HAVEN - Part 4

916 Kata
"Maaf dad, aku harus menolak permintaanmu kali ini. Aku sudah memiliki kekasih, dan aku berniat ingin menikahinya." Haven berdiri dari kursinya. "Siapa kekasihmu?" kepala Simon mendongak. Ia tatap Haven dengan tenang. "Si wanita yang tidak jelas asal usulnya itu?" "Dia punya nama! Namanya Selene! Dan aku sangat mencintainya!" ucap Haven penuh dengan penekanan disetiap kata yang ia ucapkan. Simon tersenyum sinis, "jika kau memang berniat ingin menikah dengan wanita itu, kenapa kau tidak pernah membawanya bertemu denganku dan Helena?" Semua yang ada di sana menunggu jawaban dari Haven. Haven sendiri mengepalkan kedua tangannya. Bahkan dari penglihatan Fiona, nampak jelas urat-urat tangan dari pria itu. Fiona merona. Sepertinya Haven termasuk salah satu tipe pria yang Fiona idamkan! "Jangankan bertemu! Aku menyebut namanya saja kau sudah terlihat jijik!" ucap Haven dengan sinis pada Simon. "Pembahasan ini cukup sampai di sini! Tidak ada pernikahan antara aku dan perempuan ini!" tunjuk Haven pada Fiona. "Pilihan hidupku ada ditangan ku sendiri! Aku yang menentukan siapa yang berhak untuk menjadi teman hidupku! Dan kau tidak bisa memaksakan kehendak mu kepada ku lagi! Camkan itu dad!" Haven pergi dari sana. Helena mencoba untuk mengejarnya tapi Simon menghentikan wanita itu. "Tidak perlu dikejar, toh nanti dia sendiri yang akan kembali lagi ke rumah ini." "Kau percaya diri sekali!" jawab Helena kembali mendekat ke arah meja makan. "Ini penyebab kau selalu mengekangnya, melarang melakukan ini itu sehingga membuatnya muak dan berani melawan mu!" Helena menatap marah Simon. Fiona, Denzel, dan Victoria hanya bisa menatap diam pertengkaran kedua orang tua itu. Helena masih mencerca Simon dengan perkataan dan emosinya, sedangkan Victoria mulai berbisik pada Denzel. "Sepertinya ini akan lama," Denzel mengangguk setuju dengan ucapan Victoria. "Ayo kita pergi dari sini," "Ayo," jawab Denzel yang langsung berdiri dari kursi. Fiona yang melihat kedua saudara itu menatap bingung mereka berdua. Terlebih lagi Victoria yang mengajaknya untuk pergi dari sana. Victoria menarik tangan Fiona menuju ke belakang rumah. "Mereka memang sering seperti itu," Kedua alis Fiona bertaut, "maksudnya?" "Ayo duduk di sini, akan ku ceritakan semuanya." Victoria menarik tangan Fiona untuk duduk di tepi kolam renang. Kedua kaki mereka masuk ke dalam air jernih itu. "Sebenarnya Haven adalah anak yang penurut," Fiona menatap Victoria dari samping. Anak bungsu keluarga Simon ini memiliki warna mata yang berbeda dari saudaranya. Haven, memiliki mata berwarna hazel, sedangkan Denzel memiliki mata berwarna amber. Sedangkan Victoria, memiliki warna mata hijau. Sangat berbeda dengan kedua kakaknya apalagi kedua orang tuanya. Darimana dia mendapatkan warna mata yang cantik ini? Fiona tanpa sadar memiringkan kepalanya, hingga membuat Victoria menatapnya keheranan. "Ada sesuatu di wajahku?" Victoria menyentuh wajahnya dan respon Fiona hanya tertawa kecil karena melihat tingkah Victoria yang tampak lucu. "Kalau boleh tahu berapa usia mu tahun ini?" "Aku 20, Denzel 25 dan Haven 30," jawab Victoria dengan cepat dan bersemangat. "Jarak usia kalian 5 tahun?" Victoria mengangguk, "semuanya sudah di rencanakan oleh orang tua kami. Mereka tidak mau anak pertama cemburu karena kasih sayang orang tuanya terbagi," Victoria tertawa saat mengatakannya. "Aku setuju dengan pemikiran orang tua kalian," "Ya, semua sudah direncanakan sematang mungkin. Hingga Haven muak dengan semua yang sudah diputuskan oleh daddy dan memilih keluar dari rumah ini," Victoria menatap Fiona dengan lekat. "Sejak Haven berusia 15 tahun, dia mulai memberontak." pandangan Victoria menerawang. Kedua tangannya pun pindah ke sisi tubuhnya dan kedua kakinya bergerak di dalam air. "Dari kecil, kami bertiga sudah dilatih memegang senjata." "S—senjata?" Fiona tergagap. Victoria mengangguk tetapi masih mempertahankan posisinya. "Dari kecil kami bertiga harus mengikuti apa yang daddy ucapkan. Kalian harus lakukan ini, kalian tidak boleh melakukan ini bla bla bla.. sampai Haven muak dan melawan daddy saat usianya masih 15 tahun," Victoria menoleh ke arah Fiona yang tampak terkejut mendengar ucapannya. Wajah Victoria kembali menghadap ke depan. "Karena identitas kita bertiga sebagai anak seorang mafia menjadi penyebab tidak ada satu pun yang ingin berteman dengan kami. Bahkan di lingkungan dekat rumah pun, anak-anak tetangga tidak mengijinkan kami untuk bermain dengan anak-anak mereka. Sehingga setiap minggu daddy akan mengajak kami jalan-jalan ke luar negeri." Fiona menggigit bibir bawahnya saat mendengar cerita Victoria. "Pasti sangat sulit bagi kalian melalui itu semua," "Ya, sampai pada akhirnya mommy menyuruh kita untuk sekolah di tempat yang berbeda. Setidaknya tidak ada yang tau kalau anaknya keturunan Sachdev." Kedua alis Fiona kembali bertaut, "bukannya Sachdev terkenal di benua Amerika?" "Memang, tapi tidak di bagian eropa dan asia." Victoria tersenyum ke arah Fiona. "Karena ingin mendapatkan teman kalian rela sekolah sejauh itu?" Fiona terkejut sekaligus tidak bisa menahan tawanya. Ia dan Victoria tertawa bersama dan tanpa sepengetahuan mereka Denzel melihat interaksi itu dari dalam mansion. Ia merekam interaksi Fiona bersama Victoria lalu mengirimkannya kepada Haven. *** Haven mematut dirinya melalui cermin yang ada di kamar mandi apartemen mewah miliknya. Setelah pergi dari mansion orang tuanya, Haven pulang ke apartemen dengan keadaan emosi yang tinggi. Ia membanting semua barang yang berada dekat dengannya. Membentak dan memaki semua pelayan lalu setelah itu memilih mendinginkan tubuhnya dengan cara berenang. Dan setelah 8 menit, baru lah ia keluar dari tempat itu. "Menikah. Dengan orang yang tidak aku suka? Jangan harap itu akan terjadi." ucap Haven sembari mengeringkan rambutnya coklatnya. Di sela kegiatan itu, ponsel yang ada di dekatnya berbunyi. Ada notifikasi pesan masuk dari Denzel. Haven menjangkau ponselnya, membuka pesan yang Denzel kirimkan. "Apa ini?" Haven memutar video yang Denzel kirimkan kepadanya. Sepertinya kakak ipar mudah akrab dengan orang lain. "Kakak ipar?!" Haven membaca pesan Denzel dengan nada suara yang cukup tinggi. Lalu satu pesan kembali masuk dari Denzel. Aku merestui mu. Menikahlah dengannya, Haven! "Denzel b******k!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN