“Apa?” Genta menatap Mami seperti tidak terima. Lagian, Tiffany, Tiffany ini siapa? Dan yang mana? Apa alasan orang tuanya ini? Asal sebut nama atau memang sengaja, mau menyiksa dirinya, si? gerutu Genta dalam hati.
“Tyas nanti yang akan menjadi asistenmu langsung. Jadi, Tyas,” sapa Papi sambil menatap Tyas. “Kamu akan belajar langsung dengan Genta, dia termasuk hebat di bidangnya. Dan kalian aka ada dalam satu ruangan.”
Argo menarik napas, tidak suka. Apa-apaan Papinya ini? Apa Papi tidak bisa menjaga perasaannya?
“Tidak perlu,” tolak Genta dengan tegas. “Semua asisten dan yang akan membantu saya cukup ada di ruangan saya kalau saya minta saja. Nanti salah satu dari kalian, tolong bawakan berkas klien yang akan kita tangani ke ruangan saya. Terima kasih.”
Genta tidak tahu diri langsung pergi keluar ruangan itu. Matanya memang tidak bisa bergerak dari Tyas. Tapi, Genta tahu kalau dia juga harus profesional.
Jauh dalam hati Argo juga menyimpan pertanyaan, untuk apa papinya menyuruh Tyas menjadi asisten Genta?
Genta tetiba berhenti di depan pintu. “Oh, ya, Argo, jangan lupa kartu pegawai untukku.”
“Baik, nanti akan saya infokan ke bagian personalia juga,” jawab Argo tak kalah dingin.
“Terima kasih,” Genta tidak berkata apa pun lagi. Dia berjalan lurus ke depan tanpa menoleh ke kanan dan kiri. Wajahnya tegang giginya gemeletak, tangannya mengepal di samping badan.
Membuka pintu ruangannya dengan kasar, satu sekretaris yang sudah disiapkan oleh perusahaan kaget begitu Genta membanting pintu ruangannya.
“Astaga!” gumamnya sambil mengelus elus d**a. “Belum lama jadi sekretaris, hampir kena serangan jantung begini,” gerutunya. Sekilas dia melihat rupa Genta tadi. “Ganteng-ganteng galak!”
Sementara, Genta masih terhanyut dengan amarah, inginnya melempar semua barang yang ada di meja. Kesal, tidak terima, papinya bisanya hanya mengatur saja! tidak pernah bisa memikirkan perasaan Genta.
Napas Genta masih tersengal, tetapi dia mendengar ketukan di pintu ruangannya.
“Genta!”
Genta tidak menjawab ketukan itu, dia hanya mengerang tidak suka, melonggarkan dasinya.
Namun si pengetuk pintu itu tidak mau tahu. Dia tetap menyeruak masuk ke dalam ruangan Genta untuk menyapa lelaki itu.
Tetiba pandangan Genta mengarah ke pintu ruangan yang dibuka. Ada seorang wanita muda, mungkin seumuran dengannya. Rambutnya panjang hitam dan juga cantik. Namun, ini Genta yang dingin sekali kepada setiap wanita.
“Siapa kamu? Bisa nggak ketuk pintu dulu?”
“Ya ampun, Pak Genta, maaf. Tadi ada OB yang mau antar minuman tanya ruangan Pak Genta di mana, pas saya masuk OB-nya ilang. Saya Tiffany.” Perempuan itu menyorongkan tangan.
“Genta,” jawabnya singkat tanpa menyambut tangan Tiffany yang sudah terulur. Matanya menekuri laptop yang baru saja dia nyalakan. “Ngomong-ngomong, apa ada yang bisa saya bantu? Atau, kamu yang antar berkas yang tadi saya minta? Kalau iya, taroh aja di meja saya.”
Tiffany menarik senyuman dan juga menarik tangannya. “Bukan.”
“Kalau begitu, silakan keluar dari sini. Kamu tahu di mana pintu keluarnya. Saya akan telepon kamu jika memang butuh sesuatu.”
Tiffany merasa tidak enak. Mengapa Genta begini banget, si, sikapnya. Tidak seperti Argo yang ramah? Waktu Diana mau mengenalkannya dengan salah satu anaknya, Tiffany hanya berpikir kalau sikap Genta tidak terlalu jauh dengan Argo. Makanya Tiffany setuju saja. Tapi, kalau tahu Genta galak, Tiffany enggan mendekati Genta. “Oke, saya permisi,” jawab Tiffany tegas.
