya diluar saja, diparkiran motor tanpa memperhatikan buku apa yang sedang ia beli.   Tak lama menunggnya di parkiran motor, kulihat Ryuzaki keluar toko buku dengan membawa tas plastic putih yang berisi buku. “Ini…” Ryuzaki menyerahkan plastik berisi buku padaku. Aku segera mengambilnya, ia mungkin kerepotan membawa buku-buku ini jadi memintaku untuk membantu membawanya. “Ini bukunya untukmu…”  ucap Ryuzaki “Untukku?” aku segera membuka tas plastik yang diberikan Ryuzaki. Aku melihat tiga buku didalamnya. Satu buku besar yang merupakan buku ujian masuk perguruan tinggi, aku tahu ini buku paling mahal yang tadi kulihat. Dua buku lainnya yaitu Novel karya N.H Dini dan sebuah buku resep masakan membuat kue. Ini semua buku yang k****a dan kupegang tadi. “Aku tidak bisa terima ini.” aku begnat-benar sungkan harus menerima ini semua. “Aku harap kau akan menerima ini ya. Terimalah.” jawab Ryuzaki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN