“Kau menutup kedaimu? Kenapa?”
Nina terheran-heran saat tidak menemukan siapapun di gerai Harry. Bahkan lampunya saja tidak menyala, dan ini jelas bukan hari ulang tahun Harry yang memungkinkan lelaki itu untuk menutup gerai kopinya.
Wajah kusut Harry berubah cerah saat sudah mendapati Nina yang baru saja tiba. Vira tidak bisa datang, dia ada acara di kantor barunya.
“Wajahmu juga menunjukkan bahwa kau tidak baik-baik saja, apa yang terjadi, Harry?”
“Aca…mutusin gue!”
Nina menghela nafas. Usai meletakkan tasnya di atas meja, Nina lekas mengambil piring dan menuangkan beberapa jajanan kaki lima yang tadi sempat dia beli di perjalanan menuju tempat Harry.
Mereka makan dengan henin, tanpa ada bertanya.
Bahkan Harry tidak sadar, rasa ceker ayam yang Nina belikan masih tetap sama. Membuat Harry sampai meneteskan air matanya. Padahal, dia sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak pernah menangis di depan seorang wanita.
Tapi ini, Harry benar-benar mempermalukan dirinya sendiri.
“Aku gak pernah lihat sisi yang ini, Harry. Kamu…pasti bisa kok, kamu kuat!” bisik Nina pelan, sambil menggosok tangan Harry agar lebih baik.
“Kenapa harus sekarang, aku gak pernah nuntut apa-apa dari dia, tapi…kenapa dia campakin aku, Ni? Kenapa? Apa karena aku kurang kaya?”
Isak tangis Harry semakin menjadi. Membuat Nina juga harus sekuat tenaga untuk menahan air matanya. Dia benar-benar tidak bisa bertahan jika seorang lelaki menangis di depannya. Hal itu membuat Nina teringat dengan ayahnya.
“Ni, aku kenapa?”
“Sttt…gak usah pusing, Ry. Kamu pasti bakal dapat yang terbaik. Udah, makan ini dulu!” Nina mengambil satu ceker ekstra hotnya dan menyuapinya pada Harry.
Mereka hanya bisa tertawa lepas setelah sadar apa yang baru saja mereka perbuat. Entah kenapa, Harry benar-benar tidak tahu kenapa dia harus menangis? Padahal, dari tadi dia baik-baik saja.
Ini memang karena pengaruh Nina. Bagi Harry, Nina adalah sosok yang sangat istimewa, dan sangat penting dalam hidupnya. Bahkan masalah pribadi seperti ini, Nina sudah terasa seperti seorang ibu baginya.
Harry pergi sebentar ke belakang untuk menyegarkan pikirannya.
“Sudah lebih baik? Minum dulu, dari tadi nangis, pasti haus!” Nina terkekeh dan menyerahkan sebotol minuman kaleng.
Harry kembali duduk, dan menatap Nina yang masih tetap bersedia untuk bertemu dengannya. Padahal hanya pesan singkat, namun Nina tetaplah menjadi Nina. Gadis yang paling peka, dan tidak akan pernah mengecewakannya.
“Maaf, Ni. Pasti aku ganggu kamu lagi, pasti capek udah kerja seharian.”
“That’s okay, Ry. Aca bukan satu-satunya wanita buat kamu, jika bisa di bilang, kamu itu terlalu baik buat seorang Aca. Kamu mesti dapat gadis yang jauh lebih baik dari kamu.”
Harry hanya bisa tersenyum, dan mengangguk. Perasaannya sudah jauh lebih legah saat dia menangis. Dan yang mengajarinya untuk menangis adalah Nina juga.
***
“Mau di antar, Ni?”
Nina mengambil jaketnya dan menggeleng.
“Kamu beres-beres gerai kamu aja, Ry. Pastiin malam ini kamu buka. Oh iya, aku mungkin bakal telat pulang lagi, soalnya lagi ada projek gede!”
Tatapan Harry tidak terlepas dari Nina yang mengenakan baju santai. Atasan olahraga, dan celana training. Dia tidak pernah melihat seseorang akan bekerja ke kantor dengan mengenakan baju informal seperti itu.
“Ah, hampir saja lupa. Kami bakal kerja lapangan hari ini, makanya make ginian!”
“Pantesan! Motor lagi mogok, Ni. Aku antara sampel halte bus aja gimana? Biar lebih dekat!”
