Bab 18. Membujuk

1100 Kata

“Om bilang nggak boleh ikut campur urusan masing-masing, nggak boleh cari tahu kehidupan pribadi masing-masing, berulang kali ngomong kayak gitu, seolah aku akan melanggar tapi lihat sekarang!” Tatapannya penuh emosi, wajahnya memerah dengan nafas terengah-engah. Berkacak pinggang menatap kesal ke arah Garran yang telah berhasil menyeretnya dari dalam restoran saat ia dan beberapa temannya tengah makan bersama. “Om yang melanggar! Om yang ikut campur urusan aku!” Gianni masih kesal. “Sudah malam, coba lihat sekarang,” Garran menunjukkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sudah pukul delapan malam, kamu harus pulang.” “Sejak kapan pukul delapan dimasukkan dalam kategori malam? Ini Jakarta, bukan pedesaan yang menganggap malam di waktu kayak gini!” Suaranya menggele

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN