Menjadi seorang model tidak mudah, Anna terpaksa merahasiakan profesinya dari sang suami. Setiap hari ia menjadi dua orang berbeda. Riasan dan baju bagus telah berganti dengan baju sederhana.
“Terima kasih sudah bekerja keras hari ini, Na.” Inez membuka pintu setelah mobilnya berhenti tepat di depan pagar rumah Anna.
“Sampai nanti,” kata Anna turun dari mobil seraya melakukan perenggangan kecil.
Kendaraan roda empat itu melaju pergi menyelusuri jalanan sepi. Anna mendorong pagar rumahnya, ia melihat mobil suaminya dan sepupu berdampingan. Seingat, Anna suaminya akan pulang larut malam karena pekerjaan yang menumpuk. Lagian ini bukan jam untuk orang bertamu.
“Kenapa, Mas Yoshi nggak kabari kalau pulang cepat? Terus Delia ngapain ke sini? ” gumam Anna bertanya seorang diri kemudian melepas sandal dan menaruhnya di rak.
Ketika masuk rumah suasana tampak lengang. Tidak ada ciri-ciri kehadiran seseorang tamu padahal mobilnya ada. Mertuanya pun tak kelihatan batang hidungnya.
Anna memutuskan naik ke atas, di mana kamarnya berada. Tiba di depan pintu suara senonoh menyambut Anna. Orang dewasa pun tahu apa itu, suara orang sedang bersenggama. Kenop pintu dipegang erat Anna. Jantung berdebar dan pikiran mempertanyakan suara siapa. Pelan-pelan didorong pintu itu dan matanya terbelalak menyaksikan perbuatan menjijikkan.
“Mas Yoshi! Delia!” Jerit Anna tanpa ampun menampar Delia.
“Sa-sayang!” Panik reflek mendorong kasar Delia.
Dalam keadaan telanjang Yoshi cepat turun dari ranjang. Lelaki itu merangkak memungut kemejanya dan celananya. Lain halnya Delia tidak kaget, ia hanya meringis sakit akibat tamparan Anna.
“Sakit tahu, Anna! Ini pipi bukan talenan yang biasa kamu pakai di dapur. Norak tahu!” bentak Delia memegangi pipinya.
“Mana lebih sakit melihat perselingkuhan suami dan sepupunya? Jawab aku!”
“Biasa aja kali.”
Sulit dipercaya belum lama meninggalkan rumah suaminya. Mata dan kepalanya menyaksikan adegan menjijikkan. Jalang berkedok sepupu berhasil menghancurkan rumah tangga yang ia bangun tiga tahun ini. Siapa yang tidak marah? Jika berada diposisi yang sama tamparan keras pasti dilakukan. Rasanya menampar Delia tidak cukup untuk mengadili pasangan zina ini.
“Sadar nggak kamu telah menghancurkan rumah tanggaku?” Membungkam Delia.
Di posisinya berdiri dapat dilihat jelas kasurnya berantakan. Aroma pandan menguar, bercak bening mengotori seprainya. Sungguh ia ingin memaki atau menghabisi Delia bak psikopat. Kepulangan disambut kejutan yang bakal diingat seumur hidupnya.
Tawa miris lolos dari bibir Anna kala mengamati Yoshi terburu-buru memakai kemeja dan celananya. Salah menautkan kancing dan terbalik memakai celana. Bisa apa Yoshi tanpanya?
“Kamu bilang tadi pulang malam dan memintaku untuk tidak menunggumu. Lalu mengapa kamu bawa tamu kita ke dalam kamar?” Anna sebisa mungkin bersikap tenang mengancing ulang kemeja suaminya. Ia masih berharap apa yang dilihatnya salah dan suami segera memberikan penjelasan.
Apa yang dinantikan Anna tak kunjung keluar dari mulut Yoshi. Lelakinya membisu bergantian menatap Anna dan Delia.
“Apa Ibu menyuruh Delia masuk ke kamar? Menggodamu, begitu kah?” tebak Anna menduga mertuanya dalang dari semua ini karena yang paling membencinya hanya Muria.
“Jangan sembarangan, Anna!” bentak Yoshi bersuara juga. Tidak suka Ibunya dituduh sehina itu.
“Kamu marah karena aku menuduh Ibu atau menuduh Delia menggoda suami sepupunya?” tuding Anna menatap sinis Delia yang sedari tadi kesal dianggap tamu.
Delia mengikis jarak, sepupu Anna itu berani menggandeng mesra lengang Yoshi.
“Anna, dengar! Aku gak perlu basa-basi lagi. Jadi yang kamu lihat barusan itu benar, kami memiliki hubungan spesial. Aku bisa kasih apa yang tidak bisa kamu kasih ke Mas Yos. Maaf, Anna. Tapi itulah kenyataannya,” beber Delia mendongak, mengerling nakal ke arah Yoshi.
Selangkah lagi Anna ambruk kalau tidak tangannya memegang ujung meja rias.
“Anna!” Yoshi hendak membantu Anna berdiri. Namun, dicegah Delia merangkul erat lengan Yoshi. Perempuan berwajah malaikat itu tak membiarkan Yoshi mendekati Anna.
“Apa yang tidak bisa aku berikan sampai kamu tega mengkhianati pernikahan kita?” Dalam keadaan begini Anna sanggup bertanya yang pada akhirnya ia tahu akan menyakiti hatinya.
“Aku pengen punya anak,” ungkap Yoshi berusaha lepas dari Delia.
