Bagas masih berdiri dengan rokok menyala di tangannya, tatapan matanya dingin, penuh obsesi yang tak terbantahkan. Nama Sekar seolah sudah menjadi racun yang mengalir di nadinya. Nindya duduk di sofa, menyilangkan kaki, wajahnya tenang tapi matanya penuh kalkulasi. Wanita itu tahu, anaknya sudah gila karena cinta terlarang itu—namun justru kegilaan itulah yang bisa menjadi bahan bakar untuk menggerakkan rencana besar mereka. “Kalau itu yang kamu mau…” suara Nindya meluncur pelan, seperti bisikan iblis yang meninabobokan. “Mama akan bantu. Kamu hanya perlu mendengarkan arahanku.” Pintu kamar lain terbuka. Nindy—wanita muda yang selama ini hanya dianggap mainan Bagas—keluar dengan pakaian tipis, rambut berantakan. Ia menguap sebentar, lalu memandang ke ruang tamu dengan wajah malas. “Rib