“Oke!”
Nina lekas naik ke motor yang baru dipinjamkan oleh Harry, mereka lekas bergegas ke halte. Setidaknya Nina tidak ingin telat di hari pertama mereka bekerja full time di lapangan.
“Ni, jangan lupa makan siang. Oh iya, kamu sudah tahu kan kondisi Lia gimana?”
Langkah Nina yang hendak memasuki bus terhenti dan menatap Harry.
“Lia kenapa?”
Harry sedikit ragu, dia menatap antrian yang juga sudah memanjang.
“Lia gak papa kok, udah pergi aja sana. Jangan pulang larut lagi!”
Nina hanya mengangguk saja karena dia sudah di dalam bus, dan tidak mendengar dengan jelas apa yang Harry ucapkan. Lambaikan tangan Nina mengakhiri pertemuannya dengan Harry.
Sementara itu, Rinaldy menyipitkan matanya. Entah kenapa, dia berhenti di dalam mobilnya dan memperhatikan bus Nina yang sudah memasuki jalurnya. Lalu memperhatikan sosok lelaki yang mengantarnya.
Tangan Rinaldy terkepal, dia menarik nafas dalam. Berusaha untuk tidak terpengaruh pada suasana hatinya, dan juga masa lalu yang setiap malam membuatnya tidak bisa tertidur.
“Dia bukan urusanku lagi, mau pacaran sama siapapun, aku gak peduli!” guman Rinaldy, lalu lekas melajukan mobilnya di tengah jalanan Jakarta yang sudah pada jam macetnya.
Namun hati Rinaldy tidak bisa berbohong. Ada sesuatu yang terus membuatnya selalu terpikirkan dengan gadis itu. Terlebih kejadian tempo hari, dimana Nina jatuh di atas tubuhnya, dan tidak sengaja membuat bibir mereka saling bersentuhan.
Rinaldy sama-sekali tidak bisa melupakan hal itu. Juga dengan mata bulat yang tidak pernah bisa dia lupakan, dan wajah Nina yang sama-sekali tidak ada berubah saat terakhir kali mereka bertemu.
Sejujurnya, Rinaldy benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Permohonan yang setiap hari dia doakan adalah untuk tidak bertemu dengan orang-orang yang menyakiti hidupnya, dan Nina termasuk salah satu di antaranya.
Dan selama ini, Rinaldy baik-baik saja, kehidupannya damai meskipun tidak bisa dikatakan demikian.
Dan kedamaian hidup Rinaldy kembali terusik saat dia pertama kali bertemu dengan wajah Nina di taman dengan Abian yang entah sejak kapan langsung akrab dengan wanita itu.
Abian tidak pernah bisa akrab dengan gadis manapun yang mencoba merayunya. Mereka akan berakhir buruk. Namun kenapa itu tidak berlaku untuk Nina?
Rinaldy benar-benar dibuat tidak bisa berpikir jernih sampai saat ini.
Bahkan detik ini, dia juga bingung kenapa mengikuti bus yang membawa Nina dari belakang. Benar-benar konyol. Rinaldy tidak pernah sekonyol ini. Kenapa dia menjadi bodoh setelah bertemu dengan gadis itu lagi?
Seharusnya…seharusnya Rinaldy berkeras hati, dan membalas dendam pada gadis itu. Agar Nina sadar telah melukai hatinya sampai ke akar-akarnya.
Rinaldy benar-benar tidak akan pernah bisa memaafkan gadis itu. Dan malam itu, benar-benar akan menjadi kenangan, juga mimpi buruk bagi Rinaldy.
Malam dimana dia mendapati Nina, yang saat itu masih berstatus sebagai kekasihnya, tidur dengan sosok teman baiknya sendiri. Hal itu benar-benar melukai harga diri Rinaldy, dan selalu membuatnya merasa marah jika melihat kedua manusia itu.
Bahkan hingga saat ini.
Dan alasan Rinaldy menerima kembali Nina di perusahaannya adalah untuk membalaskan dendamnya pada gadis itu.
Mobil Rinaldy tiba tepat di depan gedung hotel, memarkirkan mobilnya, dan mendapati semua karyawannya sudah mulai bekerja. Termasuk Nina yang saat ini tengah memasang bagian lampu.
Rinlady melongos pergi.
“Elsa, apa semua karyawan sudah di sini?”
Elsa yang tengah memperbaiki hiasan mengangguk.
“Sudah bos, semuanya aman aja.”
“Oke, gue mungkin agak sibuk, lo bisakan handel produknya? Gua mau masuk dulu!”
“Okay bos!”
Sebelum pergi, Rinaldy kembali memperhatikan Nina yang sama-sekali tidak menoleh padanya. Gadis itu sibuk dengan pekerjannya.
Rinaldy hendak pergi, maunya begitu, tapi melihat anak tangga yang di naiki Nina tiba-tiba bergoyang. Membuat Rinaldy lekas berlari secepat mungkin, dan hup—menangkap tubuh Nina yang terpeleset dari tangga.
Semua tatapan tertuju pada mereka berdua. Nina yang sadar dengan posisi mereka yang tidak seharusnya begini lekas turun, wajahnya merah padam, dan tidak berani menatap ke arah Rinaldy yang tidak mengeluarkan sepatah katapun.
“Siapa yang bertanggung jawab di bagian peralatan?”
Kana, yang sejak tadi masih terdiam melangkah maju dengan wajah tertundur.
“Sa…saya pak, tadi…tadi sa…”
“Kamu mau saya pecat, hah?
Kana melebarkan matanya yang sudah berkaca-kaca. Aura Rinaldy benar-benar begitu menyeramkan. Nafas Kana mulai tidak beraturan, dia yakin sudah memeriksa semua peralatan tadi.
“T…tidak pak, tolong maafkan saya, ini benar-benar di luar kendali saya. Tolong pak, saya…saya!”
“Pergi!”
Semua orang menatap Kana dengan diam, wajah Kana saat ini sudah semakin memerah. Dia tahu jika riwayatnya sudah tamat saat ini. Rinaldy benar-benar tidak akan memaafkannya.
***
Insiden pagi itu membuat semuanya bekerja dalam diam. Nina juga tidak tahu harus berbuat apa, karena pada dasarnya, Kana memang salah.
Aturannya Kana harus memeriksa semua peralatan kerja sebelum digunakan.
“Ni…aku minta maaf, sumpah, tadi semuanya udah baik-baik saja, maafin aku, Ni!” Kana memutuskan untuk meminta maaf pada Nina.
Mereka masih diam, semua tatapan kini tertuju pada Nina dan juga Kana yang duduk di tengah.
Kana masih diam, menunggu respon dari Nina yang tetap diam pada tempatnya.
Nina mulai tersenyum, namun semua yang menatap Nina terdiam saat menatap mata Nina yang berkaca-kaca. Cukup untuk menyiratkan bahwa Nina kali ini tidak baik-baik saja. Entah kenapa Nina jadi teringat dengan hal yang tidak seharusnya dia ingat.
Melihat Kana, entah kenapa Nina jadi kembali teringat dengan Lia, adiknya yang juga cukup ceroboh.
“Ni, kamu gak papa kan?”
Seolah tersadar dari bayangannya sendiri, Nina lekas menghapus air matanya yang tadi sempat keluar dari pelupuk matanya. Bibirnya kembali memancarkan senyuman tulus.
“Maaf…maaf, tadi aku jadi teringat sesuatu. Kamu gak papa, Kana?”
“Aku gak papa, aturannya aku yang nanya, Ni!”
“Aku gak papa kok.”
Senyuman Nina membuat Kana lebih baik. Dan elusan di tangannya membuat Kana kembali merasa jika Nina adalah seorang yang hangat. Dan beberapa saat tadi, Kana sempat merasakan jika ada sesuatu yang berbeda dengan Nina.
Mereka selesai menyiapkan semua pekerjaan. Nina dan Elsa berdiri di depan lobby, Jefri berlari ngos ngosan dari arah belakang.
“Kalian sudah lama?”
“Gak, masih baru selesai juga kok. Lo kenapa lari-lari?”
“Gada, cuman takut kalian nunggu lama aja. Btw, acaranya jadi 2 hari lagi ya? Wah, gue udah sempat khawatir sih sama perlengkapan kita. Beruntungnya siap tepat waktu, btw kalian ntar make pakaian rapi gak?”
“Soal itu, lo harusnya gak nanya lagi, Jef. Lo kan udah ada pengalaman, bukan kayak Nina lagi yang masih butuh pertanyaan itu!”
“Ahh…gue lupa!” Jefri tetawa, dia menatap Nina yang lagi-lagi bengong, “Ni, lo kok bengong lagi sih? Sebenarnya, lo lagi mikirin apa? Dan lo gak mau gitu cerita sama kita hubungan lo sama pak bos? Biar anak-anak gak bertanya-tanya lagi gitu!”
“Anak-anak atau lo, Jef? Soalnya, lo yang terus ngejar Nina soal masalah itu!”
“Ck, bukan gue, El. Gue mah, gak tau juga gak papa kok!”
Elsa memasang wajah kalem. Dia mulai mesem-mesem menatap Nina yang terlihat salah tingkah saat Jefri bertanya. Terlihat seolah tidak ingin menjawab.
Yang ini nih, membuat pikiran Elsa yang memang dari awalnya ada sedikit kotornya jadi melayang kemana-mana.
“Atau jangan-jangan, lo istrinya pak bos ya?”
Uhuk—Jefri terbatuk, dia menatap Elsa terkejut. Bisa-bisanya gadis itu tahu timing yang tepat untuk mengejutkannya. Benar-benar membuat kesehatan Jefri tidak baik-baik saja.
Tapi dia jadi ikutan kepo.
“Apa bener lo istrinya pak bos, Ni? Itu sebabnya Abian manggil lo mama? Aduh…gue harus mikir kesalahan apa yang gue perbuat sama lo. Kalo ada, jangan masukin di hati ya, Ni. Ntar gue dipecat soalnya!”
“Bukannya lo emang mau resign, Jef?”
Elsa menahan tawa saat menatap wajah Jefri yang kembali ditekuk. Lelaki itu benar-benar tidak pernah setia dengan ucapannya.
Sebentar niat untuk resign tinggi, namun sebentar lagi down. Seperti roller coaster, naik turun gak pernah nyangkut.
“Ya…seenggaknya gue masih belum dapat kerjaan baru. Kalo udah dapat, fyi, gue bakal resign kok!”
“Bodo ah, jadi gimana, Ni? Lo belom jawab apa hubungan lo sama…”
“Nina…!”
Teriakan dari arah depan mereka mengalihkan perhatian Elsa dan juga Jefri. Tatapan mereka tertuju pada pemuda yang baru saja turun dari motornya, dan berdiri tepat di depan mereka.
Elsa, dan Jefri saling menatap. Berharap Nina akan mengatakan siapa pemuda di depannya saat ini juga.
“Kenapa kamu kemari, Ry? Ahh…lupa, kenalin El, Jef, dia Harry, teman aku. Dia lagi ngembangin bisnis kopinya, kalo mampir ke Jalan Kerto, bisa benget mampir ke gerainya dia!”
Elsa, dan Jefri tersenyum legah. Seenggaknya Nina ingat untuk mengenalkan temannya itu.
“Aku Elsa!”
“Gue Jefri!”
Harry tersenyum ramah.
“Ada apa?”
“Ah itu, tadi gue pas lewat daerah sini, jadi tiba-tiba ingat kalo lo bilang pulang agak malam. Jadi, sekalian aja gue jemput gitu!”
Elsa kembali memasang wajah curiga dan menatap Nina.
“Sekalian lihat Lia juga!”
“Ah iya. El, Jef, aku pergi duluan. Sampai jumpa 2 hari lagi!”
“Ni, oh iya…besok lo bisa datang bentar kan ke kantor, ada yang mesti kita revisi besok. Elsa juga datang kok ke kantor besok!” ujar Jefri sebelum dia kehilangan apa yang tadi hendak disampaikan.
“Okay, gue balik duluan ya!”
Nina lekas naik ke motor Harry setelah lelaki itu memasangkannya helm. Terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.
Begitulah pandangan Elsa saat ini.
Mobil pesanan Jefri dan juga Elsa juga sudah tiba. Mereka lekas menghilang dengan mobil mereka.
Tidak menyadari jika beberapa menit lalu, Rinaldy memperhatikan apa yang terjadi. Harry yang datang, dan terlihat sangat ramah pada gadis itu.
Rinaldy tersenyum konyol.
“Apa yang gue harapin emangnya dari dia?” gumannya, “mungkin dia sudah punya mainan baru lagi?”