“Bukan, dia bukan adik teman saya. Dia orang yang special untuk saya.” kedua mata Ryuzaki menatap lekat padaku. Kata-kata terakhir yang ia ucapakan seakan menggema ditelingaku saat ini.
“Spesial? Kamu sudah menurunkan standarmu?” tanya Cynthia dengan angkuhnya sambil mendengus kesal saat melirikku.
“Aku dapat banyak informasi tentangmu Ryu, aku hanya tak menyangka kini kau menyukai anak-anak seperti dia…” lanjut Cynthia. Wajah Cynthia mendekati wajah Ryuzaki yang masih tampak tenang mendnegar ucapan gadis yang terlihat bagai Dewi ini. Cynthia membisikan sesuatu yang samar-samar sapat kudengar.
“Apa kau lebih suka dengan yang polos sekarang daripada dengan yang berpengalaman?”
Aku tak dapat mendengar jelas, namun aku cukup yakin bahwa Cynthia membisikan hal itu pada Ryuzaki. Aku tak mengerti apa maksudnya. Siapa yang polos dan siapa yang berpengalaman dan apa maksud tujuannya mengatakan itu semua.
“Saya sedang makan siang disini, kalau kamu mau makan siang juga, silahkan bergabunglah bersama kami, namun kalau tidak, tolong biarkan kami menikmati makanan kami.” aku mengira Ryuzaki akan mengatakan hal lainnya untuk membalas ucapan Cynthia, namun tak sungka ia akan mengatakan hal itu dengan tenangnya.
“Aku sudah terlalu selera makan disini, msungkin lain kali saja ya, atau kita bisa menikmati makan bersama diatas ranjang? Kurasa itu akan lebih menarik dan seru. Bukan begitu Ryu….” Cynthia mengusap bahu Ryuzaki lagi dan mendekatkan wajahnya kembali, dan tanpa kuduga ia melayangkan ciuman ringan dipipi Ryuzaki hingga meninggalkan bekas lipstik kemerahan dipipinya.
“Bye…” Cynthia berjalan dengan gemulainya meninggalkan Ryuzaki yang diikuti oleh temannya yang sedari tadi hanya diam saja melihat tingkah laku temannya itu. Ia berjalan melewatiku begitu saja tanpa menyapaku dan tanpa melihat wajahku seidkitpun.
Ryuzaki mengambil tisu di meja dan segera mengelap pipinya, namun bekas lipstiknya masih tak bisa hilang.
“Itu, masih merah disini.” Ucapku terbata-bata sambil menunjuk letak sisa liptik diwajahnya.
“Saya ke toilet dulu ya.” Ryuzaki menatap bekas lipstik merah yang membekas di tisu lalu mengambil tisu yang baru untuk menutupi pipinya. Ia melakangkah berjalan menuju toilet yang ternyata berada tak terlalu jauh dari tempat kami duduk.
Kuperhatikan tisu yang ditinggal Ryuzaki dimeja dengan bekas lipstik didalamnya. Warnanya begitu kontras, begitu tampak jelas. Kutarik nafasku dalam-dalam mencoba mencerna hak baru saja terjadi didepanku.
Semakin memikirkan itu, aku semakin menyadari duniaku dan Ryuzaki memang berbeda. Melihat begitu banyaknya wanita cantik yang mengelilinginya mengingatkanku pada ucapan Dewi perihal Playboy yang ia sematkan pada Ryuzaki. Aku tak t hu itu benar atau tidak, namun melihat semua ini membuatku sedikit banyak mulai percaya pada Rtuzaki.
Hal lain yang tak kumengerti adalah mengapa ia mengatakan aku adalah orang yang special untuknya. Apa yang sudah kuperbuat hingga menjadi special untuknya. Apa mungkin itu hanya caranya untuk menghindari wanita yang tadi?
Iya menggunakanku untuk menghindar, iya mungkin itulah kebenarannya.
