7 ~ Jangan tinggalin Abi, Ma!

2028 Kata
Malam ini, Nina lembur lagi. Entah sudah kali keberapa dia mengurung diri di ruangan persegi yang tidak terlalu luas itu. Rinaldy, sepertinya senang melihatnya menderita. Laporan acara yang akan dilakukan untuk projek besar mereka akhirnya selesai. Dia menghembuskan nafasnya legah, bersamaan dengan Jefri. “Gue legah banget, Elsa mana? Kita keknya bisa pulang lebih cepat!” “Ini udah pukul 10 lewat, Jef. Lo mau nongki bentar gak?” Jefri ikut memperhatikan ponselnya, dan memilih untuk mengangguk. Beberapa hari terus begadang benar-benar membuat pikirannya stress. “Oke. Kalo gitu, gue panggil Elsa dulu, dia mungkin bisa ikut sama kita!” Nina berlalu dari ruangan, dan hendak memasuki ruangan Elsa yang harus melewati ruangan Rinaldy lebih dulu. Jantung Nina selalu berpacu dua kali lebih cepat saat melintasi ruangan itu. Tatapan tajam itu, wajahnya yang ketus, benar-benar membuat Nina serba salah. Dia…terkadang tidak bisa profesional dengan pekerjaannya. Klik Nina melebarkan matanya—terkejut, saat pintu ruangan Rinaldy tiba-tiba terbuka. Suasananya tidak berbeda jauh dengan Rinaldy, dia menatap Nina yang ada di depan pintunya. Tapi itu tidak lama, dia lekas mengubah raut wajahnya menjadi datar, sambil memperbaiki posisi Abian yang tengah terlelap. “M…maaf, pak. Saya ha…” Rinaldy lekas melongos begitu saja. Tanpa menghiraukan Nina sama-sekali. Dia berusaha untuk membuat Abian tetap tertidur, sampai mereka tiba di lobby. Setidaknya Abian tidak boleh melihat Nina. Karena hal itu akan berakhir buruk. Rinaldy mempercepat langkahnya, dan berdiri di depan lift. “Ayah!” Suara serak ciri khas orang bangun tidur itu membuat langkah Rinaldy yang hendak memasuki lift tertahan. Dia menatap Abian yang sudah menarik kepala dari bahunya. Wajahnya murung, bibirnya di lengkungkan, pipinya merah, dengan mata yang berkaca-kaca. Yang sedetik lagi siap untuk meraung. “I…iya?” Abian mulai memukul bahu Rinaldy berkali-kali. “Abi mau mama, MAMA!” teriak Abian tepat di telinga Rinaldy. Membuat lelaki dengan wajah kusut itu harus menjauhkan telinganya. Tatapan Abian kebetulan tertuju pada sosok Nina yang baru keluar dari ruangan Elsa bersama dengan gadis itu. Wajah murung itu lekas berubah menjadi ceria. Abian lekas turun dari gendongan Rinaldy, dan berlari menuju ke arah Nina yang tidak menyadari. “MAMA!” Nina terkejut, begitu juga dengan Elsa. Pelukan kecil di kakinya membuat Nina memiringkan kepala untuk menatap siapa pelakunya, juga sosok yang memanggilnya begitu. “Loh…Abi? Kenapa di sini?” seru Elsa, dia berusaha untuk memisahkan Abian yang memeluk kaki Nina erat. “Lepas! Abi mau mama, MAMA!” Abian mulai menangis. Membuat Nina tidak bisa menahan diri. Sebelum bergerak, dia menatap Rinaldy yang hanya menatap mereka di depan pintu lift. Wajahnya begitu kusut, dan penampilannya acak-acakan, membuat Nina menelan ludah kasar. Rinaldy terlihat siap untuk melontarkan kata-kata pedasnya lagi. “Mama!” Helaan nafas Nina terdengar. Dia akhirnya memilih untuk berjongkok, berniat untuk memisahkannya dari Abian. Namun lelaki kecil itu malah bangkit, dan langsung memeluk lehernya erat, memasuki pelukannya dengan isakan yang masih terlihat. Rambut ikal berombaknya tercium harum, aroma yang sama dengan yang Rinaldy pakai. “Abi, kamu kenapa?” “MAMA…ABI MAU SAMA MAMA. AYAH GAK MAU, DIA UDAH JANJI