Lalu OB datang mengetuk pintu. Sebelum Tiffany keluar dari ruangan. “Pak Genta, ya?” tanyanya sambil membawakan minuman di nampan.
“Ya, saya,” jawab Genta sambil melihat siapa yang datang. Dari seragamnya, Genta tahu itu pasti OB.
OB itu datang mendekati Genta penuh dengan senyuman. “Saya Paimin, Pak Genta. Saya OB di sini, kalo perlu apa-apa, bisa telepon atau japri saya aja,” ujarnya ceria sambil tersenyum. “Ini silakan diminum, Pak. Oh, ya, Pak Genta mau minum apa tiap pagi, biar saya siapkan.”
“Saya biasa minum kopi pait.”
Tiffany seperti kambing congek saja. “Saya permisi dulu, Genta.”
Genta hanya mengangguk, membuat Tiffany mendengkus melihat kelakuannya. Dalam hatinya menggerutu. Apa-apaan, si? Selama ini baru kali ini Tiffany melihat lelaki galak begini. kalau begini, Tiffany tidak akan tahan mendekati Genta.
Beda dengan Tiffany, beda lagi dengan si OB. “Baik, Pak, Genta tiap pagi saya buatkan kopi pait.”
“Sekalian, kamu bisa belikan saya sarapan?”
“Bisa, bisa, Pak.”
Genta mengeluarkan beberapa lembar uang. “Ini, belikan saya sarapan setiap pagi. Apa saja, asal jangan yang pedas. Saya mau sandwich dengan kentang atau croisant isi daging. Mengerti, kan?” tanya Genta sekali lagi.
Mata si OB berbinar melihat beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Seraya mengangguk tanda mengerti. Padahal dia juga tak mengerti apa itu sandwich, atau kro … kro … Ah, pokoknya setiap karyawan yang ada di sini akan makan nasi uduk pada waktunya. Dan nasi padang pada waktu siang.
Paimin pergi dari ruangan itu dengan perasaan ceria, langsung membelikan sarapan untuk bos! Gumamnya.
***
“Rasanya aku sudah harus menjalani hariku sebagai asisten kakak kamu, Argo.” Tyas bosan baru satu jam ada di ruangan Argo. Tapi, kalau tidak ada yang dia kerjakan, rasanya bosan juga.
Sementara, Argo menahan Tyas di ruangannya, hanya karena dia tidak rela. Masa, baru saja menikah, istrinya belum disentuh, sekarang papinya menugaskan dia dengan kakaknya. Meski itu kakak kandung.
Tyas lalu merasa ponsel yang ada di saku celananya bergetar. Ada satu pesan masuk, notifikasinya dari Samuel.
“Yas, kita harus ke ruangan Pak Genta, ada beberapa berkas mengenai PT. Alexon yang harus kita laporkan.”
“Oke. Gue ke ruangan lo,” jawab Tyas dengan cepat. Dia hanya merasa kalau semua ini adalah kewajibannya sebagai pegawai yang resmi diangkat hari ini. Bukan sebagai pemagang lagi. Dan Tyas akan mendapatkan gaji sesuai dengan peraturan perusahaan dan pemerintah.
“Lho, kamu mau ke mana?” tanya Argo dengan dahi yang mengerut.
“Mau ke ruangan Genta. Kamu ingat kan, aku kan jadi asistennya dia.” Melihat wajah Argo merengut, Tyas mengerti. “Aku di sana sama Samuel, kok. Jadi, jangan khawatir. Nanti juga ada Mbak Tiff. Kita ramai-ramai ada di sana.”
Tetap saja, Argo tidak senang mendengarnya, lelaki itu hanya menghela napas. “Terserah kamu sajalah,” ucapnya tanpa melihat ke arah Tyas. Wajahnya masih seperti tadi.
Tyas hanya merasa kalau Argo sudah mengizinkannya pergi. Jadi, perlahan, Tyas keluar dari ruangan Argo.
Tinggal Argo menggeletakkan gigi begitu Tyas menutup pintu dari luar. Apa maksud papinya menugaskan Tyas menjadi asisten Genta? Argo meninju udara, kesal rasanya!