Ryuzaku sudah selesai membersihkan wajahnya. Ia duduk dengan santai ditempatnya sambil melihat kearahku, aku memperhatikan pipi kirinya yang sudah bersih taj ada bekas lipstik lagi.
“Sudah selesai? Tak dihabiskan?” ia melihat piringku yang belum habis spaghettinya.
“Aku akan habiskan.” kusendok spaghetti yang masih tersisa dipiringku. Entah karena sudah dingin atau bagaimana, namun rasanya terasa sudah tidak senikmat sebelumnya, namun aku harus menghabiskannya karena sayang kalau makanan semahal ini aku malah buang-buang.
Aku terus fokus pada makanan dihadapanku dan tidak menatap Ryuzaki sedikitpun. Aku merasa suasa santai yang sebelumnya kami rasakan jadi berubah menjadi sedikit canggung setelah kedatangan Cynthia.
Saat semua makanan dipiringku habis, segera kurapikan piringku dan mengelap bibirku, agar tidak ada makanan yang tersisia diwajahku. Kulihat Ryuzaki juga sudah selesai makan dan tampak sibuk mengetik sesuatu di handphonenya. Ini pertama kalinya aku melihat ekspresi wajahnya yang begitu serius. Aku diam saja menunggunya hingga selesai.
“Sudah selesai?” tanya Ryuzaki saat menyadari aku sedang menatapnya.
“Iya, sudah.”
“Oke.” Ryuzaki mengangkat tangannya dan seorang pelayanan wanita segera berjalan kearah kami.
“Tolong dessert yang tadi saya pesan ya.” ujar Ryuzaki. Aku sebenarya tidak ingat kalau ia tadi memesan dessert juga. Aku kira kami akan langsung pulang saat ini, tapi ternyata tidak.
“Masih kuat untuk makankan?”
“Iya, masih." jawabku jujur.
“Bagus, aku memesan dessert yang sangat enak ya.” semoga kamu suka. Handphone Ryuzaki yang ia letakan diatas meja tampak menyalah layaranya, sepertinya ada pesan masuk, namun Ryuzaki mengabaikannya lalu mulai berbicara lagi padaku dengan nada yang lebih serius.
“Saya minta maaf atas perlakuan wanita yang tadi ya.” ujarnya. Aku dapat melihat ketidanyamanan diwajahnya saat ia menagatakan hal itu.
“Tidak apa-apa. Itu bukan salah Ryuzaku kan. Aku juga tidak terlalu memikirkan percakapan kalian tadi.” aku tidak bisa mengatakan kebenarannya, bahwak aku dari tadi terus menerus memikirkan makna setiap percakpan mereka yang masih banyak tak kupahami.
“Terima kasih. Saya menyesal karena makan siang kita jadi terganggu karena hal tadi.”
“Iya, jangan dipikirkan. Aku tidak masalah dengan itu semua.” balasku lagi.
Ryuzaki tersenyum padaku. Wajahnya yang serius tadi berangsur-angsur kembali menjadi seperti biasanya.
Sebenarnya aku ingin bertanya tentang arti ucapan Cynthia tadi mengenai polos dan berpengalaman. Siapa yang dia maksud itu dan apa artinya semua itu. Namun kucoba pendam dalam hatiku dan berpikir akan bertanya pada Dewi saja saat sudah sampai dirumah.
Dessert kamipun datang. Aku lagi-lagi dibuat terpesona dengan sepiring cake cokelat berukuran kecil yang dipinggirnya ditaruh ice cream vanilla dan ada cream diatasnya serta butiran-butiran cokelat ditambah strawberry merah yang membuat makanan didepanku ini terlihat begitu menggugah selera. Aku meilirk dessert untuk Ryuzaki adalah cake berwarna puith dilapisi cream dan terdapat buah kiwi, jeruk dan strawberry diatasnya. Terlihat lebih rendah lemak dan rendah gula jika dibandingkan denganku.
“Mengapa? Kau mau tukar?” tanya Ryuzaki saat menyadari aku sedang menatap cakenya.
“Gak, aku suka dessert milikku.” jawabku polos. Aku sangat menyukai cokelat, dan aku tak bisa menolak jika ditawari kue cokelat seindah indah yang pastinya memiliki rasanya yang enak juga. Segera kupotong cake cokelatku dan sangat mudah kupotong. Saat kumeyuapi suapan pertamaku, aku merasa seperti sedang melayang diantara awan-awan. Cake cokelat ini tidaklah terlalu manis, rasanya sangat lembut, perpaduan cokelat dan ice cream vanilanya membuatku ingin memakannya lagi, lagi dna lagi.
“Ini sangaaat enaaakk.” aku tanpa sadar menekpresikan perasaanku.
“Iya aku tahu, wajahmu sangat gembira. Pasti itu sangat enak.” balas Ryuzaki.
Aku terus memakan cake cokelat ini hingga tanpa kusadari hanya tersisa satu potong kecil lagi yang akan habis saat kumakan. Kutatap potongan kecil itu karena merasa terlalu sayang untuk memakannya, namun aku snagat ingin mengabiskannya. Aku memejamkan mataku menyimpan semua rasa dari cake yang kumakan ini, aku harus mengingat sara luar biasa ini karen aku takt ahu kapan aku bisa menikmatinya lagi.
“Makanlah, kalau kurang kau bisa memesan lagi.” ucap Ryuzaki tiba-tiba.
“Ahhh, ini cukup.” jawabku. Sebagai orang yang hanya ditraktir, aku cukup malu untuk meminta memesan makanan lagi, apalagi makanan disini mahal-mahal.
“Ya sudah kalau begitu.” balas Ryuzaki sambil menyesap minumannya yang aku lupa namanya, aku hanya mengingat ada kata-kata squash didalamnya.
Kurasa makan siang kali ini tidak akan pernah kulupakan karena ini pertama kalinya aku menikmati makanan mahal dengan rasa yang masih baru dilidahku namun ternyata rasanya sangat enak. BUkan hanya soal makanan saja, namun juga ditambah lagi dengan kejadian yang dilakukan Cynthia dan ucapan Ryuzaki tentangku. Aku sangat tahu, makan siang kali ini akan sangat sulit kulupakan.
***
“Cieeeeee yang pergi lunch bareng Ryuzaki-kun.” ujar Dewi saat aku baru selesai mencuci mukaku dan memasuki kamar. Dewi yang sedang asik membaca bukunya segera melepaskn bukunya dan mulai menggodaku.
“Makan dimana, Mal?” tanya Dewi.
“Di Delacio, Wi.” jawabku lalu mengambil buku yang dibelikan Ryuzaki tadi padaku. Aku sebenarnya merasa ngantuk karena terlalu kenyang makan, namun aku tidak tahan untuk membuka buku-buku baru ini.
“Delacio yang restoran mahal itu, Mal?” tanya Dewi lagi dengan suara meninggi.
“Iya yang itu.” aku mencoba melepas plastik pembungkus dari buku persiapan ujian masuk perguruan tinggi yang masih sangat baru ini.
“Seriusan? Wuaaah enak banget, bagaimana disana? Pasti mahal ya harga makanannya?”
“Mahal banget, Wi. Aku aja gak tega mau makannya sebenarnya, tapi serius deh rasanya itu benar-benar enak.” aku masih membayangkan rasa-rasa dari makanan yang kumakan tadi.
“Wuaaahhh, baik banget Ryuzaki. Kayanya dia beneran orang kaya deh Mal. Makan siang aja disana. ” ucap Dewi.
“Sepertinya begitu, Wi. Dia bilang kalau sudah sering makan siang kesanan. Terus dia kenal sama pemilik tempat itu.” tambahku.
“Asli beneran deh ini orang, ornag kaya Mal. Sudah kamu sama dia aja kalau begitu.” Ucap Dewi dengan bersemangat.
“Supaya nanti kalau kamu diajak ketempat yang mahal-mahal, kamu bisa ajak aku juga.” Tambahnya.
“Kan kamu tahu sendiri aku gak mikiran hal-hal begitu, Wi. Kamu juga bagaimana sih, dulu bilang harus hati-hati sama dia, karena dia mungkin Playboy, tapi sekarang mahal suruh aku sama dia.” Aku benar-enar bingung dengan sepupuku ini.
“Aku sebenarnya mau kamu sama mas Tomo, tapi kok rada gak suka sama sikap dia ya. Kamu ingatkan saat kita makan malam sama mas Tomo dan Ryuzaki disini? Kami lihatkan bagaimana sikap mas Tomo? Aku tahu sih mungkin dia cemburu, tapi kan harusnya gak begitu juga sikapnya.” ujar Dewi dengan cepat.
“Aku malah lebih senang lihat sikap Ryuzaki yang lebih santai dan matang begitu, gak terbawa perasaan dan terpancing depangn ucapan mas Tomo. Aku gak tahu sih dia playboy atau gak, tapi semoga aja gak deh.” lanjut Dewi lagi.
Mendengar ucapan Dewi soal playboy aku jadi teringat kejadian tadi siang yang ingin kuketahui maknanya. “Oh ya Wi, kalau ada orang yang bilang polos dan berpengalaman itu artiya apa?” aku pikir Dewi mungkin tahu jawabannya.
“Siapa yang bilang begitu, Mal?” tanya Dewi penuh selidik.
“Ceritanya panjang, tapi intinya tadi saat lahi makan ada teman wanita Ryuzaki yang datang mengahmpiri Ryuzaki gitu, terus dia tanya ke Ryuzaki apakah dia kini sudah Sukanya sama cewek polos daripada yang berpengalaman.” aku mencoba menyampaikan hal yang kudapat seasli mungkn pada Dewi.
“Ahhh, aku paha maksunya. Ini ada dua kemungkinan sih ya, keungkinan pertama polos disini itu maksudnya orang yang benar-benar polos kepribadiannya dan tak pernah berpacaran, dan berpengalaman itu untuk orang yang sudah sering berpacaran. Untuk kemungkinan keduanya….” Dewi menghentikan ucapannya. Ia emnatapku dan terlihat ragu untuk mengucapkan kalimat berkutnya.
“Sinian Mal.” Dewi berbisik memintaku untuk mendekat padanya seakan kalimat yang ia ucapkan itu benar-benar sangat rahasia.
“Kamu jangan mikir aneh-aneh ya, aku cuma mencoba mengartikan pertanyaanmu ssaja.” jawab Dewi.
“Iya, Wi. Jadi kemungkinan kedua apaan?’ tanyaku penasaran.
“Jadi….” Dewi mulai bebrisik ditelingaku.
“Jadi polos yang dimaksud itu cewek yang masih perawan, Mal dan yang berpengalaman itu yang sudah sering melakukan hal itu. Hubungan yang boleh dilakukan saat sudah menikah itu.”
Aku segera menjauhkan wajahku dari Dewi setelah mendengar bisikannya. “Maksudnya hal-hal ryang berhubungan sama reproduksi manusia , Wi?” tanyaku.
“Iya yang itu, Mal.” jawab Dewi maish setengah berbisik.
Aku terdiam sesaat memikirkan jawaban yang Dewi berikan. Aku tidak mau terlalu memikirkannya, terlalu takut menerima fakta tentang Ryuzaki. Aku tidak tahu ucapan Cyntia benar atau tidak, kalaupun benar itu artinya Ryuzaki adalah pria yang….
“Tidak…tidak… Aku gak boleh mikir negatif tentang orang lain.”