“Biarkan saja.”
Argo menoleh ke arah Tyas yang duduk di tepian ranjang, kamar mereka sepenuhnya gelap. Ada penerangan dari lampu kamar mandi.
“Biarkan saja lampunya tetap mati. Tidak apa—kan?” tanya Tyas terbata. Matanya mengikuti gerakan Argo yang kian dekat menghampirinya.
“Tidak apa-apa,” ujar Argo pelan sambil berlutut di depan Tyas. Argo menyangka, dalam keadaan gelap membuat Tyas nyaman. Jadi, dia tidak akan ambil pusing. Argo tidak banyak bicara lagi melancarkan serangan yang dia mulai tadi.
Jantung Tyas tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana iramanya, disentuh oleh lelaki lain selain Genta. Bukannya membuat dia bahagia. Meski dalam hati berjanji akan mencintai suaminya, ternyata ketika Argo ada di atasnya, yang terbayang adalah wajah Genta.
Tyas hanya mampu memejam, meremat kuat-kuat seprai, lebih baik tidak melihat siapa yang ada bersamanya saat ini. Dia hanya pasrah. Berpura-pura, mendesah, dan menyebut nama suaminya sendiri.
Padahal segenap hatinya meneriakkan nama lelaki lain.
Air matanya mengalir, mengapa sulit sekali mengatur perasaaannya saat ini.
Ada kelegaan ketika Argo melenguh panjang. Beberapa saat lelaki itu terdiam, lalu ambruk di samping Tyas. Napas lelaki itu masih memburu. Tangannya lantas memeluk Tyas yang masih terpana tak percaya, malam ini hatinya terpaut lelaki lain. Tapi, itu tidak mengapa, kan? Argo adalah suaminya sendiri.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Argo pelan, sambil mengecup pucuk kepala Tyas, meski permainan pertama kalinya singkat dan terkesan kasar. Entah, Argo juga tidak mengerti mengapa bisa dia bermain seperti itu. Meski ini juga bukan yang pertama untuk Argo—dalam hati lelaki itu berasumsi, semuanya karena dia tidak sabaran ingin segera menyentuh Tyas.
Tyas mengangguk pelan.
“Apa tadi membuatmu sakit?”
“Nggak, kok,” jawab Tyas dengan cepat. Air matanya mengalir setetes di pipi tanpa kelihatan oleh Argo.
Lantas, terdengar suara dering ponsel Argo yang ada di saku celana. Lelaki itu panik, langsung bangkit dari ranjang seperti tertangkap basah sedang bermain cinta. Tangannya meraba sisi ranjang, mencari-cari di mana Argo lempar celana panjangnya tadi.
“Lampunya nyalakan saja,” cetus Tyas—yang sepertinya tahu kalau Argo mencari di mana celananya berada.
Argo dengan cepat menekan saklar lampu yang ada dekat pintu kamar itu.
Sementara Tyas inginnya bersembunyi dari Argo. Jadi yang dia lakukan adalah dengan cepat melangkah ke kamar mandi. Menangis dalam diam, sengaja menyalakan pancuran air untuk meredam suara isakannya.
Entah berapa lama Tyas ada di kamar mandi. Dia mendapati Argo menyandarkan punggung di kepala ranjang. Tersenyum ke arah istrinya yang terlihat malu-malu setelah keluar dari kamar mandi.
“Kamu langsung mandi?” tanya Argo perlahan, lelaki itu bangkit dari ranjang. Sebenarnya Argo tidak peduli apa yang Tyas lakukan setelah mereka menyatu. Tapi, mulai saat ini Argo hanya merasa kalau menatap Tyas rasanya gemas sendiri, dan ingin menyentuhnya lagi dan lagi.
Tyas mengangguk, “Panas aja,” balasnya.
“Tadi mami telepon, dia beneran nggak tahu kalo kita udah pulang,” ujar Argo, lantas berjalan melewati Tyas yang berdiri dekat pintu kamar mandi. “Aku mau mandi juga, deh,” celotehnya. Malam ini, Argo cukup bahagia, semua keresahan dan juga keraguannya terhadap Tyas menguap begitu saja.
Mata Tyas mengikuti gerakan Argo ke kamar mandi. Tidak mau kegelisahannya diketahui Argo. Meski ada sedikit penyesalan dalam hatinya, tapi ranjangnya memang seharusnya hangat. Dan memang harusnya Tyas tidak berhak menunda keinginan suaminya untuk melakukan hal itu.