SAMA ABI,KALO ABI BAIK, AYAH BAKAL KASIH MAMA SAMA ABI. TAPI ENGGAK ADA, ABI MALAH…ABI MALAH, MAMA! Jangan tinggalin Abi!” Suasana semakin canggung, terlebih Jefri yang mendengar teriakan bocah kecil itu memilih untuk keluar dan menatap Abian—putra bosnya, yang kini tengah memeluk Nina dengan sangat erat. Seolah pelukan itu adalah pelukan ibunya. “Ni…lo mamanya dia?” Elsa bertanya dengan penasaran. Dia tidak pernah melihat Abian dekat dengan siapapun, termasuk dengan orang-orang di kantor. Bocah kecil itu sangat pendiam, pemarah, dan juga tidak menyukai wanita. Pernah sekali dia mengunjungi ruangan Rinaldy, hendak memberikan laporan. Sayangnya, dia malah keluar dengan kesal. Abian yang kebetulan ada di sana melemparinya dengan maiannya. Hari itu benar-benar hari yang sial untuknya. Jika saja bocah kecil itu bukan putra bosnya, Elsa mungkin sudah membuat bocah itu menangis. Dan melihat bocah itu, kini dengan perbedaan yang drastis, membuat Elsa yakin, jika ada sesuatu di antara bosnya, dan Nina. “Bukan, Elsa. Dia cuman…” “Ikut aku, Abian gak bakal lepasin kamu lagi. Kamu harus tanggung jawab!” Suara rendah, dan berat itu terdengar dari arah belakang mereka. Nina menatap Rinaldy yang menatapnya marah. Nina mencoba untuk melepas Abian. “Abi…kamu ikut ayah ya…kakak mau kerja dulu! Abi mau nurut kan sama kakak?” “MAMA…ABI MAU MAMA. Mama jahat, mama bukan kakak Abi, mama jahat!” Abian berteriak keras, tepat di telinga Nina. Gadis itu tidak bisa berkata-kata, terlebih saat Jefri dan juga Elsa lekas menyuruhnya untuk ikut. Nina hanya bisa menghela nafas, dia bangkit berdiri dengan Abian yang ada di pelukannya. “Iya…tapi Abi jangan nangis ya, biar kakak ikut!” “MAMA!” Bentak Abian. Wajah Nina semakin memerah. Dia menarik nafas sabar, dan menatap Jefri sebentar. “Ntar gue balik ya Jef, sorry banget!” “Iya gapapa kok, santai aja. Jagain anak lo aja baik-baik, jangan…” “Mau ditunggu sampai berapa lama? Kamu bukan pemilik perusahaan ini!” Suara berat itu kembali terdengar, saat ini lebih menyeramkan daripada sebelumnya. Nina lekas beranjak, dan memasuki lift bersama dengan Rinaldy. Mereka turun kebawah, dan berjalan menuju ke arah parkiran. Tidak ada yang mengeluarkan suara sama-sekali. Hingga Rinaldy membuka pintu di sebelahnya. “Masuk!” “Tapi, pak. Saya masih harus bekerja, dan….” “Itu pekerjaan kamu juga!” Nina masih ingin bertanya, namun melihat raut wajah Rinaldy yang semakin datar dan marah, membuat Nina mengurunkan pertanyaannya dan hendak memasuki mobil Rinaldy, dengan Abian yang sudah tertidur dengan tangan yang masih bergantung di lehernya. Mobil mulai menjauh dari area kantor, dan Nina terjebak di dalamnya. Dia tidak tahu kemana Rinaldy akan membawanya. Yang pasti, dia tidak ingin terjebak terlalu lama dalam situasi ini. Mobil Rinaldy berhenti di depan sebuah apartemen elit di kota Jakarta Utara. Lelaki itu turun, dan membuka pintu. Nina masih diam di dalam mobil. Tidak tahu harus berbuat apa, dia masih tidak berani untuk keluar. “Keluar!” “Ini…ini dimana, pak?” “Dimana keberanian kamu yang kemarin? Kamu bahkan neriakin saya di kantor, sekarang sudah manggil ‘pak’ sama saya. Lebih baik kamu gak usah nutup-nutupin tabiat asli kamu yang tidak memiliki harga diri!” Nafas Nina meredup. Dia menatap Rinaldy yang kini berdiri di sampingnya. Nina memilih untuk sabar, ada kalanya dia akan mengatakan