Elsa berjalan mondar-mandir, Harry tidak kunjung sadarkan diri. 2 jam lalu, saat dia diberitahu apa yang terjadi dengan café setelah dia pergi, disitu juga Elsa pulang. Rinaldy bahkan ikut mengantarnya yang hampir pingsan. Pintu terbuka, Elsa menatap Nina yang masuk dengan raut wajah khawatir. Air matanya mendadak menetes begitu melihat wajah sendu Nina. Pelukan yang mendadak dia dapat menggetarkan seluruh jiwanya. Elsa sangat emosional, dan bawaannya ingin menangis terus. Dia tidak bisa mengatakan apapun saat tahu siapa dalang di balik kejadian yang menimpa Harry. “Masih tidak sadar?” “Iya, makasih sudah datang!” “Sudah seharusnya, tapi aku tidak tahu jika mereka akan bertindak sejauh ini. Padahal Christ adalah orang berpendidikan bukan?” “Aku akan mematahkan leher mereka, sungguh a