Jika itu alasannya, Anna pun juga ingin memiliki keturunan. Ia telah berusaha selama ini program hamil baru dimulai. Demi Menyenangkan suami, Anna rela melakukan terapi penyuburan. Walau kenyataan rahim Anna sehat tetap ia mau asal Yoshi tenang. Suaminya sensitif bila menyinggung soal kesuburan. Ego dan harga diri seorang lelaki tinggi tidak mau dianggap mandul.
Anna sudah mempersiapkan diri bila kemungkinan yang bermasalah itu suaminya bukan dirinya. Ia akan tetap setia dan memilih jalan lain untuk memiliki anak. Banyak anak yang terlantar, mungkin mengadopsi anak bisa jadi pilihan.
“Kita sedang berusaha, apa Mas tidak sabar menunggu? Dokter pun bilang aku subur bahkan aku gak masalah melakukan penyuntikan hormon.”
“Terlalu lama, Anna! Aku bosan menunggu,” tukas Yoshi memegang kuat dua bahu Anna ketika berhasil lepas dari Delia.
Spontan perasaan Anna hancur berkeping-keping. Benar, suaminya memiliki hubungan terlarang dengan Delia. Tidak bisa Anna menampik kenyataan ini secara tak langsung Yoshi telah menjelaskan semuanya.
“Oh, jadi kamu memilih lumpur kotor ini dibanding aku istri sah. Kamu tahu betul aku sangat mencintaimu, Mas. Tiga tahun bukan waktu yang singkat semudah itu kamu menggantikan aku dengan wanita liar ini!” Saat melirik Delia ekspresi Anna mengeras.
“Kamu tetap jadi istriku. Istri pertama, kita bisa punya anak dari Delia. Aku jamin kamu yang jadi ibu dari anak Delia. Kita berdua yang mengurus dan membesarkannya,” tutur Yoshi seakan-akan pernikahan sebuah mainan.
“Apa? Kamu mau punya dua istri? Tidak Mas, aku gak mau jadi ibu dari bayi yang bukan dari rahimku!” tolak Anna menepis halus tangan Yoshi dari bahunya.
“Jangan egois, Anna! Tolong mengerti posisi aku sebagai laki-laki.”
Apa yang dikatakan Yoshi tidak masuk akal di otak Anna. Sisi tanpa hati baru terlihat sejelas oleh Anna.
“Aku egois?” Menunjuk dirinya.
Delia terperanjat kaget. Di luar rencana, ia tidak mengharapkan dijadikan istri kedua. Delia ingin utuh memiliki Yoshi.
“Kamu kenapa gak jujur aja sih, Mas? Selain mandul, Anna itu gak bisa kasih kamu kepuasan. Dia wanita pasif, apa-apa kamu yang bergerak. Aku jauh lebih baik dari dia di ranjang,” beber Delia menjatuhkan bom atom di saat yang tepat.
“Diam, Delia! Aku gak minta kamu ikut campur!” Yoshi marah balik ke Delia.
Delia mengeluarkan senjata ampuhnya menekan Yoshi.
“Kamu pilih aku atau Anna? Bersama aku, kamu bisa punya keturunan atau kamu bertahan dengan perempuan mandul ini!” Pandangan menghina tertuju pada Anna.
Penderitaan Anna belum usai, Muria datang membawa segenggam api untuk membakar habis keyakinan Anna.
“Pulang juga kamu? Baguslah jadi gak repot-repot Yoshi membuang waktu cari kamu!” ketus Muria berdiri diambang pintu.
“Ibu, sengaja kan menyuruh suamiku mengkhianati aku?”
“Berterima kasihlah sama ibu sudah berbaik hati meringankan bebanmu. Mulai malam ini kamu bukan menantu Ibu lagi.” Mengakui mendukung perselingkuhan anaknya.
“Kalian manusia tidak punya hati!” maki Anna menghancurkan apa yang didekatnya.
“Dasar pengecut!” lanjut Anna mendorong Yoshi ke dinding lemari, memukul kuat d**a suaminya.
Anna dipaksa melangkah keluar oleh Muria. Perempuan yang diberi julukan mertua tega mengusirnya. Setiba di pintu utama, tangan jail Delia mendorong Anna. Sehingga perempuan berkulit eksotis ini jatuh bergulir. Akibatnya, kulit Anna lecet. Bukan saja perih karena luka, tetapi hati remuk.
“Jangan pernah kembali lagi. Sampai jumpa di pengadilan.” Suara Muria hendak menutup pintu.
Yoshi mematung di balik punggung ibunya. Lelaki itu tidak mencegah Anna pergi bahkan saat jatuh bersikap acuh.
“Suatu hari nanti kamu mengemis cinta padaku, Mas!” ucap Anna lirih, tertatih meninggal rumah yang tiga tahun ditempatinya
***
"Aku harus ke mana?" tanya lirihnya kedinginan., bibirnya bergetar menggigil.
Cuaca malam ini sangat dingin, angin bertiup kencang. Kilatan petir pun menggelegar pertanda hujan akan turun. Dalam keadaan kacau ia lupa bawa uang hanya baju yang melekat ditubuhnya.
"Semoga Inez ada di rumah," putus Anna menuju rumah sahabatnya yang jaraknya bisa ditempuh berjalan kaki.
Tubuh dan otaknya lelah setelah keributan tadi hingga Anna pun jatuh pingsan di pinggir jalan. Pingsannya Anna menjadi perhatian pengendara yang sempat lewat lantas menciptakan kerumunan.