semuanya. Dan saat itu, dia tidak akan pernah menerima perminta maafan dari sosok di depannya. Nina lekas turun, dan mengikuti Rinaldy yang sudah pergi seenaknya lebih dulu. “Letakkan saja dia di sofa itu, nanti saya yang akan memindahkannya!” Lagi-lagi Nina dibuat heran. Tadi nada suara Rinaldy benar-benar dingin, dan ketus. Namun berbeda untuk saat ini. Nina memperhatikan Rinaldy yang sudah merebahkan dirinya di sofa juga. Wajahnya sangat-sangat kusut, entah apa yang tengah dia pikirkan saat ini. Tidak banyak membuang waktu, Nina berusaha untuk melepaskan pelukan Abian darinya. Namun baru saja dia hendak beranjak, Abian sudah membuka matanya dan menatapnya marah, matanya bahkan saat ini sudah berkaca-kaca lagi. “Mama mau ninggalin Abi? Mama jahatin Abi!” “Bukan…kakak mau!” “Mama jahat, mama jahat!” Rinaldy membuka matanya yang hampir saja terlelap. Dia menatap Abian yang terus memaksa untuk memasuki pelukan Nina. Hal itu benar-benar membuatnya frustasi. Kenapa takdir begitu main seenaknya untuk mempermainkannya? “Abi…” Rinaldy mendekat, menenangkan Abian yang mulai meronta. Beruntungnya, Abian tidak pernah mau memukul Nina, “Nina harus balik ke kantor, kamu di sini ya…sama ayah!” Puk Nina terkejut saat Rinaldy di tendang oleh Abian. Tangannya ditarik, dan membuat Nina kehilangan keseimbangannya. Dia melebarkan matanya saat mata Rinaldy benar-benar ada di depannya. Dia menindih tubuh lelaki itu. Nina menahan nafasnya, panas mulai menjalar ke pipinya. Dan sebelum hal lain terjadi, Nina hendak bangkit. Sayangnya, dorongan dari atasnya membuat Nina lagi-lagi kehilangan keseimbangan. Abian menaiki punggungnya. Membuat Nina terdorong maju kedepan, dan bibirnya menyentuh bibir Rinaldy yang juga sama terkejutnya. Degup jantung Nina mulai tidak terkendali. Perasaannya mulai terobang-ambing kembali. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa kejadian ini akan terjadi sangat cepat. Nina lekas bangkit, membuat tubuh Abian terjatuh ke sofa. Sayangnya, niat Nina untuk pergi keluar tidak berhasil. Abian berhasil menarik tangannya, dan memeluk tubuhnya erat di sofa. Membuat posisi mereka berdua saat ini kembali tertidur di sofa. *** Rinaldy POV Wajahku masih memerah. Aku benar-benar mengurung diri di kamar sejak kejadian memalukan itu. Tapi, aku jelas tidak bisa begini terus. Menatap ke celah pintu, tatapanku tertuju pada wajah Nina dan juga Abian yang sudah terlelap di sofa. Aku tidak pernah melihat Abian begitu menyukai seseorang. Sejak dia kehilangan mamanya. Dan melihat dia begitu menginginkan Nina, hal itu membuatku khawatir. Khawatir jika Nina akan semakin sering memasuki kehidupanku. Bayangan-bayangan masa lalu yang begitu kelam kembali bergentayangan di dalam pikiranku. Meskipun aku tidak bisa menyangkal, jika aku masih memiliki ‘perasaan’ itu, hingga saat ini. Pertemuan pertamaku dengan Nina benar-benar titik yang mengubah pikiran, dan juga semua kehidupanku. Dia datang seperti ombak, dan menerjang semua kehidupanku yang sudah mulai tenang. Melihatnya, entah kenapa aku selalu ingin marah. Pintu terbuka. Aku berjalan mendekat, dan selimut yang ada di tanganku. Biar bagaimanapun, hal tadi hanyalah kesalahpahaman. Kemungkinan dia juga sudah melupakannya besok. Aku yakin Nina tidak menganggap itu sebagai hal yang penting. Tangan Nina dingin, aku baru ingat jika dia sangat sensitif terhadap