Umi Dewi mondar-mandir di depan teras rumahnya, menunggu kedatangan putrinya yang sudah terlalu lama berada di luar. Umi Dewi melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh lima menit. “Nggak biasanya Tara pulang telat. Tadi juga bilangnya cuma sebentar, tapi kenapa sampai sekarang belum pulang? Ke mana putriku perginya,” gumam Umi Dewi cemas. Raut wajahnya yang sudah menampakkan kerutan, semakin terlihat jelas. Terlebih lagi saat Umi Dewi menangis karena merindukan putrinya itu. “Tara, kamu di mana, Nak. Pulang lah ke rumah, Umi rindu,” lirih Umi Dewi. Mbah Uti yang melihat pintu depan terbuka, segera menuju ke sana untuk menutupnya. Namun, Mbah Uti menghentikan aksinya saat melihat Umi Dewi berada di luar rumah. Wanita tua itu segera mengham