Tyas menghela napas, entah mengapa ada yang kosong dalam hatinya. Dia mengambil ponsel yang ada di tasnya. Ada beberapa panggilan tidak terjawab, dari adiknya. Tyas membalas itu dengan pesan singkat.
Lalu ada notifikasi di grup what’s app. Genta memasukkan Tiffany ke grup itu.
“Apa?” Mata Tyas membelalak, tidak percaya. “Apa-apaan Kak Genta memasukkan Tiffany ke grup pribadi Genta? Apa Genta sudah berubah pikiran? Tadi Genta caci maki Tiffany, sekarang malah ada di grupnya.
[Selamat Malam semua, saya menambah satu orang dalam tim, Tiffany. Saya harap kalian bisa bekerja dengan baik dengan adanya dia.]
“Bekerja lebih baik bagaimana?” ulang Tyas dengan kesal. Mungkin Genta bisa bekerja sama dengan Tiffany kalau liat ukurannya yang besar!” gerutunya sendirian. Bukannya tadi Genta bilang kalau bertiga saja sudag cukup? Ih, kenapa Genta tidak stabil! Tuding Tyas lagi, tentu saja Tyas berusaha meredam suaranya. Agar tidak terdengar Argo.
Ada rasa marah dalam hati Tyas, tidak terima dan juga sangsi dengan Genta. Jangan-jangan Genta memang naksir Tiffany. Dalam hal ini memang tidak ada salahnya, tapi kenapa juga Tyas kesal sendiri.
Argo keluar dari kamar mandi, lalu mendapati istrinya itu mendengkus. Menggemaska.n sekali melihat Tyas seperti itu.
Tanpa berkata, lelaki itu menghampiri Tyas yang masih ada di ranjang, setengah berbaring.
Kalau tadi Tyas tidak rela ditiduri suami sendiri, sekarang, Tyas malah membalas setiap godaan yang dilancarkan Argo.
Tyas hanya mengutuk-ngutuk Genta dalam hati. Baru saja hatinya tidak tahu diri meneriakkan namanya. Sekarang, Tyas menyerah begitu saja kepada kegagahan Argo di ranjang karena Genta juga.
***
Rasanya Genta kesal sendiri ketika pulang harus sendirian lagi di apartemennya. Lebih kesal ingat kejadia di teras lobi kantor tadi. Tyas dan Argo, ayolah, mereka tidak cocok! Genta berkomentar sendirian seperti orang gila.
Sengaja dia menyalakan laptopnya, ingin melanjutkan pekerjaan yang tadi tertunda. Namun, pikirannya terganggu tidak bisa menghilangkan bayangan Tyas dari otaknya. “Apa sekarang gue gila?” tanyanya sendirian, jarinya ada di atas kibor laptop, tapi tak mampu mengetikkan apa pun. Padahal tadi sudah ada konsep di kepalanya.
Ini tidak pernah terjadi selama Genta ada di London. Apa dia harus kembali ke London?
Lalu bagaimana rintisan usahanya? Masa mau ditinggalkan begitu saja? Tidak mungkin! Genta menggeleng.
Genta akhirnya bangkit dari kursi, mengambil minuman dari kulkas. Tapi, mengapa kulkasnya kosong melompong?
Ah, Genta baru ingat dua hari lalu mengusir asisten yang membantu di apartemennya. Jadi, mana mungkin ada makanan dan minuman di kulkas.
Disaat yang bersamaan, perutnya berbunyi kelaparan.
Genta merutuk dalam hati, dia menelepon jasa pengantar makanan yang ada di lantai bawah apartemennya.
“Maaf, Pak, sudah lewat last order.”
Genta menggeram, selama ini rasanya baru kali ini dia kesulitan mengatur hidupnya.
Sekalian saja, Genta turun ke bawah, untuk membeli beberapa keperluannya, agar dia juga bisa mengisi perutnya yang kelaparan. Karena bertemu dengan penghuni apartemen itu, Genta bertanya.
“Oh, lo mau makanan apa? Di bawah kalo jam segini supermarket masih buka. Ada banyak tukang jajanan kaki lima kalo mau ke belakang apartemen.”
Genta berpikir sejenak, “Sepertinya itu juga enak. Oke, Thanks!” ucapnya.
“Yoi!” sahut si tetangganya itu, sambil melambaikan tangan dan berlalu.