Dariel masih berada di parkiran kantornya. Dia belum berniat untuk keluar dari dalam mobilnya. Wajah sedih Acha belum bisa lepas dari ingatan Dariel. Memang ini bukan pertama kalinya dia melihat Acha menangis. Tetapi, rasanya ada yang berbeda. Mungkin Dariel merasa tangisan gadis itu kali ini dikarenakan dirinya. Selama sebulan lebih bertemu kembali dengan Acha dan berkomunikasi dengannya, tak sekalipun Dariel terpikir tentang perasaan gadis itu. Apa lagi Acha tidak pernah menunjukkannya. “Bukan... mungkin aku aja yang gak tahu.” Gumam Dariel lirih. Kejadian tadi benar-benar mengalihkan perhatiannya dari Melati yang hilang kabar selama beberapa hari ini. Dia sendiri merasa heran kenapa bisa terusik. Padahal selama ini, selain Melati tidak ada gadis lain yang membuatnya risau. Jangankan

