Jari telunjuk yang lentik dan memakai kuku palsu bercat merah bergerak di sepanjang penyangga ranjang tempat ayah Fiona terbaring. Bibirnya yang berbalut lipstik merah tersungging. "Kau tahu? Anakmu hampir saja mati." bisiknya tepat ke telinga ayah Fiona. "Aku bisa saja langsung membunuhnya, tapi bukankah itu terlalu mudah? Nanti permainannya tidak seru lagi," bibir itu tersenyum dengan lebar. Ia menarik nafas dengan panjang sembari menegakkan kembali tubuh rampingnya. Kedua tangannya menyilang di depan d**a. "Membunuh kalian berdua adalah hal yang mudah untuk aku lakukan. Tapi, aku berusaha untuk menahan diri untuk tidak melakukannya," ia menyentuh alat bantu nafas ayah Fiona. "Untuk menghilangkan nyawamu, aku hanya tinggal melepaskan benda ini, dan tidak butuh waktu lama kau akan langs