udara dingin. Aku jadi merasa bersalah karena langsung meninggalkannya tadi. Tapi itu benar-benar sangat canggung. Apa yang harus aku lakukan jika harus menatap manik indahnya lagi? Bahkan saat ini, wajah tidurnya benar-benar meruntuhkan pertahananku. “Maaf atas tadi, aku tahu aku salah!” Usai menyelimuti mereka berdua, aku lekas beranjak pergi setelah memastikan posisi mereka cukup aman untuk tidur. Juga memastikan suhu AC aku naikkan, setidaknya itu bisa menghangatkan mereka. *** Mata Nina mulai mengerjap. Dia menguap lebar, dan merasakan badannya jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dia tidak pernah tertidur sepulas itu sebelumnya. Terakhir adalah dulu, saat Rinaldy menemaninya tidur. Nina hendak bangkit, namun urung saat merasakan ada yang menindih lengannya, juga perutnya. Nina memperhatikan tangan kecil yang memeluk perutnya erat, juga kepala dengan wajah yang ditutupi rambut ikal itu tengah berada tepat di hadapannya. Senyum Nina muncul. Entah kenapa dia merasa sedikit berbeda dengan situasi seperti ini. Dia tidak pernah bangun dengan ada anak kecil yang tidur di sebelahnya. Hal baru yang tidak pernah Nina pikirkan sebelumnya. Nina hendak bangun, namun pelukan itu semakin erat. Dia memperhatikan pergerakan kecil dari sampingnya. Dan tidak membutuhkan waktu lama, Abian sudah membuka matanya. Lelaki kecil itu langsung menatap wajah Nina yang juga menatapnya. Tersenyum manis, dan mencium pipi Nina. “Pagi Mama!” Perasaan Nina semakin aneh. Dia tidak bisa menahan senyuman di wajahnya. Nina bangkit, dan memeluk Abian. “Pagi, Abi. Apa tidurmu nyenyak?” Abian mengangguk. Dia kembali memasuki pangkuan Nina, dan menciumi seluruh permukaan wajahnya. “Mama cantik, Abi pengen cium!” Tawa Nina meledak, dia tidak sadar jika Abian bisa menggombalinya di pagi hari. Nina kini mengambil alih komando. “Hayoo…siapa yang bilang cantik tadi, hmm? Rasakan ini!” Nina melompat dan menggelitiki Abian yang kini tertawa lepas. Kegiatan mereka terus berlangsung, tanpa menyadari ada yang memperhatikan mereka dari tadi. Rinaldy, yang memang bangun lebih awal ikut tersenyum menatap Abian dan juga Nina. Bahkan sapaan pagi mereka membuatnya iri. Rinaldy tidak pernah mendapatkan sapaan pagi sehangat itu. Dia…selalu sendiri, setelah hubungan mereka berakhir. “Mama…Abi nyerah, jangan, capek mama!” Nina berhenti, dan menatap Abian yang sudah diam. Nafasnya bahkan sudah mulai normal lagi. Nina masih tersenyum. Hal lain yang Nina sayangkan, Abian harus tumbuh besar tanpa merasakan kasih sayang seorang ibu. Nina pernah mendengar dari Elsa jika mama Abian sudah tiada. Namun tidak pernah ada yang berani mempertanyakan lebih jauh pada Rinaldy. “Mama…” “Hmmm?” “Mama tinggal sama ayah saja ya, di sini. Nanti ayah setuju kok kalo mama di sini, Abi gak mau jauh-jauh dari mama. Abi takut mama pergi ninggalin Abian lagi!” Senyuman Nina mendadak berubah menjadi datar. Dia menatap lurus pada Abian yang menatapnya serius. Bahkan perkataan bocah kecil itu benar-benar terasa sudah sangat dewasa. Nina…lemah, dia tidak bisa menghadapi hatinya. Namun, Nina harus menghadapi kenyataan. Sekalipun dia kecewa dengan Rinaldy, bukan berarti dia menginginkan sebuah hubungan yang utuh lagi. Mungkin, lebih baik hubungan mereka hanya seputar pekerjaan. Nina tidak ingin disakiti lagi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN